Widuri sangat kaget mendengar panggilan itu. Karena bagaimana pun. Dirinya sudah mengubur apapun perihal masa lalu yang membuatnya hancur sehancur-hancurnya.
Jangan lupakan tampang menyebalkan itu. Terpapan nyata tidak berubah apapun. Padahal waktu berjalan cukup lama Widuri rasa.
Jika mencincang seseorang adalah hal yang tidak melanggar hukum di negara ini maka Widuri akan melakukannya dalam hitungan detik saat namanya disebut dari bibir pria itu.
"Kaget?" Tanyanya. Membuyarkan pemikiran Widuri. Sungguh hal yang ingin dilakukan Widuri saat ini. Tak lain tak bukan. Yaitu menghilang. "Pertemuan pertama. Setelah sekian lama" tambahnya.
Sedangkan Widuri hanya diam menatap pria itu berbicara. Kedua tangannya mengenggam erat piringnya yang sudah kosong dan ingin dibahwanya ketempat cici piring.
"Kamu" mode Widuri diam kembali berubah saat pria itu kembali ingin berbicara. "Tolong berhenti soh mengenal ku"
Tawa lirih, Arkan lakukan. Karena ucapan Widuri membuat egonya sedikit tersentil. Bagaimana pun dirinya tidak pernah ditolak dalam hal apapun termasuk menaklukan sebuah perempuan. Dari awal saat pandangannya berjumpah dengan sosok perempuan masa lalunya. Ingatnya kiang bertambah gimana dirinya menyesali apapun hal dilakukan dulu.
Awalanya Arkan tidak ingin menyapa masa lalunya. Tapi, sayang bibirnya berkhianat. Hingga terjadilah tatapan sengit diantaranya. "Jangan pura-pura. Saya memang mengenal mu. Lebih dari orang lain bukan?" Kutukan terus Arkan berikan pada mulutnya. Yang sialnya meluncur sempurna mengucapkan kalimat yang dirinya saja merasa sakit saat mengdengarnya.
"Kamu" suara geram Widuri lakukan. Sambil mengacukan jari telunjuknya. "Saya peringatan tuan. Anda berada pada wilayah ku"
"Saya tentu tidak peduli" ucap Arkan.
"Kalo begitu silahkan keluar dari rumah saya. Karena saya tidak menerima tamu seperti kamu"
"Oh anda mengusir saya"
Widuri merasa pertahanannya kiang menipis. Acungan jarinya kini sudah tidak terlihat lagi. Kini dirinya berdiri dari kursi hendak melangkah kedepan pria masalalunya. Tapi sebelum dirinya sampai suara itu membuat dirinya membeku seketika. "Nyalih mu. Sekarang sungguh besar"
Widuri bahkan tidak tahu harus berkata apa. Melainkan hanya mematung.
"Kalian lagi ngapain?" Suara itu berasal dari belakang Widuri. Bukannya ketegangan akan jauh lebih parah malahan berubah. Saat suara itu hadir.
Langkah demi langkah kiang mendekat. Tapi, naasnya otak Widuri tidak dapat berpikir apapun. Matanya menatap pria itu seakan meminta pertolongan. Namun, memang dasarnya pria ngeselin. Pria itu mengedipkan bahunya seakan tidak tahu apapun.
"Ibu katanya mau istirahat?" Widuri tahu beberapa langkah lagi. Wanita yang melahirkannya berada disampingnya. Dan jalan yang di tempuh Widuri tak lain yaitu membersihkan piring Arkan. Karena Widuri percaya bahwa keadaan dirinya dan Arkan dalam posisi yang bisa di bilang intens atau lebih dari orang pertama bertemu. Maka, pertanyaan itu adalah jalan ninja.
"Ibu mau minum" ucap ibu Widuri lalu berlalu kearah kulkas. Yang patut disyukuri oleh Widuri. Karena pertanyaan tadi berakhir begitu saja tanpa do jawabnya.
"Saya bisa bocorkan semua ini" tapi lagi-lagi seakan Arkan. Tidak menginginkan situasi ini menjadi mudah. Maka dirinya bersuara.
"Kamu gila?" Tanya Widuri dengan suara yang berbisik seperti Arkan.
"Kak, ini airnya juga sudah habis lo"
"Oh yah?" Widuri tidak menyaring apapun yang keluar dari mulutnya. Karena dasarnya memang dia tidak mendengar apapun yang ibunya bilang.
"Kak, kamu ngga dengar ibu" ocehan ibunya baru akan dimulai. Dari nada merajunya Widuri tahu. Maka dengan cepat Widuri menumpukan piring yang dibahwa kebelakang lalu di cucinya. "Astaga itu anak" ibunya Widuri geleng-geleng kepala. Melihat anaknya berlalu begitu saja. "Nak, Arkan sudah selesai?"
"Sudah bu"
"Yuk kedepan kalo gitu" ajak ibu Widuri kepada Arkan. Untuk kembali keruang tamu.
"Bu, saya bisa bantu Widuri untuk nyuci piring"
"Oh. Ngga perlu nak. Yuk kedepan saja"
Widuri yang mendengar percakapan itu merasa lega. Karena hal berbahaya akan timbul kembali dengan dirinya bertemu dengan sih pria Arkanan itu.
Arkanan adalah sepengal nama panjangnya. Widuri menghapalnya. Hingga sampai saat ini. Namun sayangnya dirinya ingin menolak semua itu. Tapi, apa daya jika ternyata semua itu terbanding terbalik dengan memorinya juga kemauannya.
Hanya ada beberapa piring. Tapi di ulangnya hingga dua kali proses. Mulai dari membusakan, membilas lalu menyimpannya pada rak yang berada didepannya. Rak khusus agar piring tersebut kering dan menitikan sisa air yang terdapat pada piring setelah di bilas bersih.
"Kak" panggilan itu sudah didengar Widuri sudah lebih dari tiga. Bukannya menyudahi atau menyahutin. Widuri malah diam. Membiarkan panggilan itu usai. Tapi, memang dasar wataknya tidak jauh beda darinya. Maka, langkah kaki terdengar begitu nyaring bagi telingah Widuri.
"Kamu nyuci piring lama banget sih kak" tiga langkah. Menjadi pembuka suara itu. "Kamu nyuci atau ngapain sih kak. Ayo sana ke depan. Temanin Arkan dulu sana"
"Ko kakak sih yg harus nemanin bu. Ibukan ada"
"Ibu kan cape kak. Kenapa tidak kakak saja sih"
"Kakak ngga kenal dia bu. Masa iya harus kakak" aku Widuri mengeles karena bagaimana pun dirinya tidak ingin bertemu lagi. "Lagian kakak mau mandi bu. Gerah banget nie. Seharian belum mandi"
"Yah udah sana. Kalo sudah selesai kedepan yah. Ibu ini cape banget... Atau tidak ibu kasih nak Arkan tempat tidur do lantai dua ajah yah kak. Untuk bermalam" panjang lebar ibunya berbicara. Tapi Widuri tidak ingin mendengar nya lebih lanjut. Makanya dirinya memilih untuk berjalan kekamarnya di lantai dua.
Widuri tidak tahu apa yang Arkan akan ceritakan kepada ibunya. Namun yang saat ini dia tahu. Bahwa dirinya mau rileks atau pikirannya kaco sejak Arkan hadir. Apalagi saat Arkan memanggilnya dan mendebat semua yang di ucapkannya.
Widuri menginginkan Arkan itu diam. Bukannya diam, Arkan malah banyak mengorek masalalu. Haruskah Widuri memutuskan untuk pergi lagi. Karena bagaimana pun, dirinya tidak pernah siap menghadapin masa lalu ini.
Tangan Widuri sudah siap mengambil handuk mandi dan menghancurkan pikirannya Yang melalang buana. Saat ponsel pada nakas samping tempat tidurnya berbunyi. Bunyi chat dari salah satu aplikasi terdengar.
Bukannya berjalan ke tujuannya. Malahan dia memilih untuk mengambil ponsel itu. Melihat siapa yang mengirimkan pesan itu.
Kamu+pergi
Dari beberapa chat. Hanya satu yang menarik perhatian Widuri. Nomor baru dan 2 kata satu simbol itu. Membuat Widuri mengerutkan keningnya.
Widuri sudah sering mendapatkan pesan asal. Jadi sikap acuhnya kali ini, dirinya ingin lakukan. Tapi sial benar-benar sial. Satu nama itu. Adalah mimpi buruk bagi Widuri.
Arkan
Yah, pesan itu dari Arkan. Tidak mau bingung mencari tahu bahwa siapa yang memberikan nomor ponselnya. Karena yang Widuri tahu. Ibunya akan menjadi orang terdepan dalam hal apapun mengenai Arkan.
Widuri dan pikirannya. Adalah satu kesatuan. Tapi, kali ini dirinya memilih untuk pergi ke kamar mandi. Namun, sebelum dirinya memilih melepaskan ponselnya. Ke nakas kembali. Ponselnya berbunyi menimbulkan panggilan masuk dari nomor baru. Pesan baru tambah nomor panggilan baru. Sudah jelas bahwa panggilan ini dari Arkan.
***
Mamuju, 09 Januari 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Polemik size (Tamat)
RomanceBentuk tubuh adalah satu hal yang pasti dilirik oleh kebanyakan orang. Sesudah point penting yaitu wajah. Tapi, bagaimana jika point penting itu di tumbuhin oleh sesuatu yang mengerikan seperti jerawat dan kawan-kawannya. Oh, jangan lupa dengan kaca...
