Derap suara langkah cepat berangsur pelan mengiring Ohm yang semakin ngos-ngosan. Menghapus keringat basah di pelipis kanan dengan lengan kaos panjang yang dikenakan, Ohm lalu menunduk menaruh tangan di atas lutut mengatur pernapasan.
"Hahh.. hah.. anjeng itu orang gila ngagetin aja.. hahh..."
Merasa napasnya mulai normal, Ohm menegakkan badan. Celingukan kanan kiri memastikan si orang gila sudah hilang dari pandangan. Tapi ternyata bukan hanya si orang gila, si orang manis yang tadi bersamanya juga ikutan hilang entah kemana.
"Lah, Nanon tadi lari ke mana yak?" Bingung Ohm mengingat-ingat ia dan Nanon sempat memisah langkah demi mengecoh si orang gila.
"Telpon aja lah.."
Akhirnya memutuskan melakukan panggilan demi memastikan keadaan sang lelaki manis.
Tut... tut.... tut...
"Siapa hendak turut.... ck, lama amat dah nggak diangkat-angkat." Jemuran kering kali ah diangkat segala.
"Apa jangan-jangan Nanon ketangkep orang gila?" Pikiran Ohm sudah melang-lang membayangkan kemungkinan terburuk, Nanon diseret-seret ke sarang orang gila.
Untung sebelum bayangan Ohm semakin jauh, suara Nanon sudah menyapa.
'Apaan?'
"Halo, Non."
'Apa? Buruan.' Belum apa-apa juteknya sudah ditampilkan.
"Kamu dimana? Nggak ketangkep orang gila kan?"
'Orang gilanya ada nih..'
"Mana? Biar aku selametin kamu."
'Nih, lagi telpon gue.'
Asyuuu -batin Ohm dongkol
"Aku beneran khawatir loh ini Non."
'Lagian percaya aja. Gue selamet kok aman. Udah balik juga.'
"Loh, sama siapa??"
'Sama abang ojol.'
"Ooh. Maaf banget ya, Non aku nggak bisa nganterin kamu gara-gara orang gila."
'Pake nyalahin orang gila segala, ck. Dari awal juga gue bilang nggak usah dianter kan. Lo aja ngeyel pake segala ngikutin gue kaya detektif.'
"Kan aku khawatir, Non."
'Hm.. hmmmm..'
Lalu panggilan dimatikan sepihak oleh Nanon membuat Ohm menghembus napasnya kasar. Lagi-lagi kena sial.
....
Libur nasional di tengah minggu membuat Nanon cukup bahagia karena bisa bebas sejenak dari kuliah yang mengekang otaknya. Tapi di balik bahagia itu ia juga sedikitnya menyimpan kesal karena niatnya jalan-jalan keluar mengusir penat harus kandas karena tak ada teman.
Chimon sedang menyervice si Lisa, Kakak dan Papanya sudah pergi ngegym sejak pagi (Nanon menolak waktu diajak karena ngegym bukan passionnya katanya, passionnya kan kulineran), beberapa teman yang ia hubungi juga sudah ada acara sendiri-sendiri semua.
Sisa di rumah ia bersama sang Mama yang sejak tadi sudah mengomel karena Nanon yang tak kunjung keluar kamar.
"Libur kuliah bukan berarti libur mandi loh ya..." Sindir sang Mama sambil wara-wiri dengan bak cucian lewat depan pintu kamar Nanon yang terbuka.
"Duh, anak perawan goleran mulu kerjaannya. Makanya nggak dapet-dapet pacar."
Sejak kapan sih Mama punya anak perawan? -Nanon hanya berani membatin saja
KAMU SEDANG MEMBACA
HASIL KONDANGAN (OHMNANON)
FanficPulang kondangan mah bawa hasil nasi kotak atau souvenir doang biasanya. Gimana jadinya kalau Nanon yang pulang kondangan dari nikahan mantan malah bawa hasil jodoh untuk masa depan?? Warning : * bxb * mpreg * don't like don't read
