Seluruh kelas dua belas keluar dari aula sekolah setelah beberapa jam mereka duduk mendengar informasi yang diberikan dari kepala sekolah. Sekaligus penyeluruhan untuk masuk universitas mengingat beberapa minggu lagi kelas dua belas akan menghadapi ujian akhir yang akan menentukan lulus atau tidak.
"Alta, ayok main basket. Kita udah lama nggak main!" Adrian, si ketua basket itu membuka suara saat mereka berjalan di koridor menuju parkiran.
"Ayok!" Alta mengangguk, lagi pula ia juga ingin bermain sebelum pulang ke rumah. Alta menoleh pada Yoga dan Ardan yang berjalan di belakangnya.
"Main basket, yuk!" ajak Alta.
"Kalo gue sih, ayok aja!" sahut Ardan, kini ia menoleh pada Yoga.
"Gue nggak bisa dulu. Gue udah ditunggu sama Keiza," jawab Yoga menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
"Ya udah, deh. Lo hati-hati!" Ardan menepuk pundak Yoga beberapa saat sebelum cowok itu akhirnya pergi.
"Si Yoga sama Keiza pacaran?" Adrian bertanya pada dua orang di hadapannya.
"Mereka bakal nikah," jawab Ardan singkat, ia berjalan menuju lapangan basket.
***
Alena keluar dari perpustakaan setelah meminjam beberapa buku di sana. Bel masuk kedua sudah berbunyi beberapa menit yang lalu membuat Alena mempercepat langkahnya agar segera sampai di kelas.
Namun, saat melewati koridor kelas sepuluh bahasa, pandangan Alena tanpa sengaja tertuju pada lapangan basket di mana terlihat beberapa siswa kelas dua belas tengah bermain di sana.
Alena memang tahu hari ini ada penyeluruhan untuk kelas dua belas yang disampaikan oleh kepala sekolah dan beberapa kakak-kakak mahasiswa dari salah satu universitas di ibu kota.
Tidak terasa tinggal beberapa minggu lagi kelas dua belas akan menghadapi ujian akhir. Dan itu berarti sebentar lagi Alena akan naik kelas menjadi kelas sebelas, otomatis Alta akan lulus sekolah dan mereka mungkin tidak akan pernah bertemu lagi.
Alena sejenak mengarahkan pandangannya pada lapangan basket, tatapannya langsung terkunci pada salah satu sosok yang terlihat tengah mendribble bola dengan penuh semangat.
Bibir Alena membentuk senyum segaris, tapi tidak berselang lama Alena menggelengkan kepalanya menghalau semua pikiran tentang Alta. Dengan cepat, Alena melangkah menyusuri koridor.
Namun, kejadiannya terasa begitu cepat. Sebuah bola melayang hingga mendarat dengan sempurna pada kepala Alena. Sontak saja beberapa buku yang dibawanya langsung terjatuh berceceran di lantai.
Alena meringis memegang kepalanya yang berdenyut karena lemparan bola tadi yang cukup kencang. Ia menatap bola basket yang menggelinding tak tentu arah
Pandangan Alena tertuju pada Alta yang berjalan ke arahnya dengan tatapan datar. Alena mengira Alta akan membantunya, tapi dugaan Alena salah besar. Alta malah mengambil bola tadi kemudian pergi begitu saja kembali ke lapangan meninggalkannya yang kini diam mematung.
"Ayok main lagi!" seru Alta melempar bola tadi ke arah Ardan. Namun, Ardan malah menghindar dan menatap Alta dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Alena, kena bola lo, Ta!" ucap Ardan terdengar tegas.
Alta lantas menoleh ke arah koridor di mana Alena terlihat tengah memungut buku-bukunya.
"Bukan urusan gue!" Alta acuh, ia kembali menarik pandangannya dan melanjutkan permainan bersama yang lain.
"Gila lo!" maki Ardan. Cowok itu berlari menghampiri Alena yang masih berada di koridor.
"Alena!" Ardan berhasil meraih lengan gadis itu yang hendak beranjak. Alena menoleh dengan senyuman simpulnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Galaksi Altair [END]
Teen FictionToxic area.⚠️ Komedi Romance Sequel Azila. Cerita bisa dibaca terpisah. "Gue nggak suka cewek." "Berarti, Kak Altair, gay?" Galaksi Altair M. Remaja yang bosan mengenal cinta bahkan sampai sebagian beranggapan kalau dirinya adalah penyuka sesama. N...
![Galaksi Altair [END]](https://img.wattpad.com/cover/263396813-64-k151987.jpg)