22. Festival

638 233 132
                                        

여러분 안녕하세요!

Aku gak pernah bilang pelakunya ada 4 loh, wkwkwk:b

Happy Reading!

*****

Jarum panjang jam dinding yang tertempel di setiap kamar villa dan ruang tengah terdengar terus bergerak seiring bertambahnya menit. Tepat ketika jarum panjang dan jarum pendek mengarah ke angka 12, jam besar di ruang tengah berdentang, membuat Jay yang tadinya tertidur langsung terbangun.

Pemuda dengan rahang tajam itu menoleh ke bagian kiri kasurnya, di mana ada Jungwon yang masih tertidur pulas.

Jay mendudukkan diri dan mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar yang gelap, kemudian bergidik ngeri. Ia kemudian menggoyangkan pemuda manis yang tidur memunggunginya itu. "Won, Jungwon."

"Won, bangun dong, temenin Kak Jay ke toilet bentar."

Jay menghela nafas ketika Jungwon sama sekali tak terbangun, pemuda manis itu hanya menggumam dan mengganti posisi menjadi terlentang saja. Karena sudah terlampau di ujung, Jay meraih ponsel di atas nakas, menghidupkan senternya guna sebagai alat penerangan. Kemudian ia berlari ke toilet kamar dengan keberanian sebesar biji jagung.

Urusan penting ini benar-benar harus cepat dituntaskan.

Setelah beberapa menit, Jay keluar dari toilet dengan muka lega dan senyum yang mengembang. Namun, senyuman itu sontak luntur ketika ia melihat seseorang yang ia kenali berdiri tepat di dekat pintu kamarnya yang tertutup. Walaupun samar karena lampu kamar yang dimatikan tapi Jay dapat melihat bahwa sosok itu menyeringai.

"Hai, Kak Jay!" Sapa sosok itu ramah. Ia mengangkat tongkat baseball yang ia bawa dan menunjuk ke arah Jungwon yang masih tertidur pulas. "Jungwon masih tidur, mari kita main dulu."

Jay hendak berlari menghampiri Jungwon guna membangunkan anak itu, tentu saja Jay tak mau bertele-tele karena sudah jelas mereka berdua ada dalam bahaya. Namun, tiba-tiba saja kaki Jay terasa membatu, membuat ia langsung tersungkur, kakinya tak bisa bergerak. "Bajingan!" umpatnya.

"Jungwon! Won! Jungwon bangun!" Jay berteriak, berharap hal tersebut dapat membuat Jungwon terbangun. Namun, yang ia dapatkan malah tertawaan dari sosok yang ia kenal tadi.

"Dia gak bakal bisa denger."

Jay menggeram. "Ternyata bener tuduhan gue kalo lo pelakunya. Mau lo apa sih, hah?!"

"Emm." Sosok itu tampak mengetuk-ngetuk dagunya, berfikir. "Gue mau makan kalian."

"Bangsat!" teriak Jay mengumpat, ia memberontak, berusaha menggerakkan kakinya yang sama sekali tak bisa ia rasakan. Ia memukul-mukul lantai dengan kesal. "Sungchul bangsat!"

Suara tertawa kembali terdengar dari sosok Sungchul, kali ini tawanya lebih nyaring dan menggema yang membuat Jay langsung menutup kupingnya karena tak kuat, gendang telinganya terasa ingin pecah. Barang-barang, pajangan, dan lukisan di dinding bergoyang kemudian terjatuh ke lantai. Anehnya, hanya Jungwon yang tak terganggu dengan suara tawa itu.

"Siapa Sungchul? Sungchul udah mati!"

Jay menggeleng kasar ketika Sungchul berjalan mendekati kasur dengan menyeret tongkat baseball tadi. Ia kembali memberontak. Namun, nihil, kakinya masih menetap dan sama sekali tak bisa bergerak.

"Malaikat iblis sedang tertidur, cantik banget," kata Sungchul dengan seringaian yang tak luntur. Tangannya terjulur untuk mengelus pahatan wajah manis Jungwon. "Bentukan malaikat kek gini ternyata iblis juga ya, Kak Jay?"

Weliweli Island 2 [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang