"Jagad, ayo sarapan. Keburu siang."
Teriakan wanita 39 tahun itu menggema ke seluruh penjuru rumah. Meski hanya diisi 2 orang plus asisten rumah tangga tapi tentu saja masih menganggu. Tak lama seorang anak laki-laki dengan seragam SMA nya turun dari arah tangga.
"Iya bu, lagian baru jam setengah tujuh tapi udah teriak teriak. Malu didenger tetangga. Dikirain lagi ribut"
Wanita yang dipanggil ibu itu sudah hafal betul. Pasti putranya itu akan mengomel panjang lebar. Padahal diluaran sana anak itu terkenal pendiam dan irit ngomong. Tapi kalau di rumah, beda lagi.
"Ya emangnya ke sekolah kamu itu cuma semenit. Lima belas menit, Gad. Itu Pak Yudi udah nungguin dari tadi"
Jagad yang sudah duduk di kursi makan hanya mendengus lantas menyuap nasi goreng yang sudah sedari tadi ditata rapi di meja oleh Mbak Diah, ART di rumahnya.
"Nanti pulang mau dijemput apa naik ojek online"
Jagad masih asyik menyuap nasi gorengnya, berhenti sejenak.
"Naik ojol aja lah bu. Kalo ngak, bisa naik busway"
"Oke. Kamu lagian kenapa sih nggak mau bawa mobil aja. Kan gak perlu antar jemput, naik ojol apalagi busway"
Ibu Jagad memang sudah menawari putra semata wayangnya itu untuk beli mobil baru semenjak anak laki-laki itu genap berusia 17 tahun. Disaat orang tua lain masih melarang anak anaknya berkendara karena takut terjadi apa-apa, beda dengan ibu Jagad yang justru mau anaknya naik kendaraan sendiri. 'Sudah punya KTP sama SIM kan' begitu argumen ibunya. Ibunya juga kasian anaknya harus antar jemput atau pulang pergi naik kendaraan umum. Tapi Jagad menolak mentah mentah tawaran itu. Selain harus keluar uang untuk beli mobil baru yang menurut Jagad sangat tidak perlu, ia juga terbilang baru punya KTP Dan SIM. Biar dulu seperti ini, dia masih suka seperti ini.
"Jagad udah bilang, cuma ngabisin duit kalo beli mobil lagi"
"Tapi kan ibu masih sang-"
"Udahlah bu. Jagad mau berangkat. Katanya kasian Pak Yudi udah nunggu."
Ibunya itu pun ikut beranjak keluar rumah, menyusul sang putra yang sudah lebih dulu. Di depan rumah Jagad hanya menyapa supir keluarganya itu lalu masuk ke mobil setelab lebih dulu mencium tangan sang ibu dan berpamitan.
-----
Jagad Manendra. Begitulah anak laki-laki itu diberi nama. Jagad adalah putra semata wayang pun ia satu satunya yang dimiliki sang ibu. Ayah Jagad meninggal akibat kecelakaan mobil saat usianya genap dua tahun. Sejak itulah ia tinggal berdua dengan sang ibu. Tak benar benar berdua. Ada Mbak Diah asisten rumah tangga yang ikut tinggal di rumahnya dan juga Pak Yudi yang setiap hari datang entah untuk mengantarnya ke sekolah atau mengantar ibunya ke toko kue. Sang ibu memang memutuskan untuk tidak menikah lagi meskipun usianya masih terbilang muda. Iya sang ibu menikah muda dan melahirkan Jagad diusianya yang ke 21.
Jagad bukan anak yang mudah bergaul. Ia cenderung pendiam dan kalau kata teman temannya irit ngomong. Tapi beda lagi jika di rumah terlebih ketika ibunya mulai mengomel, ia akan sama bawelnya dengan sang ibu. Ya, inilah salah satu sifat yang diwarisi Jagad dari sang ayah. Pendiam diluar tapi jika bersama seorang yang dekat denganya ia bisa cerewet juga
------
Sampai di depan sekolah, Jagad hanya mengucap terima kasih lantas keluar dari mobil kemudian bergegas menuju kelas. Sampai di kelas Jagad langsung duduk di mejanya yang Ada di paling pojok belakang tepat di bawah jendela. Belum lama dia duduk dengan tenang, Jagad sudah terganggu dengan suara berisik dari dua anak laki-laki yang meneriakkan namanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JAGAD
Fiksi Penggemar"Janu, kamu harus lepasin dia. Kamu juga berhak bahagia. Jagad juga mau lihat kamu bahagia" "Janu, kamu bilang Jagad itu semestamu. Tapi asal kamu tau, kamulah semestaku" Main character: Jay sebagai Jagad Manendra Jungwon sebagai Janu Ekawira [6 Oct...
