Tepat empat puluh hari sudah Jagad pergi meninggalkan orang-orang terkasihnya. Alia memutuskan pindah dari rumah yang hampir tiga belas tahun terakhir ini ia tinggali bersama putra semata wayangnya. Rumah itu penuh kenangan, jadi Alia tak berniat menjual rumah itu ia hanya ikut tinggal orang tuanya. Ia butuh sedikit waktu untuk menata kembali hidupnya tanpa Jagad. Rumah itu akan tetap diurus Pak Yudi dan Mbak Diah.
Jake, Yasa, Shaga, dan Randika datang membantu. Mereka datang pagi-pagi sekali untuk membantu Alia mengemasi barang-barang. Janu baru datang sedikit lebih siang diabndingkan teman-temannya. Ia datang diantar Adanu.
"Selamat pagi Tante"
Sapa Janu pelan.
Alia dan yang lain pun menoleh ke arah pintu.
"Loh Janu juga dateng"
Alia mengulas senyum tipis.
"Iya, tante maaf"
"Nggak papa"
Setelahnya Janu menyapa Pak Yudi dan Mbak Diah serta teman-temannya.
"Tante, boleh Janu beresin kamar Jagad"
Tanya Janu hati-hati.
Senyum halus kembali mengembang di wajah Alia.
"Boleh. Kalau ada yang mau kamu simpan juga boleh kamu bawa"
Setelah mendapat persetujuan dari Alia, Janu lantas naik ke atas. Menunu kamar Jagad.
Janu membuka pintu kamar Jagad. Kakinya perlahan melangkah ke tengah ruangan. Dipandanginya satu persatu sudut ruangan itu. Masih sama seperti terakhir kali ia datang ke tempat ini. Kenangan demi kenangan di kamar itu perlahan mulai berputar di otak Janu. Seketika Janu menghembuskan nafas berat. Semua tentang Jagad membuat hatinya perih. Ia pun mulai membereskan barang Jagad satu persatu. Sampai tak lama ia terduduk di meja belajar Jagad.
Ia meneliti satu persatu buku yang tertata rapi di atas meja. Sebuah laptop, kotak tempat alat tulis, dan beberapa lembar kertas berserakan di atas meja. Tanganya perlahan beralih pada laci di bawah meja. Ia menarik laci paling atas. Matanya langsung menemukan sebuah buku sketsa milik Jagad. Janu ambil buku itu. Jari lentiknya mengusap halus cover buku itu. Perlahan ia mulai membuka lembar demi lembar buku di tangannya.
Meski Janu sudah pernah melihat isinya tapi masih bisa membuatnya terkejut. Ia ingat betul betapa tersentuhnya ia melihat goresan pensil dari tangan Jagad membentuk siluet wajahnya. Buku itu penuh dengan gambar wajahnya. Hatinya mulai terasa berdenyut. Tangannya gemetar. Matanya yang indah mulai berkaca-kaca, mengingat bahwa pemilik buku itu tak lagi di sisinya. Janu mengusap wajahnya kasar. Janu rindu Jagad.
-----
Setelah selesai membereskan kamar Jagad, Janu turun ke bawah. Disana terlihat teman-temannya tengah duduk di ruang tamu, berbincang bersama Alia. Barang-barang pun sudah mulai diangkut ke mobil di luar.
"Tante, kamar Jagad udah selesai Janu beresin"
Alia yang tengah berbincang dengan teman-temannya pun menoleh ke arahnya.
"Makasih ya Janu. Biar Pak Yudi nanti sama yang lain angkutin ke mobil"
Alia memperhatikan kotak yang dibawa Janu. Ia lantas berdiri dan menuju kamarnya. Tak lama ia kembali dengan kotak berwarna biru langit yang lebih kecil dari kotak yang dibawa Janu.
"Kamu cuma bawa itu aja, Jan ?"
Tanya Alia yang baru kembali dari kamarnya.
"Iya, tan. Ini juga ada beberapa barang Janu"
KAMU SEDANG MEMBACA
JAGAD
Fanfic"Janu, kamu harus lepasin dia. Kamu juga berhak bahagia. Jagad juga mau lihat kamu bahagia" "Janu, kamu bilang Jagad itu semestamu. Tapi asal kamu tau, kamulah semestaku" Main character: Jay sebagai Jagad Manendra Jungwon sebagai Janu Ekawira [6 Oct...
