Yuhuuu balik lagi, kali ini double update spesial tahun baru. Mumpung lagi gabut juga.
Happy Reading 🥰
.
.
.
Selesai solat isya, Alta mendudukkan bokongnya di pinggir tempat tidur. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas, dan di saat yang bersamaan panggilan masuk dari Alena.
Alta seketika mengerutkan keningnya menatap layar ponselnya tak percaya. Bagaimana bisa Alena menelpon ke nomor barunya? Apa diberi tahu Satria?
Karena tidak ingin membuat Alena menunggu lama. Alta akhirnya menggeser warna hijau hingga panggilan berhasil tersambung.
"Kak Alta." Suara Alena terdengar untuk pertama kalinya.
"Dapat nomor baru aku dari mana?" tanya Alta to the point.
"Bundanya Kak Alta," jawab Alena jujur.
"Bunda?" Alta mengerutkan keningnya bingung saat mendengar jawaban dari Alena.
"Iya, tadi pagi Tante Zila ke rumah."
Ucapan Alena selanjutnya membuat Alta terkejut. Ia bahkan sampai mengubah posisi duduknya menjadi lebih baik.
"Bunda, nyamperin kamu?" tanya Alta lebih detail.
"Hu'um. Kita ngobrol banyak di sini," kata Alena, terdengar gadis itu berbicara sembari terkekeh.
"Ngomongin apaan emang?"
"Rahasia perempuan. Cowok dilarang tau."
Alta menghembuskan napasnya pelan, tapi entah kenapa saat mendengar suara Alena lagi membuatnya sedikit bahagia.
"Alena ...," panggil Alta.
"Hmm?" sahut si empunya nama dari seberang sana.
"Kamu masih marah sama aku?" Alta memberanikan diri untuk bertanya, walaupun sebenarnya ia merasa canggung.
"Siapa yang marah?"
"Kamu lah."
"Nggak ada yang marah."
"Terus yang kemarin, namanya apa?"
"Ohh yang itu. Kalo itu khilaf dikit," jawab Alena tak berdosa. Sontak saja hal itu membuat Alta tertawa pelan.
"Btw, perjodohan aku sama Vioni---"
"Udah dibatalin," sela Alena memotong ucapan Alta sebelum cowok itu menyelesaikan ucapannya.
"Tau dari mana?"
"Tante Zila udah cerita semuanya."
"Ohh jadi ini alasan kamu tiba-tiba nelpon?" goda Alta disertai kekehannya.
"Jadi Kak Alta nggak mau kalo Lena telpon?" sewot Alena.
"Bu--bukan gitu."
"Ya udah, kalo gitu. Bye!" Tanpa menunggu jawaban dari Alta. Alena memutuskan panggilan secara tiba-tiba.
Alta menjauhkan ponsel tadi dari telinganya, ia tertawa singkat kemudian mencoba menghubungi gadis itu.
Pada dering ketiga, panggilan berhasil tersambung. Namun, saat hendak mendekatkan ponsel di telinganya, Alta malah terperanjat saat mendengar suara cempreng Alena dari seberang sana.
"Ngapain nelpon lagi?!" sungut Alena berteriak.
"Astagfirullah. Kamu lagi pms ya? Serem amat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Galaksi Altair [END]
Teen FictionToxic area.⚠️ Komedi Romance Sequel Azila. Cerita bisa dibaca terpisah. "Gue nggak suka cewek." "Berarti, Kak Altair, gay?" Galaksi Altair M. Remaja yang bosan mengenal cinta bahkan sampai sebagian beranggapan kalau dirinya adalah penyuka sesama. N...
![Galaksi Altair [END]](https://img.wattpad.com/cover/263396813-64-k151987.jpg)