Warning1821
"Ta,"
"Apa?"
"Boleh minta Kiss?"
"Hah ... kis?"
"Iya."
"Emm ... boleh," setelah berpikir sebentar.
"Bener?"
Intro aja dulu siapa tahu ada yang mau baca. Syukur" ada yang vote dan komen. Nggak mau maksa tapi pengen laj ada yang ngekom...
Halo? Bagaimana kabarnya? Masih bersama mas bucin kan?
Kangen Mas Bucin nggak nih? Kelamaan nggak updatenya?
Yang nungguin mas bucin absen sini, ya! Karena part selanjutnya sudah menunggu untuk update😍😍😍😍
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Reta terbangun dari tidurnya ia mengerjapkan matanya perlahan. Mencoba mengumpulkan kembali nyawanya agar bisa membuka mata yang sangat lengket. Ia seketika melotot saat matanya menatap siluet orang di hadapannya.
Reta langsung menarik selimutnya yang merosot saat ia mendudukkan dirinya. Ia menoleh ke sosok di sebelahnya yang tertidur pulas. Reta melihat Revan yang bertelanjang dada membuat pipinya bersemu merah.
"Ashh.." keluh Reta saat merasakan perih di bagian miliknya.
"Kenapa sakit? Padahal tadi enak." gerutu Reta saat nyerinya bertambah.
Revan yang merasakan sebelahnya grasak-grusuk membuka mata. Ia menatap Reta yang meringis membuat Revan menaikkan sebelah alisnya.
"Lo sakit?" tanya Revan yang langsung memegang dahi Reta.
"Gak panas."
"Aku sehat, Van." ucap Reta mencoba menyingkirkan tangan Revan di dahinya.
"Tap-"
"Apa? Aku gak sakit tapi anuku perih hiks." keluh Reta lalu menangis membuat Revan panik bukan main.
"Anu apa?"
"Itu aku sakit, Van. Hiks. Perih."
"Apa?" tanya Revan masih belum paham.
Reta seketika menatap Revan dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ia malu buat bilang sama Revan apa yang di rasakannya.
Revan menarik Reta ke dalam pelukannya. Mendudukkan Reta dalam pangkuannya dengan posisi mengangkangi tubuhnya. Revan menepuk dan mengelus pelan punggung polos Reta.
Glek
Revan menelan ludahnya kasar saat merasakan lembutnya punggung Reta di tangannya. Tanpa bisa di komando lagi adiknya berdiri tidak tahu malu.
"Revan?"
"Hmm," dehem Revan menahan gairahnya.
"Adik kamu kok besar lagi?" tanya Reta polos.
"Itu tandanya dia pengen masuk lagi ke punya Lo," bisik Revan di telinga Reta dan menjilati telinganya.
"Shhs." desis Reta menggeliat mencoba mendorong kepala Revan.
Revan melepaskan pelukannya dari Reta dan tersenyum manis. Tangannya mengelus pipi Reta yang bersemu merah. Sedangkan, Reta mencoba menghindari tatapan mata Revan yang sangat dalam itu.
"Sayang, nananina lagi, yuk!" ajak Revan dengan tatapan memelas ke arah Reta.
Reta segera mendorong dada Revan membuat ia terjungkal ke belakang dan selimutnya merosot, memperlihatkan gundukan yang membuat Revan menelan ludahnya kasar.