Aku menahan nafas. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Karena sekali nafas saja, dapat menimbulkan suara yang keras. Ruangan ini, tingkat kesunyiannya seperti melihat dia yang sudah bahagia dengan orang lain. Sangat sunyi.
Readers harap maklum.
Aku bersembunyi di balik space kecil yang berada di dekat pintu. Melihat sosok misterius tersebut dengan tenang.
"Dia orang yang sama." Aku sangat mengingat wajahnya. Walaupun tertutup masker, ia adalah orang yang menusuk tanganku malam itu.
"Jangan bergerak, Kieva," ucap Evgen dari seberang sana.
Krinngggggggg
Suara alarm dari koridor membuatku sedikit terkejut.
"Aku yang menghacknya." Evgen berkata dengan santai.
Sosok tersebut pergi, melihat apa yang terjadi. Kesempatan ini aku pakai untuk melihat sesuatu dari balik tirai di hadapanku.
Saat tirai terbuka. Aku menggelengkan kepala tidak percaya. Menatap seluruh rencana yang ada di hadapanku. Aku langsung mengarahkan spy cameku ke arah tersebut. Agar semuanya terlihat dengan jelas. Sehingga akan merekam seluruh gambar yang akan terhubung pada laptop Evgen.
"That's really crazy." Evgen juga tidak percaya dengan ini semua.
"Pembunuhan berencana," ucapku dingin.
Seluruh ingatanku terpecah begitu saja. Serpihan ingatan yang tidak ingin kuingat, muncul.
Tangga. Ternyata di balik tirai ini tidak hanya ada rencana besar yang ditulis di kertas besar. Namun, di balik ini semua, terdapat pintu rahasia. Aku dapat melihatnya dari sisi kiri kertas. Terdapat tombol rahasia yang pernah aku lihat di Gedung FBI.
"Evgen, retas tombol ini."
Evgen terdengar sedang mengetikkan sesuatu dari seberang sana.
"Dapat."
Tombol tersebut memang memiliki sensor sidik jari. Jadi, sekali saja aku memegangnya, ia akan mengeluarkan suara alarm yang merupakan keamanan dari ruangan tersembunyi ini. Sehingga, aku langsung menyuruh Evgen untuk meretasnya.
"That's crazy. Ini hanya tempat untuk membuat orang menjadi lebih baik. Mengapa berbanding terbalik?" gerutu Evgen.
"Pengamanannya. Yang membuat semua ini bukan orang sembarangan," ucapku berbisik.
"Really crazy." Evgen terdengar sangat kesal.
Aku langsung menuju tangga, sepertinya menuju ke ruangan bawah. Terdapat sebuah pintu hitam di depan.
"Ah, ini juga terkunci? Sebenarnya apa yang disembunyikan?" Aku sudah muak dengan permainan ini.
"Wait a minute." Evgen langsung mengetikkan sesuatu. "Can't."
"What?" Aku mulai frustasi. Sudah setengah jalan. Akan sulit keluar apabila sosok tersebut kembali ke sini.
"Pintu ini tidak mudah diretas, kau hanya bisa memasukinya dalam waktu 300 detik. Cepat keluar dari ruangan tersebut, agar tidak menimbulkan alarm. Aku hanya bisa meretasnya secepat itu."
Aku mengangguk. Segera memasuki ruangan, tanpa harus menyentuh apa pun. Sekali saja kumenyentuh sesuatu, akan sangat mudah penjahat tersebut mencariku. Akan semakin sulit juga bagiku untuk menyelidikinya.
Aku memegang senjata di saku dengan erat. Takut-takut terdapat sesuatu yang tidak terduga. Ruangan ini memiliki banyak sekali lorong. Sampai akhirnya, aku menemukan ruangan berwarna biru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Clandestine ( Sudah Terbit )
Mystery / ThrillerApa harus jadi penjahat agar bisa dihargai? Titik tengah kuhancurkan dengan satu peluru. Aku menembakkan peluru kedua di tempat yang berbeda. Almond eyesnya menatap tajam. DOR "Two points." Lagi-lagi, aku menghantamkan peluru kedua dengan tepat. "G...
