Warning1821
"Ta,"
"Apa?"
"Boleh minta Kiss?"
"Hah ... kis?"
"Iya."
"Emm ... boleh," setelah berpikir sebentar.
"Bener?"
Intro aja dulu siapa tahu ada yang mau baca. Syukur" ada yang vote dan komen. Nggak mau maksa tapi pengen laj ada yang ngekom...
Emang gitu gaes sukanya ngeprank nggak update tapi jadi update! Soalnya gue suka keributan kalian wkwkwk.
Maaf jika tidak sesuai dengan imajinasi kalian! Karena saya punya imajinasi sendiri!
Jangan lupa vote dan komen!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Darah segar mengalir di pelipis Reta. Shena yang masih belum puas menyiksa Reta meminta kedua temannya memegang kedua tangan Reta. Reta terkulai lemas di lantai menahan pusing di kepalanya.
"Kak jangan, hiks."
"Ampun, Kak."
"Buka baju tuh cewek, Er!" suruh Shena. Erni langsung membuka kancin baju Reta dengan Dina yang memegangi tangan Reta.
"Kak, Jangan." Teriak Reta sambil meronta -ronta. Namun, Ketiga anak Dajjal tadi tidak menggubris ataupun iba ke arah Reta yang menangis dengan darah yang terus mengalir di pelipisnya.
"Daebak!" kaget Erni setelah berhasil membuka seragam Reta. Ia mengkode Shena untuk mendekat. Mereka bertiga membelalakkan matanya melihat bercak merah di leher hingga belahan dada Reta.
"Ini kissmark, kan?"
"Beneran lonte, Lo?"
"Gila!"
"Anjing. Ganas juga yang main sama lo!" ucap Shena mencengkeram kuat rahang Reta. Reta hanya pasrah dengan keadaannya saat ini berharap ada seseorang yang segera datang membantunya.
"Buka semua, Guys!"
*** Clau mengintip di balik pintu toilet. Ia tidak berani masuk untuk menolong Reta yang sekarang kepalanya dibenturkan dengan keras ke arah dinding oleh kakak kelas yang paling famous di sekolah ini.
Clau berjalan mondar-mandir di depan pintu toilet.
"Gue harus gimana?" Tanya Clau ke dirinya sendiri. Ia berhenti sejenak dan kemudian berlari meninggalkan toilet.
***
Revan dan kedua temannya sekarang berada di kantin. Ah bukan dua, tapi tiga karena sekarang sahabatnya yang mengikuti pertukaran pelajar itu sudah kembali. Gabriel Ananda Adrian, cowok cuek, pintar, punya orang tua yang toxic, dan dingin.
"Lo ada hubungan apa sama cewek tadi, Van?" Tanya Gabriel tiba-tiba membuat ketiga orang tadi mengernyit heran.
"Hah?" Tanya Revan dengan mulut penuh.
"Anjing. Sejak kapan lu ngurusin cewek yang di pdkt-in Revan, Gab?" tanya Andrea yang langsung diangguki Rendra.
"Gue-"
"REVAN," teriak seseorang dari arah pintu kantin.
Keempat remaja tadi serentak menoleh ke arah pintu kantin. Memperlihatkan sosok yang sekarang memegangi lututnya dan mengatur nafas itu.