27. Makan Malam

550 190 82
                                        

여러분 안녕하세요!

Karakter yg mana yg masih kalian percaya di sini?

Happy Reading ....

*****

"Enak aja mau minta tolong ke gue, dikiranya gue babunya apa? Yang ada jadi beban aja, nyusahin gue."

Sunoo terus bersungut-sungut sepanjang kakinya melangkah, beberapa saat yang lalu dirinya berhasil keluar dari gedung dan sekarang berjalan santai menyusuri kota kelam ini. Di kiri kanan jalan hanya dapat Sunoo temui gedung dan warung-warung kecil yang tidak terpakai. Tidak ada satupun manusia yang lewat.

Jika ditanya apakah Sunoo takut, jawabannya tentu saja iya.

"Eh?" Langkah Sunoo terhenti ketika mendapati adanya serombongan manusia di ujung jalan sana. Karena merasa dirinya dalam bahaya, pemuda dengan mata rubah itu segera berlari dan bersembunyi di belakang salah satu warung, tidak lupa untuk mematikan senter ponsel agar tidak ketahuan.

"Ini ya festival tanggal 25 yang dimaksud sama Kak Jake?" gumam Sunoo pelan. Ia bergerak guna mengintip lewat celah yang ada di sekat warung, sangat penasaran dengan apa yang rombongan itu lakukan.

Ketika rombongan itu lewat tepat di depan warung di mana Sunoo bersembunyi, ia refleks menutup mulut. Sesosok tubuh diikat di ujung sebuah kayu yang digiring rombongan tersebut hampir membuat Sunoo menjerit.

Itu Euijoo. Pemuda yang mirip dengan karakter Ponyo itu terlihat tak sadarkan diri dengan kepala dan wajah berlumuran darah.

"Anj-"

Sunoo mengumpat tertahan ketika matanya melihat sosok yang ia kenal ikut dalam rombongan tersebut. Sosok itu bahkan tampak sumringah menggotong kayu dengan tubuh lemah Euijoo diikat di atasnya.

Setelah rombongan itu menjauh, Sunoo segera keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tersenyum miring. "Pelakunya bener-bener di luar dugaan gue."

***

Sunghoon bergerak gelisah, berjalan bolak-balik di ambang pintu gua sembari sesekali menggigiti kuku jari. Sejak tadi dirinya menunggu Jake, tapi pemuda berkebangsaan Australia itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali.

Sunghoon tentu saja khawatir, ia tidak mau kehilangan sahabatnya itu.

"Apa kita susul aja?" tanya Heeseung. Pemuda itu berjalan menghampiri Sunghoon setelah mencoba mencari sinyal lewat ponsel yang hasilnya tetap nihil.

Sunghoon menghentikan pergerakannya, ia menatap Heeseung sebentar kemudian meremas rambutnya sendiri dengan kasar. "BANGSAT! PULAU BANGSAT!"

Heeseung panik ketika Sunghoon malah mengamuk dan menendang-nendang kerikil yang ada di dalam gua. Heeseung merenung sebentar, apa ada yang salah dengan pertanyaannya tadi?

"KENAPA MAU SELAMAT BARENG AJA SUSAH BANGET, SIALAN?! ANJING EMANG!"

"Hoon! Jaga omongan, lo gak ingat kita ada di mana sekarang?" tegur Heeseung mengingatkan. "Kita di dalam gua tengah hutan, Hoon, gak boleh ngomong sembarangan karena kita gak tau apa aja yang ada di sini."

Sunghoon mengusap wajahnya kasar, ia tahu dirinya tidak boleh berbicara seperti itu di tempat asing. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya sudah terlampau kesal dengan pulau yang sudah merenggut banyak nyawa temannya ini.

Weliweli Island 2 [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang