Masih jam setengah tujuh pagi, namun Nanon sudah siap dengan pakaian rapi dan tas diselempang di sisi kiri. Wangi segar parfum vanillanya sudah bercampur dengan aroma gorengan telur karena tadi ia sempatkan menggoreng telur untuk sarapan.
Rajin? Sebenarnya terpaksa, karena Mamanya yang bangun telat akibat aktivitas tengah malamnya dengan sang Papa yang bisa didengar seisi rumah. Pantas saja Kakaknya lebih memilih tidur di ruang televisi sambil menyetel film dengan volume tinggi.
Ngomong-ngomong soal pagi, jika biasanya Nanon selalu berangkat dijemput Chimon dengan si Lisa kesayangan, hari ini berbeda. Chimon sudah sejak kemarin berniat membolos demi ikut Mamanya kondangan di hajatan salah satu kerabatnya dan membuat Nanon harus berangkat lebih pagi demi mengejar bus pertama.
Membuka gerbang ogah-ogahan dengan muka cemberut, si pemuda manis dikejutkan dengan eksistensi yang sudah berdiri tegap di depan pintu. Gaya klasik kaos hitam dilapis kemeja flanel biru, celana jeans, serta sneakers putih tersenyum tampan di samping CBR hitam sambil menenteng kantong plastik di sisi kanan.
"Pagi, Nanon.." Ohm, si tamu menyapa dengan senyuman tampan.
Tapi Nanon malah mendengus. Teringat pesan terakhir mereka semalam, di mana Ohm menganggap ia berterimakasih cuma karena ingin mencari topik untuk saling bertukar pesan dengannya. Hell, terlalu percaya diri menurut Nanon.
"Mau ngapain? Kita nggak ada jadwal latihan kan sepagi ini? Ngapain jemput gue segala?" Rentetan pertanyaan dari si manis.
Tapi Ohm hanya mengulas senyuman dan menggeleng pelan. Tangan kanannya diangkat menujukkan seplastik bening berisi beberapa steyrofoam yang entah isinya apa.
"Bubur ayam, titipan Mama buat Tante New." Jelas Ohm menjawab pertanyaan di benak Nanon.
Mata Nanon disipitkan. "Dalam rangka?"
"Mempererat silaturahmi, mungkin? Nggak tau dah Mama."
"Oh, ya udah sini biar gue kasihin Mama."
"Eh, nggak." Ohm langsung menyembunyikan plastiknya di belakang badan saat Nanon hendak mengambilnya, membuat si manis kesal. "Biar aku kasihin sendiri aja."
"Ck. Ribet. Emak gue belum bangun. Mau lo nungguin??"
"Ya coba aja. Siapa tau sekarang udah."
Nanon ragu. Tapi ya sudahlah. Pintu gerbang dibuka makin lebar, membiarkan Ohm ikut masuk dengannya. Bertepatan dengan mereka masuk rumah, eksistensi New sudah nampak di depan televisi sambil menonton acara gosip pagi.
"Apaan yang ketinggalan, Non? Uang saku lagi?" New masih duduk membelakangi mereka.
"Nggak, Ma. Ini ada Ohm nganterin bubur." Penjelasan Nanon membuat Nee berbalik dan bangkit menyongsong dua pemuda yang masih berdiri di dekat pintu utama.
"Eh, ada Nak Ohm. Apa kabar Nak? Kenapa? Kemarin Nanon jajannya kebanyakan ya?"
"Nggak, Tante. Ini Mama titip suruh nganterin bubur ke sini, buat Tante sama Om katanya."
New menerima bubur dari Ohm dengan mata berbinar. Wangi kuah bubur yang tercium hidung membuat moodnya langsung naik dan tersenyum senang.
"Wah, makasih banyak ya Ohm. Bilangin Mama kamu."
"Siap, Tante. Sama-sama. Kalau gitu saya pamit dulu mau ke kampus."
"Iya. Hati-hati ya." Lalu beralih pada putranya sendiri. "Ikut Ohm sekalian aja tuh. Sekampus kan kalian?"
Nanon menggeram dalam hati. Beberapa hari lalu Papanya yang mengumpan agar ia dibawa Ohm makan. Dan hari ini Mamanya ikut-ikutan mengumpankannya agar berangkat ke kampus dengan Ohm sekalian. Jodoh memang. Mama dan Papanya maksudnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HASIL KONDANGAN (OHMNANON)
Hayran KurguPulang kondangan mah bawa hasil nasi kotak atau souvenir doang biasanya. Gimana jadinya kalau Nanon yang pulang kondangan dari nikahan mantan malah bawa hasil jodoh untuk masa depan?? Warning : * bxb * mpreg * don't like don't read
