Apa harus jadi penjahat agar bisa dihargai?
Titik tengah kuhancurkan dengan satu peluru. Aku menembakkan peluru kedua di tempat yang berbeda.
Almond eyesnya menatap tajam.
DOR
"Two points."
Lagi-lagi, aku menghantamkan peluru kedua dengan tepat.
"G...
Hari kedua melakukan penelitian. Kali ini aku tidak yakin, firasatku tidak enak. Aku berharap, semuanya berjalan dengan semestinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku memakai jas biru dengan kaus putih, dipadukan dengan celana yang senada. Serta hijab biru yang senada.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebaliknya, Evgen terlihat sangat casual. Gaya mudanya membuatku malas untuk melihatnya. Sebenarnya, aku sangat tidak ingin menaiki mobilnya. Kenangan buruk masih tertanam di dalam otakku.
Namun, Evgen langsung membuka pintu mobil. Aku yang tidak memiliki pilihan lain, hanya memasuki mobilnya dengan malas. Kami terlibat perang dingin sekarang.
Mobil dilajukan dengan kecepatan sedang. Sunyi. Bahkan, angin saja tidak terdengar.
Aku hanya memfokuskan pandangan ke depan. Melihat jalanan demi jalanan terlewati. Indahnya pohon, melewati kami satu per satu. Ternyata, perang dingin lebih membuatku tenang, dibandingkan harus berdebat.
Aku menarik nafas dalam. Menghirup ketenangan di dalam mobil ini.
"This is better," bisikku.
Entah kenapa, aku malah terasa mengantuk. Semalam, aku hanya tidur selama dua jam. Malam kuhabiskan di hamparan bunga Magnolia yang indah. Menikmati kesunyian yang membuatku sangat tenang.
Ya, aku suka kesunyian, tidak ada keributan, semuanya terasa tenang.
"Tangkap aku, Mom." Gadis kecil yang bahagia, namun malang.
Berlarian melintasi lautan rumput yang terlihat hijau. Menikmati indahnya malam, diliputi dengan cahaya bulan.
"Magnolia, kamu mau ke mana, Nak?" Ia berlarian mengejar gadis malang tersebut.
"Tangkap aku, Mommy." Senyumnya yang menawan, mengalahkan cahaya bulan.
"Akan Mommy kejar." Mereka berlarian dengan indahnya, melintasi cahaya demi cahaya malam.
Gadis kecil tersebut terduduk lelah. "Mom, aku ngantuk."
"Kamu tidur ya, sayang." Ia memeluk gadis malang tersebut dengan erat. Meneteskan air mata, sambil mencium, serta mengelus rambut gadis malang dengan lembut.