5

8 0 0
                                        

Aku membuka mata dan melihat sekeliling. Halton sedang tidur di sofa samping bankar tempat tidurku.

"Halton, what are you doing in here?" tanyaku bingung.

"Owwh morning, how are you?"

"Come on, i ask you first." Aku kesal dengan Halton.

"Are you okay now?" tanyanya penasaran.

"Okey, don't be panic." Aku tidak suka jika seseorang terlalu over panic kepadaku.

Kurasa, sekarang aku juga sudah baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Huh, okey wanna breakfast?" tanyanya.

Halton ini perhatian sekali.

"Halton, why you always care with me?" Aku penasaran.

"You are my Sister. Mana mungkin aku tidak perhatian."

"I wanna go from here." Aku berusaha pergi dan menuju pantry.

"Waiting me!" teriak Halton.

Namun, saat kubuka pintu. Aku terkejut dengan kehadiran Evgen. Ia tertidur di kursi tunggu.

Halton yang bingung, membangunkan Evgen dari tidurnya.

"What are you doing in here?" tanya Halton kepada Evgen.

Evgen terkejut dengan kehadiran kami dan langsung berdiri.

"Mm sorry, i just wanna know," ucap Evgen.

"But, first i wanna apologize to you. Sorry karena aku sudah berfikir bahwa kau yang mencelakakan Kieva." Halton meminta maaf kepada Evgen.

Evgen yang terlihat bingung, hanya mengerutkan dahi heran.

"Dia hanya ingin meminta maaf karena menuduhmu and thanks for help me," ucapku.

"No need, ok i will go, bye." Evgen langsung meninggalkan kami dengan wajah yang tidak bisa ditebak.

"What happen with him?" bingung Halton.

Aku tidak peduli dan melanjutkan langkahku ke pantry.

"I wanna rice."

Aku menemukan nasi goreng instant dan memasaknya.

"Enak." Aku terus memakannya dan meminum mineral water.

Aku harus tetap sehat. Sebentar lagi, aku akan terjun ke dunia yang terkadang membuatku gila. Dunia seseorang yang harus dituntaskan. Namun, ini semua pekerjaanku. Aku tidak bisa memilih kasus apa yang harus kutangani.

"Kieva, i will go dan harus melatih. Are you okey if alone?" tanya Halton, yang sepertinya ingin pergi untuk melatih tembak-menembak.

"It's okey, like in the past. I always alone, right?" Aku masih memakan nasi goreng dengan santai.

"I'm sorry." Halton seperti merasa bersalah.

"That's just in the past, never mind." Aku harusnya tidak berkata seperti itu.

Namun, sejak semalam, masa laluku mulai menghampiri satu per satu. Membuatku merasa mual jika mengingatnya. Rasanya, aku hanya ingin amnesia dan melupakan semuanya. Semua masa kelam yang pernah kualami.

___

Aku mulai berlatih dan berlatih. Tanganku yang diperban, bukan berarti tingkat penembakanku menurun. Aku tidak bisa hanya beristirahat dan terlihat kesakitan. Itu bukan diriku.

Clandestine ( Sudah Terbit )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang