Ponsel Arkan berbunyi nyaring. Sempat memekik telingah mereka berdua sebelum akhirnya Widuri mengambil bajunya lalu ke nakas samping tempat tidur. Tempat ponsel Arkan berada. "Dijawab"
Arkan hanya menatap Widuri lalu mengambil ponselnya. Bukan menekan tombol hijau melainkan tombol merah. Setelah panggilan telpon itu diketahuinya. "Kenapa ngga di angkat?" tanya Widuri karena ponsel itu kembali berdering menampilkan panggilan yang sama. Arkan dalam mode tidak ingin bicara maka, tangannya yang kanan di pakai untuk menutupin matanya. "Yah udah, yuk makan" ucap Widuri dengan takut-takut meminta Arkan untuk turun makan. Setelah dirinya merapikan kekacau yang di buat Arkan padanya, seperti menyisir rambut sampai memakai dalaman jauh lebih lengkap dari sebelumnya.
Sebenarnya Widuri takut karena Arkan dengan mode seperti ini sungguh menakutkan. Jadi sebisa mungkin Widuri menghindar.
Kenop pintu di tekan kebawah untuk membuka kamar dan keluar dari kamarnya. Membiarkan Arkan dengan pikirannya didalam kamarnya.
Beberapa bagian pada lehernya terdapat warna keunguan. Widuri tidak heran, karena pada saat pertama kali pun melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Warna itu ada dan saat ini terjadi Widuri merasa luar biasa. Bohong bila Widuri tidak merasakan seperti hal yang dirasakan Arkan. Nikmat sangat nikmat. Tapi, konsekuensinya akan besar. Berdosa! sekotor itukah dirinya untuk kedua kali harus berdosa karena sebuah kenikmatan yang jujur sangat dia inginkan.
Sambutan dapurnya membuatnya geleng-geleng kepala. Wajan yang miring, nasi goreng yang tidak terbentuk di atas piring sampai dengan kursi yang terbaring. "Astaga" pekiknya. Mau tidak mau dirinya harus membersihkan semuanya dulu baru makan. Karena bagaimanapun perutnya tidak akan terasa lapar jika kondisi dapurnya kaya kapal pecah.
Satu persatu semua kembali pada tempatnya. Tinggal menata nasi goreng untuk dirinya dan Arkan. Sialnya Arkan tidak turun-turun. Tapi, bagaimana pun kecangguan akan hadir di antara mereka jika Arkan berada di depannya saat ini.
Semua tertata rapih di meja makan. Memulainya akan lebih baik, lalu setelah itu kembali kekamar untuk membersihkan diri terus ke gudang melihat aktifitas karyawannya. Namun, sayang. Rencananya harus di ubah saat suara kursi beradu dengan tehel menimbulkan suara yang membuat spot jantung Widuri berhenti sejenak.
Tiada kata atau ucapan yang keluar dari mulut Arkan. Membuat Widuri juga enggan bersuara.
Rambut basah membuat Widuri tahu. Kalo Arkan habis mandi di kamar mandi yang berada di kamarnya. Aroma sabunnya lebih tercium di banding saat dirinya sendiri yang memakai sabunnya. Widuri merutuki indra penciumannya lantaran hal seperti itu pun terbahas di kepala cantiknya.
Hening, itu terjadi.
Dentik sendok yang beradu dengan piring lebih terdengar dari pada suara manusia yang memilih satu sama lain diam membisu.
Suapan terakhir mendarat sempurna di lidah Widuri. Membuatnya lebih dulu mengangkat piring kotornya ke westafel. Mencucinya lalu mengerikannya sebelum hendak berlalu ke lantai 2 tepat di kamarnya.
"Pesawat aku jam 1 siang" ucap Arkan dengan tiba-tiba. Sambil dirinya tunduk mengaruk nasi gorengnya yang menurut Widuri tidak perlu digaruk.
Lantaran suara Arkan. Langkah Widuri terhenti. Kerutan di keningnya pertanda bahwa dirinya kebingungan. "Terus?"
"Aku mau pamitan sekalian minta tolong antarin aku ke bandara" Arkan mengangkat kepalanya sehingga pandangannya dengan Widuri bertemu. Lalu berucap seperti itu.
Widuri mengakui beberapa hal tentang Arkan yang tidak berubah. Yaitu pemaksaan. Walau dalam ucapannya tidak memaksa tapi, matanya seakan menyiratkan itu. "Oke" jawab Widuri tanpa pikir panjang. Lantaran cuman mengantar jadi hal itu tidak sulit sama sekalih. Setelah jawaban Widuri ucapkan. Berlalu meninggalkan Arkan lagi untuk kedua kalinya.
Mandi dan memakai baju bagus adalah hal yang dilakukan Widuri. Kalo maslaah umur, dirinya harus akui kalo dia tidak muda lagi. Namun, ada hal mengobar di dalam jiwa anak mudanya. Parfum dengan aroma vanila adalah pilihannya saat ini. Karena aroma itu, salah satu yang di sukai Arkan saat dulu jadi dirinya menginginkan kalo Arkan lebih dari lebih kepadanya. Tapi di satu sisi umurnya bukan untuk coba-coba lagi. Jadi kalo tidak ada kata serius lebih baik Widuri yang pergi menjauh. Walau dengan berbagai cara yang harus dilakukannya.
Widuri Memasuki dapur untuk bertemu Arkan. Tapi, sialnya Arkan tidak berada di dapur dan piring kotor Arkan tidak terlihat lagi.
Selain di dapur, di ruang tamu pun Arkan tidak ada. Maka, Widuri memilih untuk keluar dari rumahnya, lalu memastikan semuanya tertutup dan terkunci.
Mobil Arkan tidak berada di depan halaman rumahnya. Melainkan di depan gudangnya. "Sudah?" Tanya Arkan saat Widuri sampai didepannya.
Anggukan kepala menjadi jawaban. "Tapi, tunggu. Saya kedalam dulu. Lagian masih ada dua jam"
Widuri masuk kegudang. Sedangkan Arkan berada di ruang tunggu yang ada di luar gudang. Arkan tidak pernah sadar kalo dirinya memuakan seperti ini. Doannya agar Widuri tidak memiliki pasangan terkabul tapi, mau bagaimana lagi luka yang di buatnya sungguh membekas. Untuk yang tadi menelponnya adalah mamanya. Sialnya panggilan ketiga setelah dirinya selesai mandi diangkatnya telponnya dan dengan tanpa basa-basi mamanya menceramahi nya. Kuping Arkan sempat tidak berfungsi sebentar lantaran ceramah mamanya membuatnya merutuki kebodohannya. Apalagi tiketnya di jam 10 harus hangus lantaran dirinya terbawah nafsu.
Bukan Arkan tidak ingin masuk digudang melainkan dirinya tahu kalo orang-orang yang berada di gudang sedang bekerja. Arkan tidak ingin jika karyawan Widuri yang diajaknya berbicara sehingga pekerjaannya terbengkala.
Detik, permenit beralih. Widuri tidak menampakan apapun pada tubuhnya untuk bertemu dengan Arkan.
Arkan memainkan ponselnya. Tidak mencari apapun melainkan menghabiskan waktu sengang sambil menunggu Widuri. Ada artikel yang muncul dan judul artikel itu sungguh harus di baca 'Perihal Jodoh, siapa yang tahu'.
Paragraph pertama dibaca Arkan dengan nyesek "Kewajiban manusia hanyalah melakukan usaha terbaik secara lahiriyah maupun bathiniyah disertai tawakal kepada Allah SWT" keningnya berkerut karena kalimat terakhir itu belum dilakukannya. Kemarin sempat dirinya menyerahkan semua hal tentang Widuri kepada sang pencipta. Hingga dirinya berada di kata ikhlas. Namun, sang pencipta membawahnya kembali bertemu Widuri. Lalu bagaimanakah sekarang? Haruskah kembali dirinya mengikhlaskan Widuri agar hidup bahagia walau tanpa dirinya atau tetap mengejarnya.
"Yuk" Widuri berada didepannya membuyarkan semua pikirannya.
Arkan mengangguk, menyimpan ponselnya di kantong celananya, lalu berdiri mengikuti Widuri. Tidak ada percakapan apapun yang keluar. Sebelumnya Arkan sempat pamit kedalam gudang sebelum mengikuti Widuri ke mobil. Maka, Arkan bisa melengang jauh tanpa rasa bersalah Karena tidak pamit. Tidak ada pembicaraan apapun. Widuri memilih diam dan dirinya juga.
Ponsel Widuri berbunyi. Widuri mengangkatnya lalu raut wajahnya kiang berubah yang tadinya datar kini berubah ceria. Arkan mengetahui itu lantaran sempat curi-curi melihat ekspresi dan juga potongan bicara Widuri bersama sebrang telpon.
"Iya-iya. Nanti aku jemput" Arkan sempat mengerutkan keningnya lantaran kalimat itu keluar dari Widuri dengan mimik wajah jarang di tunjukan kepadanya. Ada perasaan tidak rela saat tahu Widuri bisa bahagia tanpa dirinya. Hanya karena seminggu bersamanya tidak mungkin mengetahui kalo Widuri masih sendiri. "Hmm, oke-oke" lagi terdengar antusias Widuri menjawab.
Arkan tahu betul bahwa rasa kepemilikannya besar sehingga dirinya tidak dapat menerima hal ini. Ingin rasanya Arkan bertanya bahwa siapa yang menelponnya. Tapi, Arkan masih punya sisi yang harus dijaga yaitu harga diri dan gengsi.
Sambungan telpon itu berakhir tapi, senyum Widuri belum surut sambil melihat ponselnya. Arkan tanpa sadar membuat kemacetan bertambah sehingga bunyi klakson serempak. "Arkan" panggil Widuri dengan memukul bahunya."Lampunya hijau"
Arkan kaget lalu menatap kembali kedepan dan mendapatin bahwa benar saja lampu merah sudah terganti dengan lampu hijau. "Are you okay?" tanya Widuri saat mobil Arkan kembali berjalan bersama mobil lain.
Widuri menyadari kalo Arkan lebih banyak diam semenjak peristiwa itu.
***
Mamuju, 17 Maret 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Polemik size (Tamat)
RomanceBentuk tubuh adalah satu hal yang pasti dilirik oleh kebanyakan orang. Sesudah point penting yaitu wajah. Tapi, bagaimana jika point penting itu di tumbuhin oleh sesuatu yang mengerikan seperti jerawat dan kawan-kawannya. Oh, jangan lupa dengan kaca...
