EPILOG TANPA PROLOG
Untuk Ayah
Hujan mereda. Bersisa rintik yang jatuh satu-satu dengan suara yang menenangkan.
Dan aromanya kembali menarik Yusril pada kenyataan. Naresh sudah pulang. Diantar dengan banyak doa tulus meski beriring air mata. Sudah tidak ada lagi si sulung yang selalu Yusril banggakan. Tepat saat lampu di ruang operasi itu menyala, lulus sudah ujian Naresh di dunia.
"ayo pulang, Yoana." Ajak Yusril saat istrinya masih menunggui Kenzie yang masih terlelap di ruang rawat pasca operasi besar.
"saya mau disini aja, Bang." Perempuan itu melirih. Ada air mata disana. Wajah lelah dan sayu terangkum disana.
"kamu ibunya, Yoana. Sampai kiamat nantipun, tidak ada yang mampu menyangkal bahwa Naresh adalah darah dagingmu." Ujar Yusril setengah marah. "jika tidak mampu memperlakukan dia dengan baik semasa hidup, setidaknya hormati dia ketika sudah pergi. Tunjukkan terimakasih kita, karena Nana sudah menyelamatkan Ken."
"kita harus mengantarnya dengan baik, Yoana." Tambah Yusril. Air matanya ikut luruh juga.
"saya nggak punya muka lagi, Bang." Tangisan Yoana kian deras. "bahkan saya nggak mampu untuk berhadapan dengan Nana, sekalipun hanya jasadnya."
"saya jahat..." perih Yoana. Menatap telapak tangannya cukup lama, "saya yang bunuh dia, Bang..."
Yusril memeluk Yoana kemudian, "kita tanggung penyesalan ini sama-sama... sekarang, kita perlu pulang mengurus Naresh untuk yang terakhir kalinya. Kenzie biar kita titip pada perawat dulu."
---
Rumah megah dengan tiga lantai itu mulai ramai. Kian petang, pelayat makin banyak berdatangan ke rumah duka. Ada Mak Haji Suha, beserta Babeh Rahmadi dan Istri yang rela menempuh perjalanan panjang ke rumah duka berbekal alamat maps yang diberikan Jevano. Mengabaikan sakit pinggang karena duduk di mobil berjam-jam, demi menemui pemuda yang diakui sebagai keluarga -untuk yang terakhir kalinya., Lapangan kompleks di ujung perumahan bahkan sudah menjadi tempat parkir dadakan untuk para pelayat yang terus berdatangan. Ada kolega Yusril dan Yoana; Kolega Dimas dan Ivanny -yang notabene juga kolega Muliyono Salim, serta teman-teman Naresh. Beberapa kerabat dari luar negeri pun menyempatkan diri untuk hadir dan mengucap belasungkawa. Ah, teman-teman Naresh bahkan menggunakan bus milik sekolah untuk mengangkut teman sekelas Naresh dan beberapa perwakilan OSIS, sedangkan guru-guru menumpang mobil pribadi.
Air mata mereka beradu; menunjukkan seberapa banyak Naresh dicintai sehingga cukup untuk membuat mereka merasa kehilangan. Memberikan kesempatan pada waktu untuk memulihkan luka yang timbul akibat kehilangan. Kabar duka tentang Naresh bahkan dimuat di beberapa media sosial dan menjadi headline news di koran sore. Anak di luar nikah -sempat disebut di salah satu kalimat; namun pembaca lebih terfokus pada betapa mulianya karena pemuda itu merupakan pendonor organ.
"ini..." Jevano memberikan sebuah amplop kecil pada Yusril. Ada tulisan To: Ayah yang ditulis dengan tidak terlalu rapi.
"buat Om?"
Jevano mengangguk. "barang-barang Nana di Rumah Sakit Brain Center Care udah di beresin sebagian. Itu Professor Eko yang antar. Ada buat tante Yoana sama kotak juga buat Kenzie. Jeno taro di meja kamar Ken... soalnya disini hectic banget."
"terimakasih ya..." Yusril mengantongi amplop itu, kemudian memeluk Jevano dengan erat, "makasih untuk Jeno yang selalu nemenin Nana... makasih banget... seenggaknya, Nana selalu punya Jeno yang nemenin dia tiap kali kesusahan dan Om gak bisa bantu banyak... Terimakasih banyak, Jeno..."
KAMU SEDANG MEMBACA
HOPE || Na Jaemin
FanfictionTuhan, Terimakasih telah memberikan kesempatanku untuk bernapas hingga hari ini. Terimakasih telah mengelilingiku dengan orang orang baik. Terimakasih untuk segala hal. Tuhan, setelah semuanya yang Kau beri, bolehkah aku bersikap tidak tau diri un...
