"Sana, pulang!" Widuri mengomel saat melihat Arkan masih duduk sambil menonton di ponselnya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul tengah malam. "Arkan. Kamu dengar ngga sih" Widuri berbicara dengan melangkah lebih dekat ke arah Arkan.
Sampai didepan Arkan. Widuri merembut ponselnya. Lalu berlaga menjadi ibu kos galak karena anak kosnya belum bayar kos. Tangannya di letakan di pinggang. Matanya menatap Arkan yang sialnya Arkan menatap dirinya pula. "Kamu ngga mau aku temanin? Lagian aku takut kamu kenapa-kenapa. Ngga masalah ko, aku tidur disini"
"Kamu yang ngga masalah tapi, saya yang masalah"
"Terus gimana?" tanya Arkan yang putus asa.
Widuri masih di posisinya. "Yah, kamu pulang lah"
"Ngga boleh tinggal disini?" tawar Arkan. "Jika esok hari langsung pulang, apa tidak mengapa?" setelah makan malam yang di masak oleh Widuri, dengan berlaga untuk istirahat di ruang tamu Arkan malah lebih berleha-leha dan menunggu moment untuk meminta maaf lagi.
"Terserah" ucap Widuri lalu kembali ke atas dikamarnya. Karena mengusir Arkan dari rumahnya hal sulit untuk saat ini. Tapi, bodohnya Widuri baru menyadari kalo ternyata ponsel Arkan yang sempat di ambilnya berada di tangannya.
Ponsel Arkan menyalah menampilkan foto yang sama di lihat Widuri di Mobil.
Jantung Widuri berdebar lebih dari normal. Entahlah, yang jelas Widuri merasa ada yang beda. Amarahnya kiang surut.
Jatuh cinta lagi? Bukan, bukan jatuh lagi. Karena Widuri akan menolak apapun perihal cinta untuk saat ini. Jadi bukan jatuh cinta lagi. Tapi, ada hal yang tidak bisa di jelaskannya.
Ponsel Arkan berbunyi.
Rasyid is calling
Widuri bingung. "Arkan sialan" umpatnya, lantas berbalik membuka pintu dan ternyata Arkan berada disana. Didepan pintu. "Ini ada yang nelpon"
Arkan mengambil ponselnya. Bukannya berbalik pergi menjauh. Malahan Arkan tetap berada di posisinya. Men-loundspeaker panggilan telponnya.
"Boy" panggilan pertama langsung terdengar. "Are you okay? You still live there"
"Hmm" guma Arkan.
"Ham, hmm. You okay? Are you still there? Boss angry because you not office" terang rasyid mengebu-gebu menggunakan bahasa inggris. Karena Arkan tidak pernah mengangkat telponnya walau sekalih. Ini pun Arkan mengangkat telponnya karena ada widuri. "you have found your wife?"
"Ya" jawab Arkan pada akhirnya. Bagaimanapun Rasyid tidak berhenti bertanya jika pertanyaan tidak di jawab. "Sudah dulu" ucap Arkan. Lalu mengakhiri panggilan.
Widuri masih berdiri. Setelah panggilan telpon Arkan usai. Widuri melangkah ketempat tidurnya dan duduk ditepi tempat tidurnya. Arkan masuk mengikuti Widuri untuk duduk tepat disampingnya. "Kenapa?" tanya Arkan.
Diam, Widuri diam, karena bagaimanapun Arkan menyebutnya istri. Sehingga tidak ada kalimat apapun keluar dari mulutnya. Arkan pun sama. Entah apa yang mereka lakukan hingga akhirnya diam menjadi hal wajib jika mereka berdua bersama.
Sosok dua orang yang memiliki masa lalu yang saling menyakitkan, bertemu. Hingga akhirnya tidak ada apapun yang mampu di ucapkan. Arkan selalu bingung terhadap apa kesalahannya. Tapi, sayangnya setelah mendengar penjelasan dari mamanya. Dia mengerti bahwa semua kesalahannya tidak mampu di maafkan hanya karena satu kata maaf yang terucap.
Menghancurkan semua hal di dalam Widuri adalah kesalahannya.
Widuri pun begitu. Dirinya tidak meminta penjelasan apapun terhadap Arkan. Melainkan kabur adalah jalan ninjanya.
Meratapi pun akan tetap begini. Satu yang tidak terima penjelasan dan satunya ingin menjelaskan apa yang baru di tahunya.
"Maaf" ucap Arkan pada akhirnya. "Tadi itu Rasyid teman kantorku. Aku memang cuti cuman beberapa hari dan bilang cutinya karena ingin cari kamu" Widuri hanya mendengar. "Sejak lama aku mencari mu. Tapi, entah apa yang tuhan ingin tunjukan pada ku. Aku bertemu kamu disini dalam keadaan mengantar tante. Awalnya aku sudah putus asa atas pencarian ku selama sepuluh tahun" tambah Arkan.
Arkan mulai memberanikan dirinya untuk mengambil tangan Widuri. Di genggamnya dengan erat. "Aku merindukan mu"
Lidah Widuri keluh. Ingin rasanya dirinya juga bilang yang sama. Namun, sebuah sakit hati yang hadir hingga mengering dan rasanya susah untuk hilang atau sembuh. Jadi beginilah dirinya. Diam memberikan Arkan dengan porsinya.
"Kamu apa kabar?" tanya Arkan. Padahal Arkan sudah berjumpah dengannya lewat dua puluh empat jam. Namun, baru sekarang dirinya bertanya kabarnya. "Maaf" sesal Arkan.
Widuri menangis. Arkan memeluknya dan kali ini tidak ada penolakan. Widuri merasa semuanya sedang berada tidak baik-baik saja. Karena bagaimanapun dirinya hanya manusia biasa. Hanya saja tuntutan yang membuatnya begini. Dituntut kurus, di tuntut cantik. Itulah dunia yang membuatnya tidak baik-baik saja.
Mencari jati diri walau pada akhirnya dirinya bersembunyi di tempat paling susah di jangkau. "Maaf" ulang Arkan.
"Harusnya tidak begini. Jadi apapun yang kamu buat selama sepuluh tahun itu adalah kesalahan ku"
Arkan juga menangis. Menyesali semua kesalahan yang terjadi. Tangan Arkan mengusap kepala Widuri dengan lembut. Membiarkan Widuri menangis sejadi-jadinya untuk kedua kalinya di hadapannya. Tentunya bukan hal mudah, untuk melewati itu semua dengan sendirian. "Menangislah"
Widuri benar-benar menangis. Rasanya ada jutaan ton besi yang menghimpit hatinya. Meninggalkan sesat yang berkepanjangan. "Ken-apa kamu hadir?" Widuri bertanya dengan tersedak lantaran tangisnya. "Ke-napa ba-ru se-karang?"
Bukan Arkan tidak ingin menjawab. Tapi, Arkan juga tidak tahu jawaban apa yang Akan diberikannya. Dirinya juga sudah berusaha walau pada akhirnya tidak ada jalan untuk pertemuannya.
Tangan Widuri tidak bisa diam. Memukul dada arkan. Kemarahannya, di lampiaskannya. "Tol-ong pergi"
Arkan kembali menangis karena merasakan sesak. Sesak itu tidak ada apa-apanya di bandingkan sakit yang diciptakannya buat Widuri.
Beberapa menit sudah terlewatkan. Widuri tidak memiliki tenaga. Sehingga Arkan membarikan Widuri. Arkan memposisikan bantal dan menyelimutin Widuri. Setelah itu Arkan kembali memainkan tangannya di kepala Widuri. Mengelus lembut, seakan menina-bobokan. Mata Widuri yang sudah berat di tutupnya dan tidak lama nafas Widuri keluar secara teratur.
Sempat gerak beberapa kali dan Arkan kembali mengerakan tangannya di rambut Widuri. Setelah cukup nyenyak. Arkan ingin pergi namun, bajunya di tahan dan penyebabnya adalah perempuan yang sedang tertidur itu.
"Arkan" namanya terdengar samar di panggil dan Widuri penyebabnya tapi dalam keadaan sedang ngigau. Arkan kembali ke posisinya duduk dan mengusap lembut rambut Widuri.
Sambil berguma "Maaf" terus menerus. Harusnya dirinya menjaga Widuri. Bukan menghancurkannya. Dirinya tahu kalo Widuri adalah anak tunggal yang di tinggalkan papanya. Tapi, itu semua bukan alasan untuk membuat Arkan tidak menyakit Widuri.
Widuri hanya gadis lugu yang secara tidak langsung dirinya hancurkan. Awalnya bertemu menjadi teman, hingga ada rasa lebih yang timbul dan orang pertama yang mengungkapkan rasa itu adalah Widuri dan sialnya teman-teman Arkan menjadikan hal itu jadi bahan taruhan. Menghancurkan anak polos dengan iming-iming di akui hebat dalam sirkuit pertemanan.
Bukan hanya soal pengakuan tapi, juga sebuah kepercayaan atas semua hal yang dimiliki Widuri. Sialnya Widuri yang tergila-gila kepada Arkan merelahkan semua itu.
Arkan yang mengingat semua hal itu dan tidak lama dia merebakan dirinya, menatap Widuri yang tertidur dengan pulas. Sambil terus memegang tangan Widuri. "Rasanya akan beda. Jika kelakuan ku tidak seperti dulu, yah kan?" Ucap Arkan pada Widuri yang tertidur pulas. "Kamu tidak akan semenderita ini. Hidup mu akan baik-baik saja. Harusnya kita tidak bertemu waktu dulu yah kan. Kalo aku bisa memilih aku yang menderita. Tidak mengapa. Aku ikhlas tapi, jangan kamu"
Widuri membalas genggam tangan Arkan dengan mata yang masih tertutup rapat. Air mata Arkan kembali keluar untuk kesekian kalinya sejak bertemu masalalunya.
****
Mamuju, 06 Maret 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Polemik size (Tamat)
RomanceBentuk tubuh adalah satu hal yang pasti dilirik oleh kebanyakan orang. Sesudah point penting yaitu wajah. Tapi, bagaimana jika point penting itu di tumbuhin oleh sesuatu yang mengerikan seperti jerawat dan kawan-kawannya. Oh, jangan lupa dengan kaca...
