Happy Reading. Enjoy your life.
.
.
.
.
"Alta!"
Alta seketika menghentikan langkahnya saat mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh ke belakang dan menemukan kedua sahabatnya, Yoga dan juga Ardan yang berjalan ke arahnya.
"Apa?"
"Lo masih tinggal di apartemen Davin?" tanya Yoga sesaat setelah berdiri di hadapan Alta.
"Iya, kenapa emangnya?" Alta balik bertanya.
"Lo nggak mau pulang? Nggak kasian sama bunda lo?" Ardan menatap wajah Alta penuh tanda tanya.
"Liat nanti aja," jawab Alta, ia berbalik kembali melanjutkan langkahnya menuju motornya yang terparkir di bawah pohon mangga.
Sepeninggal Alta, kini Yoga mengarahkan pandangannya pada Ardan yang berdiri di sampingnya.
"Lo ngerasa nggak sih kalo sekarang, makin ke sini Alta makin berubah," gumam Yoga yang langsung mendapat anggukan dari Ardan.
"Tapi gue paham kenapa dia bisa kayak gini." Ardan sekilas melirik ke arah Yoga sebelum akhirnya ia melangkah menuju motornya yang terparkir di depan sana.
"Nanti malem mau nongkrong?" tanya Yoga saat Ardan memasang helm full face-nya.
"Males gue kalo nggak ada Alta. Nggak seru!"
"Ya udah, deh." Yoga hanya bisa menggaruk tengkuk yang tidak gatal, ia juga melangkah menuju mobilnya karena sekolah mulai sepi.
***
Alena langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa membuka sepatu yang ia kenakan terlebih dahulu. Gadis itu berbaring dengan posisi tengkurap, menyembunyikan wajahnya di atas bantal.
Hingga beberapa saat berlalu, pintu kamar terbuka tapi Alena masih tetap pada posisi semula.
"Alena ...."
"Hmm?" gumam Alena enggan mengubah posisinya.
"Tadi, Alta nelpon ke gue dan bilang kalo lo sempat pingsan." Satria mendudukkan bokongnya di samping tubuh Alena.
"Lena, nggak papa," jawab Alena, ia menoleh ke arah Satria yang tengah memperhatikan dirinya.
"Yakin, nggak papa?" tanya Satria sekali lagi, tangannya terulur menyentuh kening Alena dan merasakan suhu tubuh gadis itu memang sedikit berbeda.
"Istirahat aja kalo gitu," ucap Satria, ia kemudian membantu Alena untuk melepas sepatu yang gadis itu kenakan.
"Bang ...," panggil Alena, pandangannya tertuju pada Satria yang kini tengah membereskan tas sekolahnya.
"Apa?"
"Cari makan yuk, Bang!" ajak Alena, ia mengubah posisinya menjadi duduk sembari memperhatikan Satria.
"Gofood aja. Lo lagi sakit, jangan keluyuran."
Alena langsung mencebikkan bibirnya menatap Satria kesal. Sementara yang ditatap malah terlihat acuh dan kembali merapikan tumpukan buku milik Alena yang berada di atas meja belajar.
"Bang, ayolah. Sekali ini aja, Lena pengen makan di luar," mohon Alena penuh harap, bahkan ia sampai mengatupkan kedua tangannya memohon pada Satria.
"Alena ...?" Satria berbalik, menatap sepupunya yang memohon. Jika sudah begini, Satria tidak bisa menolak.
"Ya udah, ayok."
Senyum di bibir Alena seketika terbit, dengan cepat Alena bangkit dari duduknya dan dengan tidak sabaran ia membuka lemari pakaiannya untuk mengganti seragam sekolahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Galaksi Altair [END]
Novela JuvenilToxic area.⚠️ Komedi Romance Sequel Azila. Cerita bisa dibaca terpisah. "Gue nggak suka cewek." "Berarti, Kak Altair, gay?" Galaksi Altair M. Remaja yang bosan mengenal cinta bahkan sampai sebagian beranggapan kalau dirinya adalah penyuka sesama. N...
![Galaksi Altair [END]](https://img.wattpad.com/cover/263396813-64-k151987.jpg)