Setiap hal yang hadir dalam hidup. Akan ada dua sisi antara baik dan buruk, begitupun di hidup Widuri. Entah bagaimanapun syukur dan ketidakmampuan selalu hadir. Widuri sudah melewati itu, dimana ketidakmampuannya berakhir dengan kebahagian yang tidak bisa di ukur lewat apapun.
Hanya seorang diri berubah menjadi sebuah keluarga. Itu adalah gambaran atau impian semua orang di muka bumi ini. Lihatlah keluarganya bukan hanya bertambah satu tapi, bertambah banyak. Tidak terhitung keluarga Arkan yang membuka tangan menerimanya. Walau tampa ucapan tapi, Widuri tahu dengan cara yang beda mereka merangkulnya.
Semua canda tawa terdengar dari balik dinding. Ruang keluarga Widuri dan Arkan kini terisi full oleh keluarga mereka berdua. Godaan dan ejekan menjadi hal yang lumrah untuk di dengar. Apalagi para sepupunya yang masih memilih sendiri tanpa ikatan menjadi hal yang utama jadi pembahasan.
"Nanti di julukin perawan tua, nangis" olohkan itu terdengar jauh lebih dahsyat dari olohkan lain.
Widuri menyelesaikan lebih cepat. Minuman yang akan di sajikannya ke depan. Agar bisa menghentikan olohkan itu, walau yang di oloh bersikap bodoh amat. Bodo amat itu adalah cara terakhir yang dilakukannya agar berada di zona baik-baik saja walau sebenarnya tidak seperti itu.
"Mbak Wii, ngga usah repot kasian dede bayinya" sepupu Arkan yang memang lebih banyak bicara itu, berbicara menegur apa yang dilakukan Widuri yaitu membantu menyiapkan minuman. "Kalian tuh yang masih single harusnya banyak goyang" tambahnya dengan menyeprot para sepupunya.
Widuri yang sudah duduk dengan benar. "Ngga apa-apa. Ini hal sudah biasa saya lakukan. Ayo diminum" akhir Widuri mengajak tamunya untuk meminum minuman yang di bawahnya. Kali ini kumpul-kumpulnya tidak berdasar apapun dan Widuri membuka kedua pintunya lebar-lebar perihal kunjungan ini walau tanpa tujuan.
"Assalamualaikum" salam terucap dari pintu utama. Membuat Widuri menjawab dan hendak berdiri sebelum akhirnya sepupu Arkan yang bernama Lina memintanya duduk kembali karena dia yang akan menyambut tamu.
"Walaikumsalam. Cari siapa yah?"
"Mbak Widuri nya ada?"
"Ada, silahkan masuk" Lina menggiring tamu Widuri untuk masuk ke ruang keluarga. "Mbak Wii, ada yang cari"
Widuri yang sedang asik mengobrol menghentikan obrolannya dan berbalik menghadap sumber suara Lina. Disana terdapat dua karyawan nya Lala dan Cika.
"Astaga La, Cik kenapa ngga bilang-bilang kalo kesini" ucap Widuri "Sini-sini duduk dulu" ajak Widuri melihat Lala dan Cika yang masih berdiri. Beberapa orang yang berada di posisi sedang memenui tempat duduk di ruang tersebut memilih minggir. "Duduk disini"
"Wulan yang ajak kami mbak" Lala angkat bicara setelah duduk.
"Yah udah, terus Wulan dimana? Mbak ngga lihat"
"Assalamualaikum mbak Wii" teriakan membahanan terdengar tidak jauh padahal orang yang beri salam masih berada di pintu utama sedang berjalan ke ruang keluarga.
"Suprise" ucapnya setelah sampai di depan Widuri.
Widuri melongo saat menyaksikan siapa yang datang bersama Wulan yaitu semua karyawan nya. "Astaga. Kalo kalian disini semua. Gudang gimana?" Widuri panik karena jam masih menujukan jam kerja seperti biasanya. Dimana jam seperti ini adalah jam tersibuk lantaran orderan membludak.
"Maaf mbak Wii" Satrio merasa tidak enak memilih untuk meminta maaf karena dirinya tergiur untuk ikut meninggalkan gudang. "Kalo gitu kami, kegudang kembali yah mbak"
"Kak Satrio dan yang lain ngga boleh balik. Siapa yang akan habisin belanjaan ini kalo kalian kembali ke gudang, Ha?" Wulan bicara dengan cara seakan berteriak dan menunjukkan belanjaan yang dibawahnya. Sedangkan Widuri memegang perutnya yang besar sambil kepalanya dia geleng-gelengkan.
Kelakuan adenya memang begini dan dirinya harus menahan untuk tidak mengumpat atau mengusir. Lala dan Cika yang duduk kini juga ikut berdiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Polemik size (Tamat)
RomanceBentuk tubuh adalah satu hal yang pasti dilirik oleh kebanyakan orang. Sesudah point penting yaitu wajah. Tapi, bagaimana jika point penting itu di tumbuhin oleh sesuatu yang mengerikan seperti jerawat dan kawan-kawannya. Oh, jangan lupa dengan kaca...
