di tengah kota Norden tepatnya di pusat kota Norden, Ainsley dan pelayannya sedang berbelanja.
Sebenarnya Ainsley masih belum diperbolehkan untuk keluar senderi tapi karna saat itu Ainsley bersikeras ingin ke pusat kota sedangkan Layna dan Davis sudah memiliki agenda tersendiri maka mereka mengizinkan Ainsley pergi dengan Emma, kepala pelayan keluarga Carson dan orang kepercayaan Layna. Dan juga beberapa pengawal yang ditugaskan secara diam-diam atas perintah Davis.
Walaupun mengizinkan putri mereka keluar sendiri tapi pengawalan yang ditugaskan juga sangat ketat, walaupun dilakukan secara diam-diam karena mereka tau bahwa Ainsley tidak suka dikawal oleh banyak pengawal.
Saat ini Ainsley berpakaian seperti rakyat biasa tidak menggunakan gaun berat, berlapis banyak dan berpita. Ainsley merasa nyaman dengan ini, ia bisa bebas bergerak kesana-kemari dan juga terasa ringan. Untuk mengihindari bertemu dengan orang yang dikenalnya maka ia menggunakan tudung sehingga akan sulit dikenali.
Ia memang sengaja merengek kepada orang tuanya saat ini karna tau jadwal Layna dan Davis. Bila ia meminta lain hari pasti tidak diizinkan dan harus ditemani oleh salah satu dari mereka.
Memang dari awal Ainsley ingin berpegian sediri, walaupun masih ada Emma disampingnya.
“pertama-tama kemana kita akan pergi nona?” tanya Emma.
“ayo kita berkeliling dulu Emma setelah itu baru memutuskan.” Rencana Ainsley memang bukan belanja hanya untuk keluar dari kediamannya saja. jadi ia tidak memiliki rencana apa-apa di awal.
“baik nona, sebaiknya kita kesana disana banya toko yang menarik.” Ajak Emma untuk menyusuri jalan yang ditunjuknya, Ainsleypun mendengarkan apa kata Emma lagi pula ia tak mempunyai tujuan.
Saat berkeliling ia melihat toko roti yang ramai pembeli, iapun mengajak Emma untuk melihat sebentar dan melihat apakah menarik minatnya untuk membeli atau tidak karna ia berencana mencari oleh-oleh.
Saat Ainsley masuk kedalam toko ia disuguhkan dengan kue dan roti yang cantik berbagai bentuk dan membuat Ainsley teposona. Sebagi pecinta roti tentu saja ini menjadi godaan terbesar untuk tidak membeli semuanya.
“Emma ayo kita beli.” Ainsley menarik Emma dengan tidak sabar untuk segera membeli kue. Emma yang melihat tingkah nona mudanya itu tersenyum hangat, searasa ia melihat kilau dimata nonanya itu.
Walaupun Emma merasa Ainsley lebih dewasa dari pada anak seusianya tapi saat bersinggungan dengan suatu yang ia sukai maka akan terlihat sifat anak-anak pada diri Ainsley.
Mungkin itu naluri dari tubuh asli Ainsley sendiri lagi pula jiwanya berusia dewasa sekarang. Tidak mungkin ia bisa bertingkah seolah-olah ia anak-anak.
*****
Ainsley sedang beada di alun-alun kota untuk beristirahat. Alun alun bisa dibilang tempat luas yang tenngah-tengahnya ada air mancur yang indah dan ditengahnya ada patung raja terdahulu kerajaan Trea.
Di alun-alun tidak banyak toko yang berjualan karena lokasinya dikusukan untuk bersantai bisa dibilang taman pusat kota walaupun tidak ada rumputnya. Disini walaupun tidak banya toko tapi banya orang-orang yang datang kemari karena banyak orang mengadakan pertunjukan sebagai pekerjaan mereka seperti pertunjukan panggung boneka, atarkasi, musik, dan sihir yang dikhususkan untuk menghibur rakyat.
Memang di pusat kota bukanlah toko-toko khusus bangsawan, disini berbaur berbagai macam orang dari kelas bangsawan, rakyat biasa dan pengunjung dari kerajaan lain. Makanya Ainsley dari awal menggunkan pakaian biasa agar tidak mencolok.
Saat menyebutkan pertunjukan sihir, itu bukan seseorang yang memiliki kekuatan sihir yang keluar dari tangannya dengan menyebutkan mantra atau menggunakan tongkat sihir tapi seseorang menggunkan alat sihir dan orang itu lah yang mengoprasikan alatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Don't Distrub My Peace
FantasyKaylee mengalami kecelakaan pesawat saat ingin pergi berlibur. Saat ia terbangun bukannya menjalani 'kehidupan setelah kematian' tetapi ia harus menjalani kehidupan menjadi bayi kembali. Menjadi putri Count bukan sesuatu hal yang buruk. Ia bisa hidu...
