Lekas sembuh

317 20 0
                                        

Pertemuan itu berlalu dengan cepat. Widuri tahu, kalo jawabannya pada akhirnya menentukan masa depannya. Arkan meminta kembali sebuah kesempatan dan pada akhirnya tanpa ada campur tangan siapapun jawaban Widuri membuat kelegaan pada Arkan. Namun, sejak jawaban itu. Perdebatan ada-ada saja hadir, baik masalah sepele mau pun masalah yang luar biasa sepele jadi perdebatan.

"Waktu aku minta antar ke bandara. Siapa yang kamu terima telponnya lalu kamu bilang akan, kamu jemput" Arkan sudah menebak kalo hubungannya selalu akan ada perdebatan. Tentunya lantaran kecemburuannya membuat dirinya terus terang bertanya mencari hal yang ingin di tahu jawabannya.

Widuri yang sedang mengecek riasan wajahnya menggunakan cermin kecil yang di bahwanya, harus terhenti lantaran Arkan bertanya. "Oh itu. Mila" ingatnya pada waktu dimana dirinya membangun tembok buat Arkan dan sialnya takdir lagi-lagi selucu ini.

"Mila siapa?" Tanya Arkan yang mulai  ingin tahu apapun tentang Widuri. Walau dalam keadaan sedang mengemudi tidak membuat Arkan berhenti bertanya. Karena menurutnya mumpung dirinya mengingat kejadian itu.

Widuri menyimpan cerminnya ke dalam tas lalu sedikit mengeser tubuhnya untuk menghadap ke Arkan. Seat bell membatasi gerakan Widuri. "Mila, yang kemarin anaknya kamu gendong. Waktu acara lamaran"

Arkan menganggukan kepalanya. "Oh orang tuanya Marsha. Aku pikir siapa" ucap Arkan dengan santai membuat tawa Widuri meledak.

"Ceritanya cemburu" ejek Widuri sambil menoel-noel lengan Arkan. "Padahal, belum jadi milik. Cemburunya sudah gitu. Gimana sekarang yah"

Masih dengan pandangan kedepan, Arkan lakukan. Membiarkan Widuri bicara karena apa yang di ucapkan Widuri hampir 100 persen benar. Sikap dan sifatnya adalah poin besar yang bisa saja menghancurkan dirinya. Termasuk menghancurkan hubungannya.

"Kita tuh, sudah berada di tempat jauh. Tidak seperti sepuluh tahun lalu. Ego dan kawan-kawannya masih mengendalikan kita waktu dulu. Kalo sekarang pastikan kita yang mengendalikan mereka. It's okay kalo sekalih-sekalih kita salah. Tapi, jangan sampai salah terus" Arkan mendengar baik kalimat yang keluar dari mulut Widuri. "Jadi kalo ada apa-apa, ayo ngobrol. Kita cari solusi sama-sama"

Hati Arkan menghangat. "Ingatin aku. Sayang" sambil tangan kirinya mengenggam tangan Widuri bagian kanan yang sibuk menarik tisu satu persatu lalu di susunya lagi di dalam pangkuannya. "Nakal banget tangannya" tambahnya di akhiri dengan geleng-geleng kepala karena melihat Widuri yang sudah asik dengan tisu. Walau awalnya berceramah panjang lebar yang endingnya membuat Arkan tertawa.

"Nakal apanya. Ini tisu nanti aku balikin lagi di dalam boxnya, Lagian tisunya juga tidak marah. Kenapa kamu yang marah" Widuri dengan sewot berbicara. Sedangkan Arkan hanya tetap tertawa karena bagaimanapun cewek akan menang. Sesuai pasal yang beredar di masyarakat pada umumnya. Bunyinya yaitu pasal 1. 'Cewek selalu benar', dan pasal 2. 'Kalo cewek salah, lihat saja pasal 1'.

Arkan tidak ingin bermain lebih jauh maka, hal itu di pilihnya. Merasa kalah dan tidak melanjutkan topik yang membuat Widuri tambah marah. "Aku masuk" pamit Widuri setelah mobil terparkir sempurna di depan rumahnya.

Perasan Arkan jadi tidak menentu lantaran sifat dingin Widuri tercipta lagi. Awalnya Arkan tidak mengapa tapi, bagaimanapun ini terjadi karena ulahnya. "Sayang" panggil Arkan namun, Widuri sudah membanting pintu mobil lalu berlalu kearah rumahnya. "Astaga" kaget Arkan.

Widuri sudah hilang di balik pintu rumahnya. Arkan masih menatap pintu itu, walau pintu itu tidak bergerak sama sekalih. Beberapa detik berubah jadi menit hingga akhirnya Arkan memilih menjalankan mobilnya.

Dua minggu lagi. Acaranya akan terlaksana, sialnya Widuri dalam mode suka ngambek. Entah cerita yang di bilang banyak orang diluar sana. Mengenai adanya permasalahan yang terus-menerus terjadi jika dirinya dan Widuri bertemu. Jika bebal berada pada mereka berdua maka, inilah terjadi.

Suara getaran ponsel terdengar. Walau sebentar tapi, berulang membuat Arkan mencari tahu. Karena ponselnya tidak berbunyi seperti itu apalagi sebuah pesan masuk yang Arkan perkirakan. Tangan Arkan merabah di bahwa tempat duduk pengemudi. Namun, sialnya dirinya tidak menemukan dan anehnya getaran itu kembali terdengar.

"Sial" umpatnya dengan keras lalu tangannya sempat memukul setir. Rasa kesal yang kiang bertambah karena sebuah kesalahan yang dibuat kepada Widuri juga getaran yang tidak ditemukannya.

Arkan meminggirkan mobilnya. Setelah itu melepas sabut pengamannya. Badannya untuk kedua kali tunduk dengan tangan kembali merabah. Hingga akhirnya dirinya menemukan sebuah benda pipi. Kening Arkan berkerut sebelum menyalahkan ponsel pintar itu dia yakin kalo ponsel itu milik Widuri. Dari awal Arkan sudah mengerutkan keningnya dan kini lebih dalam saat ponsel Widuri menyalah.

Lekas sembuh yah.

Tiga kata itu. Membuat Arkan berpikir kemana-mana. Setahunya Widuri tidak sakit. Tapi, kenapa ada pesan itu dari Adit SP.

Ponsel Widuri yang terkunci tidak bisa membuat Arkan membuka pesan itu lebih jauh. Hanya batas pop up pemberitahuan singkat. Lagi-lagi Arkan menyadari bahwa 10 tahunnya Widuri adalah milik Widuri dan ternyata dirinya hanya pemain baru. Entah bagaimana lanjutnya, intinya dirinya memilih memperjuangkan apa yang perlu di perjuangan menurutnya.

Jika bukan karena keegoisannya mungkin dirinya sudah bahagia bersama perempuan yang di temuinya 10 tahun lalu.

"Ini apa lagi?" tanya Arkan pada dirinya sendiri. Karena bagaimana pun semua itu adalah hal yang tidak pernah diduga. Chat itu membuat pikiran negatif Arkan hadir. Jika saja buka nama Adit yang terlihat mungkin tidak kenapa. Pergi kembali kerumah Widuri pun, Arkan tidak bisa apalagi saat ini Widuri tinggal bersama kedua orang tuanya. Pernikahannya akan berlangsung di Malang. Karena berbagai pertimbangan. Apalagi Widuri di Kota rantaunya hanya seorang diri tanpa keluarga.

Hanya perlu beberapa menit Arkan sudah sampai di rumah orang tuanya. "Muka kusut bener" mama Arkan yang berada di halaman rumahnya sedang menyiram bunga. Berkomentar lantaran melihat anaknya yang pulang dengan kusut. "Udah di bilangin jangan ketemu, eh ketemuan. Rasain" bukannya merasa kasian terhadap anaknya. Malahan tambah di syukurin. Lantaran tidak didengar jika kedua penganti tidak bisa bertemu Karena bisa saja dapat masalah.

Arkan hanya berlalu. Karena moodnya benar-benar hancur. Ucapan mamanya dia anggap angin. Melewati tangan satu persatu lalu sampailah dikamarnya. Hanya perlu tidur di atas kasurnya, lalu terlelap di bawah sadar dan semuanya akan baik-baik saja. Tapi, tidak. Matanya tidak ingin tertutup dan pikirannya kemana-mana.

Ponselnya berbunyi. Di ambilnya dari kantong celananya lalu melihat siapa yang menelponnya.

Wulan ade Widuri.

"Hallo juga kak, mau tanya hpnya kak Widuri ngga jatuh di mobilnya kakak. Soalnya kak Widuri lupa hpnya dimana" setelah salam terucap. Wulan to point menanyakan ponsel kakaknya.

Arkan menginginkan jika Widuri yang berbicara tapi, kata Wulan kakaknya lagi ngga mood.

"Iya" tiga kata tapi mampu membuat wulan berucap syukur.

Sambungan telpon pun terputus dan benar-benar sial Arkan tidak berbicara bersama Widuri. Kepalanya  pusing memikirkan hal yang tidak harus di pikirkan. Wulan juga tidak bilang apapun mengenai ponsel Widuri yang berada di tangannya. Misalnya antar kerumah atau bagaimana. Melainkan setelah mengetahui ponsel kakaknya berada di Arkan, panggilan pun di akhiri.

Sudah berulang kali Arkan mencoba memecahkan sandi pada ponsel Widuri tapi, tetap berakhir gagal. Arkan hanya tetap melihat ponsel itu terus menerus hingga akhirnya alam bahwa sadarnya hadir. Matanya tertutup secara perlahan dan semuanya kembali damai.

***

Mamuju, 28 Maret 2022

Polemik size (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang