"Maksudnya?"
"Tanda terimakasih lo?" Ucap Arkan yang geram. Karena dari tadi perempuan mungil yang ada di depannya tidak mengerti. Masa iya, hanya hal kecil seperti itu harus di kasih tahu sih. Apa susahnya bilang terimakasih.
"Oh itu. Emang lo butuh?" Tanya Widuri. Dengan senyum mengejeknya mengiasi wajahnya.
"Sialan" umpat Arkan, tanpa sadar. Geram itu lah yang Arkan rasakan. Saat senyum mengejek itu hadir di wajah Widuri. "Kamu, ---" perdebatan terhenti saat Lala hadir.
"Mbak Wii, saya sama Cika deluan yah mbak"
"Iya, salam sama keluarga dirumah yah" ucap Widuri.
"Pak Arkan. Makasih banyak yah. Semoga apa yang Pak Arkan lakukan hari ini berpahala sesuai janji Allah" ucap Cika dengan tulus. Perempuan muda yang baru lulus dari sekolah menegah atas ini dengan lugas bicara. Tidak lupa binar pada matanya membuat semua orang dapat memyimpulkan bahwa ada kertarikan dari pancaran itu. Berhijab berwarna moca dengan ujung yang selalu di ikat kebelakang kini tak ada lagi. Entah sejak kapan. Yang jelas sebelum Arkan datang menyodorkan ponselnya, jilbab itu masih seperti biasa.
"Cik" Lala menyengol lengan Cika.
"Apaan sih La?" Gerutu Cika yang terganggu dengan senggolan itu. "Pak Arkan belum pulang?" Entah apa yang ada di pikiran Cika saat pertanyaan itu hadir.
"Cika, are you okay?" Lala bertanya. Setelah pertanyaan konyol Cika hadir. Sedangkan Widuri dan Arkan hanya diam tanpa bicara melihat keribukan kedua orang yang ada didepannya. Lala memegang kening Cika dan naasnya bukan Cika namanya kalo tidak menepis tangan yang hadir di kening. "Yuk, pulang" ajak Lala.
"Tunggu dulu La, aku belum dapat nomor hp Pak Arkan"
Lala meringis karena sikap Cika Yang to the point dalam hal apapun. Berdampak tidak baik bagi jantungnya. Karena bagaimana pun yang ada di depannya adalah dua orang yang jauh umurnya dengan dirinya serta mereka berdua adalah ibu bos dan juga tamu ibu bos. Lala meringis dan menarik Cika "Mbak Wii dan Pak Arkan kami pulang yah"
Susah payah, Lala menarik tangan Cika untuk berjalan menuju pintu gudang. Bukan hal mudah, apalagi Cika mengoceh terus menerus menanyakan apa yang ingin di ketahuinya tentang Pak Arkan.
"Maaf yah Pak Arkan" teriak Lala sebelum menghilang dari balik pintu yang terdapat didepan. "Ampun deh kau Cik, godain calon mbak Wii. Nyadar diri ngapa Cik" suara Lala yang mengomelin Cika Masih dapat terdengar walau sudah hilang di balik pintu besi yang tidak tertutup.
"Lala kan tahu, belum ada jalur kuning. Jadi Pak Arkan masih tidak ada ikatan yah Kan?" Balas Cika dengan tidak mau mengalah.
Widuri berdehem lalu "Maaf" sesalnya meminta maaf atas bukan kesalahan yang di buatnya. Tapi, bagaimanapun kedua perempuan muda itu adalah bagian dirinya yang sudah di anggapnya keluarga. Bisa di bilang adiknya. Karena terlahir menjadi anak tunggal membuatnya merindukan kehangatan kakak dan adik.
"Untuk?" Tanya Arkan yang sesungguhnya tidak meminta maaf yang terucap dari Widuri melainkan terima kasih.
Bukannya menjawab Widuri malah berlalu begitu saja. Berjalan kearah beberapa karyawannya yang belum memutuskan pulang walau sebenarnya memang belum jam pulang. Pikiran Widuri sudah berkelana dan apapun yang tidak seharusnya dipikir ternyata kembali terpikir.
Arkan adalah penyebab dari pikirannya.
Sekian banyak orang dimasa lalunya. Kenapa harus pertemuannya antara Arkan yang terjadi. Jangankan berbicara, berdekatan pun Widuri tidak menginginkan itu. Jadi takdir konyol apa lagi yang Tuhan berikan padanya. Sejauh ini Widuri pikir dirinya sudah berlalu jauh tapi, sayangnya jauhnya itu dapat bertemu lagi dengan masalalunya.
"Mbak Wii"
Panggilan pada namanya menghentikan langkah dan pikirannya yang berkelana. Kepalanya menengok dan pandangannya bertemu dengan pekerjaannya yang lagi memanggilnya. Satria, orang yang memanggilnya bernama satria. Kepala produksi. "Yah, Sat"
"Mau tanya. Ini bonus yang terkirim bersama gaji. Nominalnya memang begini?" Ucap Satria sambil menunjukkan ponsel pintarnya yang menampilkan nominal yang terbilang dari salah satu bank swasta melalui mbanking.
"Emang kamu ngga tanya ke mbak Fany? Setahu aku, ini semua yang atur mbak Fany deh" Widuri menjawab sambil melihat beberapa angka yang terbilang besar dalam tampilan mbaking itu. Mbak Fany merupakan orang yang tahu berapa gaji/upah di berikan tiap orang. Karena mbak Fany merupakan HRD di perusahaan kecil Widuri.
"Sudah mbak wii tapi, di bilang mbak Fany hanya menjalankan perintah"
"Oh. Kalo gitu yah di syukurin Sat. Rejeki anak dan istri di rumah itu" Widuri lebih memilih jalan pintas. Karena beberapa orang yang memang sudah bekerja dengannya terbilang lama. Apalagi Satria dari awal Widuri merintis usaha. Dirinya berada di belakang. Menyaksikan pasang surut sebuah perjuangan yang tidak henti. Jadi sebuah bonus dengan nominal yang wow itu akan jadi hal biasa bagi Widuri.
Urusan dirinya di panggil mbak. Itu hal biasa, apalagi Satria memang berada di bahwanya 2 tahun lebih muda. Namun, jangan salah Satria sudah memiliki buah hati dari hasil pernikahannya satu tahun lalu. Jadi menurutnya panggilan itu hal biasa.
"Kalo ngga mau. Yah, untuk aku ajah Sat" Widuri dengan keisingannya.
"Bukan gitu mbak. Cuman kaget aja" Satria di akhiri dengan kekehan geli. Mendengar bosnya meminta gajinya. "Yah udah mbak, itu ajah. Makasih banyak yah mbak"
"Siip deh. Salam Olin dan Kila yah Sat"
"Iya Mbak" setelah Satria menjawab dan berlalu. Widuri ingin melanjutkan langkahnya. Namun, sialnya ternyata pria yang ingin di hindarinya. Masih mengikutinnya.
"Mbak Wii yah di panggilnya?" Ucap Arkan.
Widuri yang memilih untuk tidak pusing, terhadap apapun. Pilihan yang di ambil yaitu tetap berjalan melanjutkan jalannya. Untuk lebih jauh kebelakang gudang tempat produksi produknya. Tapi, entah yang keberapa kali kata sial terucap dari bibirnya dan kali ini dirinya harus berhenti dengan paksa. Lantaran tangannya di tarik. "Sampai kapan?" Suara Arkan kembali.
Kening Widuri berkerut. Menadakan tanda tanya perihal atas sebuah pertanyaan yang baru di keluarkan Arkan itu. Dan jangan lupakan sekat antara ruang produksi dan depan sebagai tempat adminstrasi membuat Arkan leluasa. Apalagi posisi Widuri yang di himpit oleh tubuh Arkan membuatnya sesak. Terpojok kata itu paling cocok. "Apa-apa ini" Widuri mengelurkan suaranya dengan geram.
"Kamu Yang apa-apa? Kenapa pergi"
Sungguh Widuri tidak paham. Atas pertanyaan itu. Tapi, satu hal yang tetap di ketahui Widuri. Bahwa laki-laki ini tidak pernah berubah. Wanginya masih sama. Hanya saja perawakannya jauh lebih tinggi dan badanya berisi dari waktu pertemuan terakhir. "Aku mencari mu" Arkan menudukan kepalanya menempelkan dengan kepala Widuri. "Kamu kemana?" Tanya Arkan dengan putus asa. Dan kedua bola mata itu menampilkan keputusan asa serta kekecewean.
Tiga suku kata itu menghentikan detak jantung Widuri. 'Aku mencari mu' berulang seakan jadi kaset rusak di kepala cantiknya.
Arkan mengikis jarang dan bibir itu hampir bertemu tapi terhenti saat pintu dari depan terbuka secara tiba-tiba. Menampilkan satu karyawan yang bertugas pada shift kedua "Sorry mbak" suara itu menjelaskan bahwa dua manusia yang berbeda jenis kelamin itu sedang tertangkap berbuat hal yang tidak-tidak. Pintu kembali tertutup. Widuri yang sadar dengan kondisi itu. Mendorong Arkan. Lalu berlari meninggalkan Arkan dengan pikirannya.
****
Mamuju, 24 Januari 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Polemik size (Tamat)
RomanceBentuk tubuh adalah satu hal yang pasti dilirik oleh kebanyakan orang. Sesudah point penting yaitu wajah. Tapi, bagaimana jika point penting itu di tumbuhin oleh sesuatu yang mengerikan seperti jerawat dan kawan-kawannya. Oh, jangan lupa dengan kaca...
