#28

80 16 1
                                        

"Jadi kita sekelompok nih berempat?" Tanya Haechan.

Saeron mengangguk, melirik sedikit pada Jinjoo dan Jaemin. Ini bukanlah hal yang baik baginya, satu kelompok dengan Jaemin menandakan bahwa ia harus berinteraksi lebih banyak dengan Jaemin.

"Kesel banget anjir gua sama pak dio, ngasi tugas kaga ngira-ngira!"

"Ngeluh aja lo Chan! Paling juga ga bakal kerja nanti." Sungut Jinjoo.

Haechan tersenyum malu, "Tau aja deh mbak pacar, hapal banget."

"Ya hapal lah! Di satu kelas ini cuma lo doang yang kelakuannya minus!"

Saeron dan Jaemin hanya menyaksikan keributan sepasang kekasih itu. "Ini jadi yang beli bahan-bahan buat prakarya siapa?"

Pertanyaan Saeron berhasil menghentikan keributan, "Lo aja dah Sae, sama Jaemin noh bedua, ga papa kan?" Ujar Jinjoo.

Mata gadis itu membalak, menatap Jinjoo penuh kekesalan, "Udahlah Sae ga papa, Jaemin aja setuju kan Jae?"

"Terserah, gua yang penting kerja." Jawab lelaki itu.

"Eh, gimana kalo lo aja Chan sama Jaemin yang beli bahan? Biar gua sama Jinjoo yang mikir idenya." Ia berusaha mengelak keadaan.

"Jangan lah Sae, kalo ni curut dua yang belanja, adanya bukan bahan prakarya yang dibeli! Udahlah lo aja."

"Oh, kalo ngga gini, biar lo sama Jaemin deh Joo. Gua sama Haechan."

"Eh eh, kaga ada! Gua mau sama ayang beb! Lo ga usah ganggu deh!"

Saeron memijit pelipisnya, ia tidak ingin berada dalam satu situasi bersama Jaemin. Itu adalah hal yang harusnya ia hindari.

"Udahlah Sae, lo sama Jaemin beli bahan, gua sama Jinjoo yang mikirin idenya. Ya?"

Saeron menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Alah, ujungnya juga bakal Jinjoo doang yang mikir. Gaya lu Chan!" Cerca Jinjoo.

"Gua lagi yang kena, heran."

"Udahlah, harus iya pokoknya! Mau beli bahan kapan nih kalian berdua?" Tanya Jinjoo.

Saeron mendesau, ia menoleh pada Jaemin yang hanya diam. "Sekarang aja, biar cepet." Ucap Jaemin.

"Ya udah deh, berangkat sekarang." Pasrahnya.

Saeron menatap sinis Jinjoo dan Haechan yang kini tersenyum jahil padanya. Ia mengumpat dalam hati.

Jaemin dan Saeron bergegas menuju parkiran. Bel pulang sekolah memang sudah berbunyi sedari tadi, namun mereka masih belum pulang untuk mendiskusikan tugas.

Saeron meremat rok seragamnya, rasanya sangat canggung karena harus pergi berdua dengan Jaemin. Ah sial, Saeron memaki Jinjoo dan Haechan dalam hati.

Ia melirik sekilas pada Jaemin yang berjalan tanpa peduli. Hingga akhirnya mereka berdua sampai di tempat mobil lelaki itu terparkir.

"Ke rumah gua bentar, ada yang mau gua ambil." Saeron terkejut mendengar ucapan itu. Namun ia hanya mengangguk patuh.

***

Sudah sekitar dua puluh menit namun keadaan mobil tetap hening tanpa suara. Jaemin yang fokus menyetir dan Saeron yang fokus menatap jalan raya.

Mereka akan singgah ke rumah Jaemin terlebih dahulu, karena lelaki itu ingin mengambil beberapa barang.

Ah, Saeron rasanya ingin segera turun dari mobil ini. Perasaan mencekam dan canggung terus menghantuinya. Apalagi melihat Jaemin yang nampak dingin dan acuh.

Hingga akhirnya mobil lelaki itu terparkir di depan rumah yang sangat Saeron kenali. Tentu saja, Saeron dulu sangat sering mengunjungi rumah itu.

Ia sangat enggan turun, sebuah pertanyaan berkecamuk di otaknya, 'Bagaimana jika ia bertemu dengan Mama nya Jaemin di dalam?'

Pikiran itu membuatnya berdecak frustasi, "Turun, gua agak lama." Kesialan bertambah saat Jaemin memintanya ikut turun.

"Eh, oh, iya." Jawabnya canggung.

Gadis itu menelan ludah, ia sangat gugup. Kedua tangannya bertaut dengan keringat yang membanjiri.

Dan tepat saat pintu rumah terbuka, maka Saeron ingin menghilang saat itu juga. Ia tersenyum kikuk dihadapan Nyonya Na. Sedang wanita itu nampak terkejut melihat kedatangannya.

"Eh, udah pulang?" Saeron tentu bisa sedikit bernapas lega melihat wanita itu tampak tak mengenalinya.

"Udah Ma." Jawab Jaemin.

"Ini siapa? Temenmu Jae?" Kini atensi wanita itu beralih pada Saeron. Menatapnya penuh rasa rindu.

"Iya, Jaemin mau beli bahan prakarya, jadi pulang dulu ngambil dompet sama ganti baju bentar." Jelas lelaki itu.

Nyonya Na mengangguk, lalu mempersilakan keduanya untuk masuk. Saeron semakin mengeratkan genggaman tangannya. Ia gugup.

Kini dirinya sudah duduk di sofa ruang tamu rumah itu, sedangkan Jaemin sudah dulu pergi ke kamarnya.

Nyonya Na tersenyum hangat melihat kedatangan Saeron, ia merasa sedih saat harus berpura-pura untuk tidak mengenali gadis yang sudah dianggap keluarga olehnya itu.

"Saeron apa kabar?" Tanyanya.

"Baik Ma, Mama sendiri apa kabar?" Tanya Saeron balik dengan senyum manisnya.

Nyonya Na menggeleng kecil, "Ga baik deh, Mama kangen banget sama kamu soalnya. Sering-sering main dong Sae, pas Jaemin lagi pergi aja." Ujarnya.

Saeron terkekeh, "Sae juga kangen Ma, tapi Saeron takut juga kalo mau main kesini."

"Papa Mama kamu gimana kabarnya? Masih suka marahin kamu?"

Iya, wanita itu memang mengetahui kelakuan asli Mama tiri Saeron. Karena hal inilah, mengapa dirinya sangat menyayangi Saeron. Gadis muda dengan wajah cantik itu menyimpan banyak luka sendirian. Dan sebagai seorang ibu, hatinya juga turut bersimpati terhadapnya.

"Ngga kok Ma, ga perlu khawatir." Jawabnya.

Nyonya Na mengambil tangan Saeron, wanita itu memang duduk tepat disampingnya.

Saeron menatap lamat wajah wanita yang sudah menjadi ibu keduanya itu, kerutan samar sudah nampak di bawah matanya. Namun, kecantikannya juga tak dapat ditutupi.

"Mama kangen banget sama Saeron, kangen masak bareng kamu, kan biasanya setiap libur kamu sering kesini, kita masak apapun buat Jaemin. Tapi sekarang udah ga lagi."

"Kamu sering main kesini ya Sae, nanti deh kalo Jaemin lagi ga di rumah Mama kasi tau, gimana?"

Saeron berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk, "Iya Ma, boleh kok."

Nyonya Na tersenyum hangat, lalu memeluk erat gadis yang sudah dianggap nya anak itu. Saeron sudah membantunya terlalu banyak. Menggantikan posisi untuk Jaemin yang harusnya dilakukan oleh dirinya.

Mengurusi setiap keperluan lelaki itu ketika sakit, walaupun ia tahu seberapa keras anak lelakinya itu menolak Saeron. Tapi yang Saeron lakukan malah sebaliknya, ia tetap ada untuk Jaemin bahkan ketika lelaki itu sedang dalam masa tersulit nya sekalipun, Saeron ada disana.

Itu yang membuat Nyonya Na sangat yakin mengenai gadis di pelukannya itu. Saeron terlalu baik untuk dunianya yang kejam. Yatim piatu sejak kecil, dijual orang tua angkatnya, diacuhkan oleh lelaki yang dicintainya. Jadi, apa yang harus Saeron banggakan dari hidupnya?

Ia mengeratkan pelukannya pada Saeron, begitu pula pada Saeron yang merasa hangat mendapatkan pelukan dari seorang ibu.

Walau tanpa mereka sadari, tepat di ujung tangga, seorang lelaki berdiri di sana sedari tadi. Mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut sang Mama, bahkan melihat Mamanya memeluk hangat gadis yang baru pertama kali ia bawa ke rumah.

Pikirannya berkecamuk, entah kenapa banyak pertanyaan yang hinggap di hatinya. Mengenai siapa Saeron sebenarnya? Kenapa ia terlihat begitu dekat dengan mamanya?

Saeron, terlalu dekat untuk dibilang asing. Namun terlalu asing untuk dibilang dekat. Itu dirinya bagi Jaemin.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 09, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

~love is sadness~ [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang