Para karyawannya dipulangkan setelah semuanya kembali pada posisi seperti awal. Tempat yang tadi kosong kini sudah terisi oleh meja dan barang-barang yang di pakai untuk buat proses produksi barang. Tersisa dua karyawan yaitu Lala dan Satrio. Yang bertugas untuk mengembalikan perangkap admin.
"Mbak Wii, kami pamit pulang yah" Lala berpamit karena tinggal dirinya dan Satrio yang memperbaiki komputer untuk besok bisa langsung di jalankan.
"Iya La, makasih banyak yah"
Tangan Lala yang sudah siap mencangkol tas di pundaknya kembali bicara "Apaan sih mbak. Malahan saya yang terima kasih sudah buat keluarga kami senang. Ini baru pertama kali di adakan tapi, Alhamdulilah sukses banget. Karena banyak yang happy mbak" akhir Lala dengan cekikilan.
Satrio yang dari depan juga ikut bicara. "Wes mbak. Sukses pol" ucapnya.
Widuri sungguh tidak berhenti mengucap syukur. Karena semua yang ingin dilakukannya dari dulu sudah terlaksana. Dirinya sangat suka kalo semua orang happy dengan apa yang di buatnya. Motto hidupnya bermanfaat. "Nanti kita pikir untuk rekreasinya yah. Siapa tahu sukses seperti ini juga"
"Beneran mbak?" Lala bertanya.
Widuri mengangguk dan sontak Lala bertambah hebo. "Apaan sih La, norak banget" ucap Satrio mengejek Lala.
"Apaan sih lo bang. Sudah punya buntut tuh gini. Jadi pikirannya pendek. Kalo pergi rekreasi malas. Padahal bagus untuk perkembangan buat otak anak" oceh Lala.
Satrio mengelengkan kepalanya. "Astaga La, ko bahwa buntut ---"
"Sudah. Kalian sana pulang. Jadi panjang lagi kalo kalian saling mengoceh" Widuri memotong Ucapan Satrio saat ingin panjang lebar mengoceh untuk Lala.
Sedangkan Satrio dan Lala saling melihat sebelum sembunyi-sembunyi tertawa tanpa suara. Karena baru kali ini Widuri angkat bicara, sebelumnya Widuri akan berlalu meninggalkan karyawannya yang mengoceh satu sama lain. "Maaf Mbak" aku Satrio.
"Kalo gitu kami pamit mbak" Lala untuk kedua kali berpamitan. Widuri mengangguk lalu Lala dan Satrio berlalu. Meninggalkan Widuri seorang diri. Memang karena Widuri juga ingin pulang tapi, melihat ada tiga orang yang tidak ingin di jumpainya dirumahnya maka, dirinya memanggil Lala. Kebetulan Satrio sudah berlalu tinggalah Lala yang baru siap-siap di atas motor.
"La"
Lala menaikan kaca helmnya. "Iya mbak"
"Kamu langsung pulang?" Dengan ragu-ragu Widuri bertanya.
"Iya mbak, nopo?" Lala sudah mematikan motornya dan fokus menjawab pertanyaan dari bu bosnya.
Widuri mengeleng sebelum akhirnya terpaksa kembali bicara. "Mau nonton ngga La? Mbak mau nonton. Tapi, ngga punya teman"
Sebenarnya Lala berat hati ingin menerima. Apalagi Lala tahu kalo mbak Widuri bisa mengajak Pak Arkan. Cuman mungkin ada masalah jadi Lala menjawab. "Yuk, mbak nonton opo?" Dielek Lala yang asli jawa selalu keluar walau hanya sedikit.
"Ku kira kau rumah, kayanya bagus deh La" Widuri yang sudah nonton spoiler film ku kira kau rumah langsung sebut film itu. Kebetulan masih tayang kalo Widuri tidak salah ingat.
"Iya mbak, kayanya bagus banget mbak. Kapan mbak perginya? Sekarang"
"Iya La, mbak kunci gudang dulu yah" Widuri berbalik untuk mengunci gudang sebelum akhirnya dia naik di belakang motor Lala. Memakai helm yang ada di ruang tunggu tanpa pakai tas atau membawa dompet hanya bermodalkan ponsel, widuri pergi nonton bersama Lala.
Perjalanan cukup singkat. Entah karena mereka berdua yang tidak berhenti cerita atau karena pikiran Widuri yang ingin lari jadi semua terasa biasa dan jauh lebih cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Polemik size (Tamat)
RomanceBentuk tubuh adalah satu hal yang pasti dilirik oleh kebanyakan orang. Sesudah point penting yaitu wajah. Tapi, bagaimana jika point penting itu di tumbuhin oleh sesuatu yang mengerikan seperti jerawat dan kawan-kawannya. Oh, jangan lupa dengan kaca...
