[C] EPILOG TANPA PROLOG

3.8K 330 24
                                        

Mohon maaf ya author notes di tulis di atas.
Bagi pembaca yang nggak suka sama tulisan saya, tolong di skip dari sekarang biar nggak nyampah di DM.
Seriusan, saya udah nulis fanfiksi dari 2015 dan modelan pembaca toxic masih ada?
Mau heran, tapi ya netizen di negara +62 memang kadang suka pengen tak HIIIIIH!

------------------------------


EPILOG TANPA PROLOG
Untuk Kenzie


Kenzie mengerjap kala wangi angin terasa menggelitik hidung. Netranya mencoba berdamai dengan silau cahaya yang menerobos retina mata. Bersama warna oranye khas senja di langit yang rasanya hanya berjarak beberapa meter dari kepala.

Tempat ini asing. Hanya ada rumput ilalang setinggi pinggang dan jalan setapak serupa tanah kering yang dipijak Kenzie. Walaupun langit nampak begitu dekat diatas kepala, namun embus angin terasa menyejukkan. Tak panas seperti halnya cerita-cerita tentang Padang Mahsyar yang sering di dongengkan Pak Haji Syakiir tiap kultum pasca shalat subuh di Masjid komplek.

Bola mata Kenzie bergulir ke kiri pun ke kanan dengan kaki telanjangnya yang terus menyusuri jalan setapak. Namun yang dilihatnya hanya kosong dan sepi. Tak ada siapapun selain Kenzie di savanna luas itu. Suara angin yang bersahutan dan pucuk-pucuk ilalang yang beradu di cumbu embus angin.
Rasanya, kedua tungkai Kenzie sudah melangkah jauh. Namun jalan setapak yang dipijaknya seolah tak memiliki ujung. Ada resah dalam benak remaja tanggung itu. Sunyi itu memantik takut.

Ingin pulang...

Namun seketika, yang terbayang adalah wajah Naresh dalam ingatan.

"Abang...." Lirih Kenzie dengan air mata jatuh menganak sungai di pipi.

Rindu mencekik itu perlu dituntaskan.

"Abang...."

"Abang...."

Berulang kali Kenzie memanggil. Rasanya mulai lelah. Jalannya sudah mulai tertunduk karena kelelahan dan bulir keringat membasahi dahi dan leher. Saat kepalanya tengadah, tiba-tiba ia sampai pada ujung jalan setapak. Sebuah pintu kayu lapuk dengan tanaman rambat memenuhi dinding bata merah itu menyapa pandangan.

Pandangannya kembali mengedar. Sunyinya masih sama. Gemerisik suara angin masih terdengar. Lalu pintu lapuk itu terbuka dengan sendirinya. Menampilkan ledakan cahaya yang menyilaukan selama beberapa satuan waktu. Kenzie memejam -sebelum akhirnya netranya kembali mampu menyesuaikan diri dengan keadaan. Lalu tubuhnya serasa kembali di lempar ke dimensi ruang dan waktu yang berbeda.

Masih tempat yang sama asing. Namun padang ilalang tak lagi menjadi dominasi. Tumbuhan tinggi serupa pohon pinus yang kini mengelilingi Kenzie. Dengan sepetak kecil lapang basket yang dihiasi beberapa guguran daun kecokelatan.

 Dengan sepetak kecil lapang basket yang dihiasi beberapa guguran daun kecokelatan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
HOPE || Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang