#25

45 14 0
                                        


Hai-hai semuaaaaa, apa kabar nii?
Maaf banget ya bapak ibu, karena saya baru bisa update sekarang.

Semoga sehat semuanya, silahkan membaca....

______________________________________

Semua orang tampak gusar, mereka berdiri cemas di depan kamar inap Jaemin. Saeron terduduk lemas di sebuah kursi, ia tadi begitu senang ketika melihat Jaemin yang sudah sadar. Gadis itu bahkan langsung menelpon teman-temannya dan juga orang tua Jaemin.

Namun siapa sangka jika semuanya menjadi semakin rumit? Jaemin terbangun dengan keadaan lupa ingatan. Lelaki itu tak bisa mengingat Saeron sama sekali.

Dengan cepat kedua orang tua Jaemin langsung memanggil dokter, menanyakan tentang apa yang sudah terjadi sehingga Jaemin melupakan segalanya. Dan kini, Jaemin tengah kembali diperiksa, sedang yang lain menunggu di luar ruangan.

Saeron sangat cemas, ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Jaemin yang tadi membencinya kini tidak mengingatnya sama sekali. Oh ayolah, kenapa takdir suka sekali bermain dengannya?

Keluarnya dokter dari ruangan membuat mereka menghampiri dengan harap cemas.

Dokter Kim terlihat memikirkan sesuatu, seperti ada hal berat yang ingin disampaikan nya. "Emm, jadi benturan di kepala pasien cukup berat. Bahkan hampir meretakkan tulang pasien, dan untungnya hal itu tidak terjadi. Tapi, nyatanya benturan itu malah menyebabkan pasien amnesia. Jadi, saya mohonkan kepada keluarga maupun teman-temannya untuk tidak memaksakan pasien mengingat sesuatu atau apapun yang terlalu menekan kinerja otaknya"

"Sekali lagi saya turut bersedih atas apa yang dialami pasien, tapi kami dari pihak rumah sakit juga sudah berusaha keras, dan nyatanya hal ini terjadi. Saya harap kalian bisa tegar dan menerima hal ini"

"Pasien sudah bangun, kalian semua bisa masuk. Tapi ingat kata-kata saya tadi, jangan terlalu menekan kinerja otak pasien, takutnya sesuatu yang tidak diinginkan terjadi"

Semua orang terdiam mendengar penuturan dokter, mereka tidak percaya dengan apa yang dialami Jaemin. Amnesia? Lalu, bagaimana kedepannya? Apa jaemin bisa mengingat lagi?

Semua pertanyaan itu berkecamuk di pikiran masing-masing, terutama orang tua Jaemin dan juga Saeron. Gadis itu masih tidak bisa berkutik, sebagai seorang yang selalu menemani Jaemin, hal seperti ini tidak pernah terbayangkan olehnya.

"Baik dok, saya sangat berterimakasih atas kerjasama dokter dan rumah sakit, saya akan memanggil dokter kalau butuh sesuatu nanti" ucap mama Jaemin.

Dokter Kim mengangguk, "baik, kalau begitu saya permisi dulu."

Setelah kepergian dokter Kim dan beberapa perawat, satu persatu dari mereka mulai masuk ke dalam ruangan. Menghampiri Jaemin yang kini terdiam menghadap jendela. Saeron menunduk, berusaha menahan tangisnya melihat keadaan Jaemin.

"Jaemin" Panggil nyonya Na lembut, hal itu membuat atensi Jaemin teralih. Lelaki itu menatap orang di sekitarnya dengan bingung.

Nyonya Na kini duduk di kursi samping Jaemin, mengambil tangan lelaki itu perlahan. Senyum hangat terpatri di wajah wanita cantik itu, "ini mama nak" ucapnya bergetar.

Semua orang mulai merasa emosional, rasanya mereka ingin segera memeluk Jaemin saat ini. Namun melihat wajah bingung dan pucat lelaki itu membuat mereka semua iba.

Saeron masih diam, ia terus berpikir. Bukankah lebih baik jika lelaki itu mengetahuinya sebagai teman? Karna bagaimanapun Jaemin sudah melupakannya, dan lebih baik pula jika lelaki itu tidak mengetahui perihal pertunangan mereka.

Ini juga sebuah awal yang tepat untuk menyelesaikan hubungan mereka, seperti kemauan Jaemin dulu. Saeron rasa, ini adalah waktu yang tepat.

Nyonya Na mulai memperkenalkan orang-orang di dalam sana. Termasuk memberi tahu nama Jaemin kepada lelaki itu. Saeron menoleh saat merasa genggaman di tangannya, ia melihat Renjun yang menatapnya tenang. Seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

~love is sadness~ [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang