20

5 0 0
                                        

Nura.

Tidak tinggal diam. Aku berusaha menembak pintu ruangan.

"What are you doing?" Evgen terdengar panik.

"Nura di dalam."

"WHAT!" Evgen terlihat terkejut.

"I can't just see in here."

"Jangan gegabah."

Aku tidak bisa tinggal diam. Melihat Nura yang pingsan di bankar itu.

"Tunggu sampai dia memasuki ruangan tersembunyi lagi. Aku melihatnya dari spy came yang kau letakkan di sana."

Aku langsung mengeluarkan Zrc 10. Menggenggamnya erat.

"Who are you?" Aku sedikit kesal dengan sosok tersebut.

"Ia memasuki ruangan di balik tembok. Sepertinya that's the room."

Cklek, pintu terbuka. Membawaku ke dalam laboratorium biru lagi. Melihat berbagai macam organ tersembunyi.

"Ashh, i can't open that's room," kata Evgen dengan frustasi.

"What?"

Aku tidak dapat diam saja. Nura sedang dalam bahaya.

DOR
DOR
DOR

Tembok tersebut ternyata mudah dijangkau dengan pistol canggihku. Memperlihatkan sebuah ruangan, seperti ruang operasi di dalamnya. Mengingatkanku pada something.

"This is same, Evgen."

Aku tidak tinggal diam. Terus menembakkan peluru. Hingga merusak beberapa ornamen laboratorium.

Terbuka. Ruangan di balik tembok terbuka. Aku tidak tahu mengapa, banyak sekali ruangan tersembunyi di dalam tempat ini.

"BE CAREFUL." Evgen memperingati.

Aku menempelkan peluru ke kepala sosok misterius dari belakang. Ingin sekali membunuhnya sekarang juga.

"What are you doing!" kesal sosok tersebut.

"Can't see?" senyumku sinis.

"What do you want!" Ia masih membelakangiku.

"Aku bukan maling yang dapat disogok!" Emosiku memuncak. Melihat Nura yang masih pingsan.

"Awas!!" Evgen memperingatiku, saat sosok tersebut memutar tubuhnya dan hampir membunuhku dengan pisau bedahnya.

"Slow down, Mr."

Sosok tersebut terus-menerus ingin menyakitiku. Menusukkan beberapa target tubuhku. Namun, aku selalu berhasil menghindarinya.

"To be honest, aku ingin sekali membunuhmu saat ini juga, namun sepertinya tidak seru," ucapku smirk.

"Shut up!!" tegasnya.

"KIEVA, go out!" Evgen terlihat berlari, aku dapat mendengarnya melalui spy earphones.

Aku tidak menghiraukan Evgen dan terus menatap sosok tersebut kesal.

"That's you, right?" ucapku dingin.

Sosok tersebut sama dengan orang yang melukaiku saat pergi dari rumah Nura.

"Did you know me?"

"We meet again, Mr." Aku tersenyum sinis.

Kami bertengkar menggunakan kemampuan masing-masing. Ia tidak bisa diremehkan, kemampuan bela dirinya sangat luar biasa. Serta pisau tajamnya yang membuatku muak.

Clandestine ( Sudah Terbit )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang