BAGIAN 11

201 28 0
                                        

Bagian ini dan beberapa ke depan adalah cerita dari sisi Jagad

JAGAD

Jagad bergegas menuju kantor guru setelah Tama memberi tahunya tadi. Sesampainya di kantor guru, matanya langsung menangkap presensi seseorang. Jagad terkesiap saat melihat siapa yang berdiri di depan meja Pak Aryo. Meski hanya dari belakang, ia tau persis siapa orang itu.

Jagad menelan ludahnya sebelum mendekat ke arah meja Pak Aryo. Jantungnya berdegup cepat seiring dengan langkahnya yang semakin dekat. Jagad betdiri sejajar dengan seorang siswa yang tadi ia lihat. Matanya menengok sekilas ke arah orang di sampingnya.

'Cantik' batinnya.

-----

Jagad tengah duduk di kamarnya. Matanya tertuju pada dua buah benda di hadapannya. Satunya adalah HP miliknya dan satu lagi buku sketsanya. Dua benda itu memperlihatkan satu objek yang sama namun dalam wujud berbeda. HPnya menunjukkan sebuah nomor telefon dan bukunya menunjukkan sebuah gambar sketsa wajah. Meski berbeda bentuk, keduanya memiliki nama yang sama.

Janu.

Iya, nomor telefon itu milik Janu yang tadi sempat anak itu berikan padanya. Sementara gambar sketsa wajah Janu adalah milik Jagad yang sempat ia gambar beberapa waktu lalu saat ia lihat anak itu tengah duduk tenang di perpustakaan sekolah.

Jagad menatap kedua benda itu dengan lama sekali. Ia termenung memperhatikan kedua hal tersebut. Ia masih mempertanyakan bagaimana takdir bekerja untuknya. Dirinya yang hampir pasrah dengan perasaannya untuk laki-laki manis itu, kini justru dihadapkan pada sebuah peluang untuk mempertahankan perasaannya.

"Jagad"

Jagad tersentak saat mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh ke belakang dan sudah ada ibunya berdiri disana.

"Loh ibu. Kapan dateng ?"

"Dari tadi ibu tuh panggilin kamu. Tapi kamunya malah bengong. Ngeliatin apaan sih ?"

"Bukan apa-apa bu"

Alia yang mendapat jawaban lantas melongok ke arah meja belajar di depan Jagad.

"Oalah. Janu ?"

Jagad hanya menganggukkan kepalanya.

"Kenapa ?"

Jagad kembali menatap dua benda di atas mejanya.

"Jagad diminta buat bantuin Janu persiapan lomba debat bu"

"Wah bagus dong"

"Hm"

Meski Jagad ekspresi datar, Alia pahan betul putra semata wayangnya itu.

"Ada apa lagi ?"

Jagad menghembuskan nafasnya pelan.

"Jagad pernah bilang sama Ibu kalo Jagad bakal lupain Janu. Kalo Jagad deketan sama Janu gimana aku mau lupain dia bu"

Alia tersenyum. Ia mendekat lalu menyentuh  kedua bahu Jagad.

"Jagad. Ibu nggak pernah nuntut kamu buat lupain Janu"

"Tapi bu-"

"Gad, iya mungkin ibu pernah kecewa sama kamu. Ibu marah sama kamu. Tapi bukannya Ibu udah maafin kamu waktu itu. Ibu juga udah nerima kamu. Mau kamu suka sama cewe kamu suka sama cowo. Asal itu adalah hal yang bikin kamu bahagia, Ibu terima"

Jagad terdiam.

"Jagad. Semua hal ini nggak akan ngubah kenyataan kalo kamu itu anak Ibu. Ingat itu"

JAGAD Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang