Warning1821
"Ta,"
"Apa?"
"Boleh minta Kiss?"
"Hah ... kis?"
"Iya."
"Emm ... boleh," setelah berpikir sebentar.
"Bener?"
Intro aja dulu siapa tahu ada yang mau baca. Syukur" ada yang vote dan komen. Nggak mau maksa tapi pengen laj ada yang ngekom...
Hai ... Teman? Mungkin kemarin ada yang tersinggung dengan komentar gue! Maaf, ya semoga masih ada yang mau baca, ya🙏🙏🙏
Happy reading! Jangan lupa vote dan komen!!!
***
"Apapun yang terjadi dan berapapun nilainya. Jangan sampai siswa yang bernama Reta Sabrina juara."
"Gue nggak mau tahu. Yang gue mau bukan Reta yang jadi juara. Turutin perintah gue atau aib Lo melecehkan murid di sini gue sebar!"
*** Mereka melanjutkan perjalanan ke arah mobil dengan tangan Revan yang kini menggenggam tangan Reta erat. Seolah menegaskan kepada orang - orang bahwa Reta miliknya.
"Putra?" Panggil seseorang yang membuat langkah Revan berhenti.
"Putra?"
Deg.
Jantung Revan terasa terhenti saat mendengar panggilan itu. Hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama itu. Nama yang bahkan tidak ia inginkan untuk disebut lagi.
"Ayo, Ta." ucap Revan menarik tangan Reta menjauhi sosok yang baru saja memanggilnya.
"Kamu lupa sama aku?" Tanya sosok itu menggengam tangan Revan yang tidak memegang tangan Reta. Revan menyentak tangan itu kasar membuat sang empunya mundur.
Bruk.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sosok itu memeluk Revan erat. Revan membeku merasakan pelukan hangat dari sosok itu. Sedangkan tangannya masih memegang tangan Reta. Reta menatap Revan sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku kangen banget sama kamu," ucap sosok itu mengeratkan pelukannya walaupun tidak mendapat balasan dari Revan.
"Kamu apa kabar? Kamu gak kangen sama aku, ya?" Tanya sosok itu yang mendongakkan kepalanya menatap Revan yang tetap menatap tajam ke depan.
"Arghh," rintih sosok itu saat Revan yang tiba-tiba mendorongnya kasar. Revan menarik tangan Reta membuat tubuh Reta tersentak kaget dan hampir tersandung.
Reta melihat ke belakang ke arah sosok yang mengusap sikunya karena dorongan kasar Revan, "Revan, di-"
"Jangan peduli sama orang lain, Ta! Gue nggak kenal siapa dia. Ayo!"
Reta yang mendapat bentakan itu hanya mengikuti Revan yang berjalan cepat. Sedangkan, sosok yang terjatuh tadi di bantu beberapa orang yang melihat kejadiannya.
Revan membuka pintu mobilnya dan menutupnya kasar saat Reta sudah berada di dalam mobil. Revan memberikan makanan junkfood ke arah Reta.
"Buat aku?" Tanya Reta namun tidak mendapatkan jawaban dari Revan yang sekarang mengeraskan rahangnya. Tangan Revan mencengkeram kuat stir mobil. Entah apa yang ada di pikiran Revan.
Reta menghela nafasnya pelan, kemudian memakan makanan junkfood itu secara perlahan sambil sesekali menoleh ke arah Revan.