Halooooooooo
Saya kembali!!! Adakah yang menunggu. Sesuai janji ya sudah double update🤭🙃. nggak punya hutang lagi.
Bacanya harus emosi!!! Soalnya nggak ada manusia lidi lagi🤭🤭🤭🤭...
Apakah disini ada reader cowok? Atau ciwi - ciwi semua??
Jangan lupa vote dan komen!!!
***
Gabriel memasuki rumah bak istana ini dengan santai. Ia menganggukkan kepalanya ke arah pelayan yang menyapanya. Rumah bak istana yang seharusnya menjadi tempat ia singgah ini tidak seperti yang kalian bayangkan.
"GABRIEL!" Interupsi keras itu menghentikan langkah Gabriel memasuki kamarnya. ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya mendatangi ruang keluarga.
Disana ada papa dan mamanya yang duduk santai di ruang keluarga. Gabriel berjalan mendekati mereka dan duduk di hadapan orangtuanya.
"Apa yang kamu lakukan kali ini!" Bentak papanya.
"Iel nggak lakuin apapun, Pa." Jawab Gabriel menundukkan kepalanya. Tn. Fikar menatap tajam ke arah Gabriel.
"NGGAK LAKUIN APAPAUN! PAPA SUDAH BILANG! PAPA IZININ KAMU BALIK DARI US AGAR MENGIKUTI OLIMPIADE SAINS ITU, TAPI APA YANG KAMU LAKUKAN, HAH!"
"Olimpiade itu sudah ada wakilnya, Pa!"
"Apa kamu segoblok ini sampai gak mau rebut itu! Ini kesempatan kamu buat dapetin beasiswa untuk kuliah di universitas bergengsi!"
"Mas, sudah cukup!" ucap Mama Gabriel as Sarah. Ia mulai jengah dengan suaminya yang mengekang Gabriel dan menjadikan Gabriel bonekanya.
"Apa Papa tidak punya uang sampai Iel harus merebutkan Olimpiade yang orang lain lebih butuh dari Iel! Iel capek, Pa. Iel harus lakuin semua keinginan Papa. Iel juga ingin kayak yang lainnya bisa bebas melakukan yang Iel suka."
"JAGA BATASAN KAMU! KAMU CUMA ANAK YANG SAYA AMBIL DARI PANTI! TUGAS KAMU DISINI HANYA MENURUTI SAYA!"
"Sampai kapan Iel harus nurut sama Papa? Sampai Papa mati? Atau sampai Iel mati?"
Plak
Tamparan keras diterima oleh Gabriel hingga Gabriel jatuh tersungkur di lantai. Sarah langsung menghampiri dan menolong Gabriel.
"Kamu ke kamar aja Iel. Biar Mama yang bicara sama Papa. Maafin Papa, ya." sesal Sarah.
"Minta bantuan Mbok Ginem buat obatin luka kamu." Teriak Sarah ke arah Gabriel yang berjalan menuju kamarnya.
***
Reta turun dari panggung itu dengan hati - hati. Ditangannya sudah ada piala, setifikat penghargaan, dan uang tunai sebesar 15 juta, tapi belum bisa di cairkan.
"Huh," desah Reta mengusap keringatnya. Ia masih tidak menyangka walaupun juara 2 dia mendapatkan hadiah yang fantastis ini.
"Kalo lomba cerdas cermat mana dapet uang segini paling cuma 500 ribu itupun dipotong pajak." Pikir Reta saat dulu pernah menjuarai LCC.
"Hebat, Nak." ucap suara di belakangnya. Reta menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia menatap sendu sosok yang berhasil menjuarai olimpiade ini.
"Kapan aku bisa mendapatkan pelukan hangat dari orangtuaku begitu. Dia juara, orangtua dia juga menyayanginya, tapi aku bahkan tidak ada siapapun yang menemani aku disini cuma Revan orang yang mau menerimaku dengan tulus." pikir Reta sedih saat ia harus sendiri lagi.
Reta mengusap air mata yang mengalir di pipinya, "Revan belum balik dari toilet, ya?" tanya Reta ke dirinya sendiri.
Sambil berjalan celingukan dan mencoba mengingat jalan menuju mobil Revan yang terparkir.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAS BUCIN
RandomWarning1821 "Ta," "Apa?" "Boleh minta Kiss?" "Hah ... kis?" "Iya." "Emm ... boleh," setelah berpikir sebentar. "Bener?" Intro aja dulu siapa tahu ada yang mau baca. Syukur" ada yang vote dan komen. Nggak mau maksa tapi pengen laj ada yang ngekom...
