Jenderal memasuki ruangan tempat kami berada.
"Kieva, how are you doing now?" Jenderal terlihat cemas.
"I'm better, Jenderal."
Semuanya terlihat berdiri sigap.
"Syukurlah, saya sempat menyiapkan beberapa pasukan."
Aku tersenyum. "Tidak perlu seperti itu Jenderal, saya akan baik-baik saja."
"Guys, kalian juga jangan sampai kenapa-kenapa," ucap jenderal cemas.
"Baik, Jenderal," ucap mereka serempak.
"Jenderal ingin es krim?" Halton bertanya dengan santai.
"Tidak perlu, Halton. Kalian saja, terima kasih."
"Baik, Jenderal."
Halton berbicara lebih santai, karena ia merupakan pelatih dan lebih sering bertemu dengan Jenderal Gior. Membuatnya terlihat akrab dibandingkan yang lainnya.
"Baik, saya permisi terlebih dahulu." Jenderal Gior meninggalkan kami.
"Terima kasih, Jenderal."
"Nih, ada buah-buahan dari Jenderal." Halton meletakkan parsel ke meja samping bankarku.
"Do you wanna eat?" Halton memberikan apel kepada Nura.
"No, Sir. Thanks," balas Nura.
Aku menahan tawa. Mendengar perkataan Nura.
"Don't call me like that. Aku tidak setua itu."
"Kau memang tua," ucap Evgen menyambar.
"Yeah, kau cocok dipanggil dengan sebutan, Sir." Aku membalasnya tak kalah kejam.
"Kalian bersengkokol, ya?"
"Ini memang perkumpulan anak muda, Halton. Kau seharusnya tidak di sini." Aku berkata sarkas, sambil menahan tawa.
"Kau jahat sekali, Kieva."
"Sorry," ucap Nura merasa bersalah.
Aku menatap Nura. "Kau tidak perlu meminta maaf, Nura. Di sini memang semuanya memanggil Halton dengan sebutan, Sir."
"She is lie."
"Sudahlah, aku sudah tidak kuat menahan tawa."
"Lagi pula umurku masih 26 tahun, belum pantas disebut tua," kesal Halton.
"Namun, kau lebih dewasa dari kami, Sir," sarkas Evgen.
"Huh, sudahlah." Nura terlihat lesu.
"What happen with you?" tanya Halton.
Aku masih tidak enak hati dengan Nura, karena tidak sengaja memeluk Evgen.
"Nothing, sepertinya aku harus ke rest room." Nura bangkit dari sofa.
Aku tidak ingin membuat Nura salah paham.
"Halton." Aku memberikan Halton isyarat.
Halton menggelengkan kepalanya lemah. Ia seperti berkata bahwa semuanya takkan berubah, jika Halton mengejar Nura. Halton terlihat putus asa sekarang.
Aku tidak pernah melihat seorang Halton putus asa seperti ini. Sikapnya yang selalu percaya diri, membuatku sedih ketika ia seperti ini. Bertepuk sebelah tangan memang sulit.
"Apa yang terjadi di sini?" Evgen terlihat bingung menatap kami.
Ini akan sulit, karena tokoh utamanya sedang berada di sini. Aku bingung ingin mengatakan apa kepada Evgen.
KAMU SEDANG MEMBACA
Clandestine ( Sudah Terbit )
Misterio / SuspensoApa harus jadi penjahat agar bisa dihargai? Titik tengah kuhancurkan dengan satu peluru. Aku menembakkan peluru kedua di tempat yang berbeda. Almond eyesnya menatap tajam. DOR "Two points." Lagi-lagi, aku menghantamkan peluru kedua dengan tepat. "G...
