Sebuah takdir konyol

475 43 1
                                        

"Arkan, Widuri. Kalian kenapa? Ibu heran liat kalian. Bukannya saling kenalan. Malahan saling tatap menatap. Seakan jumpah dengan musuh bebuyutan" omel ibu Widuri yang merasa terganggu dengan keterdiaman dan juga saling tatap itu. "Kalian saling kenal?"

Sontak Widuri menyesali sikapnya. Karena bagaimana pun. Mungkin saja laki-laki di depannya sudah melupakannya. Hanya saja memorinya masih bersarang dengan indah di dalam kepala cantiknya. "Hy Arkan" sapanya "Ibu ada-ada saja"

"Hy" balas Arkan tanpa ekspresi.

"Adu-adu ko cangguh banget sih. Ibu jadi seliweran liat kalian berdua" ibunya berucap lalu pergi menghampiri anaknya yang masih berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan di isi oleh kantongan bawaannya. "Mari kak. Ibu yang hidangkan. Kalian ngobrol dulu. Lagian nak Arkan ini kerja di salah satu perusahaan periklanan segalah iklan"

"Apaan sih bu. Periklanan segalah iklan tuh. Maksudnya gimana. Kakak ngga ngerti" Widuri yang mencegah tangan ibunya yang ingin mengambil barang bawaannya "Ini biar kakak saja yang hidangkan. Ibu disini saja, ibukan dari perjalanan jauh"

"Yah udah. Makasih yah kak" jawaban itu membawa kelegaan buat Widuri. Bagaimana pun. Menghindari masa lalu adalah hal yang harus di tandai dalam segalah hal. Mulai tandai dengan merah, hijau, biru bahkan semua warna pun wajib diberikannya. Agar hal urgent seperti ini tidak ditemuinya lagi. Dan jangan lupakan peringatan dini sangat di perlukan.

Langkah kaki Widuri terasa ringan.
Saat kebebasannya sudah di depan mata. Tapi, memang takdir kadang selucu itu. Sehingga kebebasannya hilang hanya karena suara itu. "Tante, Arkan boleh pinjam kamar kecil"

"Boleh Nak" ucap ibu Widuri "Kak, tolong arahkan nak Arkan ke kamar kecil yah"

Widuri menghentikan langkahnya. Lalu mengangguk. Setelah itu lantas dia berlalu dengan tentunya di ikutin oleh orang yang mirip masa lalunya. Jika saja ibunya tidak meminta untuk dirinya berbalik lalu dengan sopan dirinya mempersilakan tamunya untuk mengikutinnya. Disertai dirinya menujuk kamar mandi di samping dapur.

Hening, itu yang terjadi. Langkah itu kiang lirih tidak menciptakan apa pun. Yang tadinya Widuri menarik rasa syukurnya kini kembali di persembahkannya rasa syukurnya terhadap situasi yang terjadi ini.

"Ini" tunjuknya pada pintu yang terdapat tulisan WC dengan gambar laut pada pintunya.

Sih Arkan itu mengangguk lalu hilang di balik pintu. Nafas lega untuk kesekian kalinya, Widuri lakukan. Walau pada akhirnya seperti yang dia bilang sebelumnya. Bahwa Arkan kemungkinan tidak mengenalnya atau bahkan melupakan kisah pahit yang di ukir dalam masa yang seharusnya indah dalam perjalanan hidup di masa SMA Widuri.

Waktu bisa berlalu tapi, kenangan pahit itu terkesan membekas. Entah butuh berapa banyak waktu lagi. Yang jelas Widuri mengingat semua itu.

Jika saja, tangan Widuri tidak terkena air panas kuah mie ayam. Pikiran dan juga tangannya bekerja berpisah dan menghasilkan sesuatu yang sangat dia sesalih. "Akh" jeritnya. Untungnya kuah yang lain. Masih bisa terselamatkan dalam mangkok yang ada.

Tangan Widuri yang terkena air panas. Di kibasnya dan di tiupnya agar rasa perih yang di dapatnya dari keceroboannya berkurang. "Gila sampai merah" gumanya menatap punggung tangannya.

Widuri dan bekas segalah bekas yang di dapatnya pada tubuhnya. Menurutnya suatu hal wajar. Karena dari hal apapun yang dilakukannya. Pasti akan ada satu yang menjadi kenangan dan memberi tanda dan menurutnya semua akan sama pada akhirnya.

"Kak, sudah selesai?" Widuri sontak teenyah. Mendengar suara ibunya yang ternyata sudah di depannya. "Lama banget"

Widuri dan senyumnya. Mencoba mencari cela akan susah apalagi wanita yang ada di depannya. Mengenalnya seumur hidup jadi jawaban jujur yang harus dia berikan. Tapi, ada satu lagi selain jujur yang mulai di pelajarin Widuri yaitu mengelak. "Ibu belum juga di panggil sudah kesini. Pasti lapar banget nih. Kakak tebak"

"Iya nih kak. Lapar banget, maklum perjalanan jauh" sahut ibu Widuri lalu duduk di meja makan. "Banyak banget makanannya kak. Tahu ajah calon mantu ibu datang"

"Apa bu?" Widuri sedikit kaget mendengar kata terakhir ibunya. Kepercayaan Widuri tentang ucapan adalah doa itu sangat besar. Dan dirinya takut jika maksud ibunya adalah orang yang baru keluar dari kamar kecil.

"Nak Arkan sini. Langsung makan yuk" bukan jawaban buat Widuri melainkan ajakan untuk makan buat Arkan. Yang keluar dari mulut ibunya.

"Iya bu" sahut sih Arkan lalu tak lama duduk tepat di depan Widuri.

"Maaf yah Nak Arkan ini Widuri lagi ngga sempat masak jadi semua makanan di beli. Widuri itu sibuk banget jadi biar makan saja biasa lupa. Ini kalo ibu ngga datang juga. Pasti besok pagi baru makan. Alasannya pasti mau diet lah, mau kecilin ini lah kan badan---"

"Ibu" tegur Widuri dengan nada meraju.

"Iya-iya maaf ibu kelepasaan" ucap ibunya merasa bersalah dan memakan mie ayamnya yang ada di depannya. "Silahkan nak Arkan. Di pilih mau makan apa"

"Sate ajah bu"

"Widuri, tolong ambilkan buat Nak Arkan yah"

Widuri yang sudah dari tadi. Tidak bisa apa-apa. Memilih diam dan menurutin perintah ibunya. "Ini cukup?" Tanya Widuri

"Iya cukup" jawab Arkan saat ditanya mengenai nasi yang di ambilkan dalam piringnya. Pandangannya bertemu dengan Widuri. Seakan mendalamin lewat indra penglihatan satu sama lain.

Entah berapa detik berlalu. Tatapan itu tidak terhenti. Seharusnya ada satu diantara mereka yang memutuskan tatapan itu. Tapi, entah gimana. Tatapan Widuri menampilkan kekagetan, kekecewean dan Keeganan. Sedangkan Arkan sendiri menampilkan kaget, penyesalah dan keterkejuta.

"Selamat makan" ucap ibu Widuri yang menghentikan saling tatap-menatap itu.

Dua orang dengan pandangan saling tatap itu harus terhenti. Widuri dengan piringnya yang berada di depannya. Mengambil sate untuk melengkapi nasi putihnya. Tapi, memang dasar rasa cangguh yang ada membawanya kembali lagi. Saat tangannya bertemu dengan tangan Arkan.

"Maaf" ucap Arkan. Sedangkan Widuri mengangguk.

"Aduh. Ibu ko rasa, kalian pernah bertemu sebelumnya yah" dengan selesai kunyahan yang di buat mulut ibu Widuri. Suaranya keluar seakan memberitahu apa yang di rasanya.

Widuri tersendak. Oleh makanannya sendiri. Arkan dengan cepat memberikan air minum yang berada di sampingnya dan dengan gerakan cepat Widuri mengambilnya lalu meminumnya.

"Yah Allah kak. Sampai tersedak begitu"

Sambil terbatuk Widuri menyahutin "Ibu"

"Iya maaf. Ibu yang salah" aku ibunya. "Maaf yah Nak Arkan. Ibu memang gini. Suka ceplas-ceplos kalo bicara. Yuk lanjut lagi makannya" setelah usai kalimat itu jadi penutup. Kelanjutan saling menyantap makan adalah hal dilakukan dalam hening. Hanya ada suara sendok dan piring yang beradu.

Satu persatu piring mulai bersih dan yang pertama paling bersih punya ibu Widuri sehingga dirinya berpamitan untuk kekamar sebentar karena dari tadi ponselnya berdering. Pamitan itu membuat Widuri sedikit cemas. Takut bahwa laki-laki yang ada di hadapannya benar-benar mengingatnya. Penampilannya mungkin bisa di bilang jauh berbeda dari 10 tahun lalu tapi siapa yang sangka dengan postur tubuhnya yang berisi. Bisa saja mereka mengetahui nya.

Sedangkan untuk urusan wajah. Tentu saja akan jauh dan sangat berbeda entah karena hormonnya atau karena uangnya.

Semua akan baik-baik saja. Rapal Widuri dalam hatinya. Dirinya tidak ingin tahu bahwa sebuah takdir konyol hadir di hidupnya. Maka, rapalan itu tetap di ucapkannya sambil cepat menghabiskan makanannya lalu hendak berlalu. Tapi, sayang. Semua musnah saat suara itu terdengar.

"Hallo Duri"

***

Mamuju, 19 Desember 2021

Polemik size (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang