Setelah pertanyaan itu. Sialnya Arkan benar-benar memilih untuk bermalam dirumah Widuri.
Widuri dengan tingkah kepemilikan atas tempat tinggalnya. Maka, sesuka hati akan dilakukannya. Termasuk untuk tidak bersikap ramah tentunya kepada sih tamu. Apalagi dalam kondisi ibunya tidak bersamanya.
"Ini kamarnya?" tanya Arkan saat pintu kamar di buka lebar oleh Widuri. Arkan sadar kalo perempuan di depannya sedang muak dengan apapun yang dilakukannya. Tapi, demi menurutin kemauan ibunya. Dia mau menunjukkan dirinya mana kamar yang Akan di huninya selama semalam. "Masih marah?" Tidak ada jawaban membuat Arkan maju terus menerus. Menghimpit kembali tubuh Widuri dengan pintu kamar yang berada di belakang Widuri dan dirinya berada di depan.
Bukan menjawab, malahan Widuri. Menginjak kaki Arkan yang menurutnya sungguh kelewatan.
"Duri" reflek Arkan memanggilnya dengan nama ejek widuri Setelah kakinya di injak oleh Widuri.
Memelet Widuri lakukan sambil bilang "Rasain" lalu berlalu menjauh. Masuk kedalam kamarnya yang berada di samping kamar tamu yang sekarang di tempatin Arkan. Soal kamar tamu di rumah widuri ada dua yaitu di bahwa lantai 1 dan diatas lantai 2 tepat disamping kamar Widuri berada. Tapi, sayangnya lantai bahwa kamar tamu, seminggu kemarin menjadi gudang sementara. Sehingga mau tidak mau. Widuri harus merelahkan wilayahnya bagian atas terkonteminasi oleh orang yang paling di hindari di muka bumi ini.
Kadang Widuri tidak habis pikir dengan takdir tuhan. Apalagi mengenai pertemuan ini.
"Dasar kejam" teriak Arkan dari balik pintu kamar Widuri yang telah ditutup rapat. Setelah memeletkan lidah ke Arkan.
Balas Widuri "Bodoh! Yang penting aku senang" bunyi pintu di ketuk membuat Widuri tambah tertawa cekikilan. Karena menurutnya, Arkan gemes kalo lagi marah. "Astagafirullah" ucap Widuri lalu memukul kepalanya dengan menggunakan tangan kanannya. Ucapan memuji dari pikirannya yang terolah sendiri membuat Widuri memaki pikirannya. "Gila! Bagian mana yang gemesin sih. Yang ada malah amit-amit. Lihat ajah lebih banyak pengaruh buruk yang dia bahwa dari pada pengaruh baik bukan?" Emang dasarnya Widuri butuh kebenaran. Maka, tak ayal hal-hal yang buruk bisa terucap dari mulutnya. Untuk bisa menang terhadap pikirannya. Apalagi mengenai Arkan.
Tangan Widuri merabah, mencari benda pintarnya yang seingatnya dia simpan di atas tempat tidurnya "Akhirnya" dia mendapatkannya.
Dengan lincah tangannya membuka password dan hal pertama di lihatnya yaitu deretan chat masuk. Tentunya dari nomor baru. Siapa lagi kalo bukan orang yang tidur di kamar sebelah.
Awalnya Widuri tidak ingin membuka chat itu. Tapi, kekepoannya meningkat jadi tingkah dewa. Maka, dengan satu sentuhan dirinya dapat melihat. Apa saja pria itu kirimkan.
Hanya ada enam chat dan chat itu hanya berisi pertanyaan yang baru beberapa menitnya di dengarnya.
Masih marah?
Oh god! Rasanya, memaki pun adalah hal pembuka dari semua kelakuan absolute yang dilakukan Arkan sialan itu. Pertemuan, ejekan, tempel bibir sampai dengan selalu ingin tak menjarak darinya. Adalah hal memuakan yang membuat dirinya. Marah, jengkel, dan kecewa. Tentunya dari itu semua Widuri tidak sedang baik-baik saja.
Cuman di read!
Sial, benar-benar sial. Arkan kembali mengirimkan chat.
Aku kebawah
Sungguh, Arkan adalah pria yang memang seperti ini. Widuri sudah mengetahuinya. Kalo dibandingkan dengan yang dulu, Arkan jauh lebih aktif dulu di banding dengan sekarang.
Keaktifannya bukan hanya dalam bidang pelajaran atau bidang ekstrakurikuler yang ada disekolah. Namun, juga aktif membangun sebuah silaturahmi termasuk dengannya. Siapa yang sangka anak yang diterbelakangkan oleh kondisi fisik saat itu. Bisa menjalin silaturahmi dengan senior dan ketua osis pada jamannya.
Indah. Yah, Widuri aku itu. Tapi, semua berubah. Saat dirinya mengetahui dan mengubah kata indah itu menjadi kata hancur. Semua yang ada pada Widuri hancur. Siapa penyebabnya yaitu masa lalunya.
Siapa yang berhak disalahkan. Tentu tidak ada. Karena bagaimana pun. Widuri tidak mau menyalahkan sang pencipta atas apa yang diciptakannya pada dirinya. Tubuhnya yang besar, jerawat yang ada dan mata mines. Itu semua anugrah yang naasnya di pandang buruk oleh orang lain.
Dirinya bahkan menjadi pesuruh dan di bully abis-abisan. Tapi, apakah Widuri merutuki ibunya, orang tuanya yang menghadirkannya di muka bumi ini. Tentu tidak, karena orang tuanya begitu bahagia memiliki dirinya namun hanya ibunya. Sedangkan papanya entah kemana.
Entah berapa lama dirinya berpikir kemana-mana. Sampai rasa haus menyerang tengorokannya.
Widuri memilih untuk kedapur. Karena gelas yang biasa terisi air untuk di minum saat haus di kamar. Kini kosong.
Sunyi itu yang pertama kali menyambut Widuri saat kakinya melewati pintu kamarnya. "Bukannya ini hal biasa?" Gumanya. Merutuki pikirannya yang baru beberapa jam ini terkonteminasi lantaran kehadiran Arkan, yang membuat kesunyian berubah. Sehingga timbul pikiran-pikiran yang baru saja di pikirnya.
Kakinya melangkah menurunin tangga. Terdengar samar-samar orang berbicara. Pikirnya mulai menebak-nebak. Apalagi chat terakhir Arkan membuatnya memikirkan bahwa suara itu milik pria yang pamit untuk kebawah.
Pamit? Bukan, bukan. Pamit tapi, iseng.
Widuri dan pikirannya adalah satu kesatuan saat ini. Sehingga mau tidak mau. Suka tidak suka Widuri akan menanggapin apa yang ada dipikirannya. Entah membantah atau membenarkannya. Yang jelas Widuri akan melakukannya itu.
Kiang dekat dengan lantai bahwa. Suara itu semakin jelas. Dan jangan lupa kalo mereka tertawa.
Dan fiks suara perempuan itu. Ibunya.
"Menurutmu Cika itu gimana nak Arkan?"
Oke. Ibunya bertanya dan suara itu jelas terdengar karena sumber suara itu tidak jauh dan tidak terlalu banyak sekat. Sehingga dalam keadaan sunyi. Hanya percakapan dua orang itu yang terdengar.
"Maksud tante, kalau---" kalimat ibunya terhenti saat kaki Widuri tidak sengaja menyengol guci yang berada di meja sudut.
Prakk
Rutukan pada dirinya kembali dia lakukan. Karena bagaimana pun dampak ini. Sungguh tidak baik buat kesehatan jantungnya dan mukanya yang tentu saja malu.
Bodoh, bodoh, ucapnya kepada dirinya seorang.
Langkah kaki itu kiang mendekat dan membuat Widuri tambah tunduk pura-pura memungut pecahan guci itu. Walau sebenarnya memang dirinya memungut pecahan tersebut. "Astaga kak? Ini kenapa" Widuri diam. "Kalo masih ngga kuat itu di kamar ajah. Kalo gini kan. Jadinya runyam. Aduh, aduh sini ibu saja yang bersihkan. Sana kamu hauskan. Pergi minum gih"
"Ngga apa bu. Ini kakak saja yang beresin" Rasa bersalah hadir. Karena bagaimana pun Widuri sebenarnya hanya pura-pura sakit. Tapi, naasnya di anggap sakit betulan.
"Ist anak ini" oke, oke kalo ibunya sudah masuk dalam mode ingin mengomel maka, menghindar adalah hal yang tepat untuk dia lakukan.
Widuri berdiri sambil bilang "Makasih bu" dan tidak lupa lesung pipinya hadir. Membuat orang yang dari tadi hanya diam menikmati perdebatan antara ibu dan anak. Kini mefokuskan dirinya melihat Widuri. Senyum itu seakan menghipnotisnya. Karena bagaimana pun Arkan tidak pernah melihat senyum itu dengan leluasa.
"Cantik" guma Arkan tanpa sadar
****
Mamuju, 29 Januari 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Polemik size (Tamat)
RomanceBentuk tubuh adalah satu hal yang pasti dilirik oleh kebanyakan orang. Sesudah point penting yaitu wajah. Tapi, bagaimana jika point penting itu di tumbuhin oleh sesuatu yang mengerikan seperti jerawat dan kawan-kawannya. Oh, jangan lupa dengan kaca...
