"Ibunnn...."
Bukan. Itu bukan Ganesha atau Cassie. Itu Vino yang baru saja masuk rumah memanggil sang puan yang sudah lima hari ia tinggal ke Bali mengurus pekerjaan.
"Ibunn?"
Sekali lagi, Vino memanggil. Tidak ada jawaban. Ruang tengah sepi, dapur kosong dan di kamar juga tidak ada siapapun. Vino kembali melangkah mencari dimana si Indira berada. Ketika melewati pintu kaca, ia bisa melihat sang puan yang duduk memeluk bantal sambil menatap layar laptop.
Senyumnya merekah. Tanpa ragu, ia seret kedua kakinya menghampiri Shani yang sedang fokus dengan laptopnya.
"Sayang, suaminya pulang kok nggak disambut?" Vino berkacak pinggang, pura-pura marah. "By ... suaminya ngomong loh ini."
Shani not responding.
Wanita itu tidak melirik, menoleh atau menjawab panggilan Vino. Membuat pria yang awalnya berniat iseng itu membatalkan niatnya dan ikut duduk di samping Shani.
"Kenapa sih? Aku udah pulang lho ini, nggak mau peluk?" Vino bersiap memeluk namun Shani langsung memberi jarak di antara mereka. "Kamu kenapa, Shani?"
"Nggak usah deket-deket!" Shani melotot.
"Astaga, denger suara kamu aja rasa capek aku langsung ilang rasanya, apalagi kalo bisa peluk dan ndusel-ndusel." Vino nyengir dan kembali bersiap memeluk Shani.
"Dangdut banget." Shani makin memberi jarak di antara mereka.
Cengiran di wajah Vino seketika hilang berganti dengan wajah protes dengan dahi yang berkerut.
"Kenapa sih? Kamu sensi banget sama aku."
"Tauk!"
"Aku bukan dukun, Shani. Ada apa? Kenapa kamu ngambek gini?" Vino memiringkan tubuh menghadap Shani. "Kalau aku salah, bilang dong, By. Aku mana ngerti kalau kamu pundung nggak jelas gini."
"Oh, aku nggak jelas?!" Shani langsung menutup layar laptop. "Iya, emang nggak jelas banget. Ngambek gara-gara nungguin telepon dari suaminya yang haha-hihi di Bali sama cewek-cewek."
Vino terdiam.
Shani menoleh, matanya menatap pria itu dengan kesal. "Apa susahnya sih, hubungin aku? Sesibuk itu? Sampai aku harus tau kamu lagi ngapain, udah tidur belum, udah makan belum dari Nabil?"
"Nggak gitu, By...."
"Apa?!" Vino makin menciut. "Mau alasan nggak ada sinyal lagi, iya?! Mas, please ya, sinyal provider kamu di Bali itu melimpah, mbludak, tau nggak?! Misal nih, nggak ada kuota, pasti ada wifi! Kamu di Bali, bukan di antah berantah!"
Kalau sudah begini, mau beralasan atau menyanggah bagaimana lagi? Tolong, siapapun yang kenal dukun atau pesulap yang bisa merubah wujud manusia jadi botol kecap atau sedotan kokumi bisa hubungi Vino sekarang juga.
"Kenapa, nggak bisa jawab kan?!"
Satu, dua, tiga detik. Vino mengeluarkan ponsel, membuka salah satu aplikasi sebelum akhirnya menganggukkan kepala.
"Lagi tanggal merah ternyata." Bisiknya.
"Jangan nyalahin tamu bulanan aku ya!" Shani mendelik. "Kalau salah tuh, mbok ya minta maaf, malah nyalahin datang bulan!" Wanita itu kemudian melangkah ke dalam dengan kaki yang sengaha dihentak-hentakkah.
"By ... jangan ngambek dong!" Vino berlari menyusul sang puan.
***
Sampai makan malam, Shani masih dalam mode ngambek dan mendiamkan Vino. Dia tidak ikut bergabung ketika pria itu bermain bersama dengan Ganesha dan lebih memilih membantuk Mbok Sri di dapur bersama dengan Cassie, walau yang gadis kecil itu lakukan sejak tadi hanya mengacaukan dapur.
