10

86 14 7
                                        

Yuri menghampiri Jihoon yang duduk di kursi panjang sebuah warung kecil dengan botol air mineral ditangannya.

"kak ji,"

"eh,"ucap Jihoon yang tidak menyangka bertemu Yuri.

Yuri pun duduk di kursi panjang tersebut dan memperhatikan wajah Jihoon yang masih babak belur.

Rasanya Yuri ingin bertanya apa penyebab wajah Jihoon babak belur begitu, namun belum sempat bertanya terdengar suara dari perut Jihoon. Sepertinya Jihoon lapar karena dari sore belum makan.

"lo belum makan,"tanya Yuri pada Jihoon dan Jihoon pun mengangguk.

"yah kok bisa sih,"Yuri.

"yaudah yuk ke rumah gue bentar, gue juga lagi beli martabak nanti kita makan bareng - bareng,"lanjut Yuri.

Lagi - lagi Jihoon hanya menganggukkan kepala, disini Jihoon lebih banyak diam. Padahal biasanya mulutnya suka ngoceh ini itu sampe gibah juga.

Setelah mengambil pesanan martabak, Yuri dan Jihoon pergi ke rumah dengan berjalan. Jalan menuju rumah Yuri sepi dan memiliki penerangan yang kurang. Selama berjalan mereka hanya sibuk dengan pikiran masing - masing. Jihoon yang pastinya memikirkan nasibnya kedepannya, sedangkan Yuri sudah pasti banyak sekali yang dia pikirkan saat ini mungkin juga otaknya ingin meledak karena tidak sanggup menampung banyak hal.

"ri,"panggil Jihoon sambil menghentikan langkahnya.

Yuri yang merasa terpanggil pun menghentikan langkahnya dan berdiri memperhatikan Jihoon di hadapannya.

Jihoon menatap Yuri dengan lekat kemudian menatap kedua bola mata Yuri mencoba mengunci mata tersebut agar Yuri terus memandangnya. Yuri yang di tatap pun merasa jantungnya berdegup dengan kencang hingga membuatnya sedikit tidak bisa bernafas.

Jihoon memajukan langkahnya hingga posisinya sangat dekat dengan Yuri, kemudian Jihoon mendekatkan wajahnya ke wajah Yuri hingga hidung mereka bertemu. Kemudian berlanjut turun hingga bibir mereka saling bertemu. Yuri memejamkan matanya saat bibir Jihoon meminta agar bibirnya terbuka dan memberi ruang agar Jihoon bisa melumatnya, tubuh Yuri terasa kaku dan panas menjalar di sekujur tubuhnya, detak jantung semakin tidak beraturan. Jihoon melumat bibir Yuri dengan lembut agar Yuri tidak merasa kesakitan, Jihoon bisa merasakan rasa manis dari bibir Yuri, mungkin karena Yuri memakai lipbalm. Tangan kiri Jihoon menahan tengkuk Yuri dan tangan kanannya menyentuh pinggang Yuri. Yuri benar - benar tidak bisa melakukan apapun selain menerima lumatan tersebut dan tanpa membalas lumatan Jihoon, kedua tangan Yuri yang tadinya kaku pun akhirnya mendorong Jihoon agar menjauh darinya sebelum ciuman itu semakin dalam. Namun yang di dorong malah kembali mendekat dan memeluk Yuri dengan erat.

"maaf,"lirih Jihoon.

"jangan gitu, ini lagi ada di jalan,"Yuri.

"temenin gue, gue mau lo selalu ada buat gue,"Jihoon.

Mereka pun melepaskan pelukan masing - masing.

"iya, maaf nggak angkat telepon lo. Tadi hp nya gue mode hening,"Yuri.

"udah yuk ke rumah, nanti lo makin kelaperan,"lanjut Yuri.

Mereka pun kembali berjalan menyusuri jalanan kampung dengan senyum yang merekah di bibir mereka.

.

.

.

"aduh ini kamu kenapa kayak habis di hajar,"ucap mama Yuri dengan khawatir.

Mama Yuri pun menggandeng Jihoon ke dalam dan duduk di sofa. Sedangkan Yuri pergi ke dapur untuk memindah martabaknya ke piring.

"kamu habis berantem apa gimana ini,"mama Yuri.

LONG LOVE WITH PARK JIHOONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang