"Soal aku suka sama kamu"
Jagad terdiam mendengar ucapan Janu. Dirinya masih sibuk memandang wajah manis Janu.
"Iya, terus ?"
Mata Janu sedikit melebar mendengar Jagad.
"I..itu. Kamu nggak mau jawab atau ngomong sesuatu"
Janu sedikit tergagap.
"Lo emang nanya sesuatu ke gue ?"
Janu terkesiap. Ia baru sadar selama ini dia hanya membuat pernyataan. Dan jika dilihat lagi sebuah pernyataan tidak sepenuhnya perlu untuk ditanggapi apalagi dijawab. Janu memberi pernyataan bukan jawaban. Seketika Janu menunduk malu.
"Lo nggak pernah nanya apapun ke gue jadi nggak ada yang perlu gue jawab. Dan pernyataan lo juga kayanya nggak wajib gue tanggapi"
Dalam hati Janu membenarkan perkataan laki-laki itu. Kepalanya pun semakin menunduk dalam. Janu tak tahu harus berbuat apa sekarang.
"Terus sekarang lo nggak mau nanya sesuatu ke gue ?"
Kepala Janu spontan mendongak. Ia arahkan pandangannya pada Jagad yang duduk di sampingnya. Laki-laki itu tengah memandang datar lurus ke depan. Janu agak termenung, menimang pertanyaan atau mungkin lebih tepatnya tawaran yang diberikan Jagad.
"Jan"
Panggilan itu membuat Janu tersadar.
"Em aku...aku ada pertanyaan"
"Silakan"
Janu terdiam sejenak.
"Kamu...gimana perasaan kamu ke aku ?"
Hening. Jagad masih diam. Kini Janu kembali menundukkan kepalanya. Mereka berdiam diri selama beberapa menit sebelum akhirnya ucapan Jagad memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Gue suka sama lo"
Janu kembali dibuat terkesiap. Ia tidak salah dengar kan ?
Untuk beberapa saat Janu memandang wajah bersih Jagad yang masih memandang lurus ke depan. Janu mencoba mencari kebenaran ataupun kebohongan dari ekspresinya. Tapi ia tak dapat menemukannya. Iya, inilah salah satu hal yang baru Janu sadari. Jagad itu sulit ditebak.
Janu menghela nafas lalu membuang pandangannya ke depan mengikuti arah Jagad. Keheningan kembali tercipta. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Gue suka sama lo"
Janu tak bergeming.
"Aku udah denger tadi"
Hening.
"Gue suka lo lebih dari sekedar temen"
Kali ini Janu bergeming. Jantungnya berdetak lebih cepat. Apa itu tadi ?
Janu termenung kembali. Otaknya masih memproses semua yang baru saja ia dengar. 'Tunggu, ini bukan mimpi kan?', batin Janu.
Belum selesai Janu memproses semuanya lengannya lebih dulu ditarik oleh Jagad. Hal itu membuat tubuhnya seketika menghadap Jagad. Mata Janu melebar tatkala ia merasakan sesuatu menyentuh bibirnya. Jagad menciumnya. Bukan lebih tepatnya mengecup bibirnya.
Janu mengerjapkan matanya saat Jagad menarik diri dari dirinya. Jagad menatap wajah Janu yang masih diliputi kebingungan dan keterkejutan. Spontan Jagad menarik bibirnya membentuk sebuah senyum yang belum pernah Janu lihat sebelumnya. Inilah satu hal lagi yang ia baru ketahui dari Jagad. Senyum hangat nan indah Jagad. Mata elangnya yang biasa terasa dingin kini nampak seolah ikut tersenyum. Seketika Janu ingin melebur saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
JAGAD
Fiksi Penggemar"Janu, kamu harus lepasin dia. Kamu juga berhak bahagia. Jagad juga mau lihat kamu bahagia" "Janu, kamu bilang Jagad itu semestamu. Tapi asal kamu tau, kamulah semestaku" Main character: Jay sebagai Jagad Manendra Jungwon sebagai Janu Ekawira [6 Oct...
