EXTRA CHAPTER II (Double A)

14.1K 542 26
                                        




"Ayaaaaang ...!"

Alena hanya bisa menghela napas panjang saat teriakan itu kembali terdengar. Namun, bukannya menuju sumber suara, Alena kembali melanjutkan pekerjaannya mencuci perabotan dapur yang baru saja selesai ia gunakan.

"Ayaaaaang, cara ganti popok gimana? Ini dedek bayinya pup!"

"Baunya wangi banget. Mau pingsan!"

"Ayaaang, tolongin!"

"Ya Allah, ini lagi satu pake nangis segala!"

"AYAAAAANG!"

"Allahu Akbar!" Alena melepas semua pekerjaannya dengan terpaksa, ia berbalik dan berjalan menuju asal sumber suara.

Alena seketika berkacak pinggang saat melihat kelakuan suami dan putra kembar mereka.

"Tolongin ...," lirih Alta menatap Alena dengan tatapan memelas.

"Albara, pup di celana," sambung Alta menunjuk bayi berusia sembilan bulan itu yang duduk bersila di depannya.

"Ya terus ...?" tanya Alena masih dengan posisi semula.

"Gantiin popoknya," ucap Alta memelas.

Alena hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Alta. Mau tidak mau, ia harus mengganti pampers untuk putranya.

"Ya udah, sana ambilin popok yang baru sama celananya di kamar. Jangan lupa tisu basah juga, minyak telon sekalian," suruh Alena.

"Siap, ibu ratu!" Alta bergegas bangkit dari duduknya kemudian ngacir menuju kamar untuk mengambil barang yang dimaksud istrinya.

"Bara, pup yaa?" Alena menoel pipi putranya gemas membuat bayi itu tersenyum.

Alena mengarahkan pandangannya pada bayi satunya lagi yang masih terlelap. Namanya, Algara.

Alta dan Alena menikah sekitar dua tahun yang lalu, dan sekarang mereka sudah dikaruniai dua anak kembar berusia sembilan bulan.

Albara Jevian Mahardika dan Algara Gevian Mahendra

"Ini."

Alena mengarahkan pandangannya pada Alta, pria itu datang membawa semua keperluan yang dimaksud Alena.

"Tumben nggak salah bawa," cibir Alena karena biasanya, Alta sering tertukar saat mengambil keperluan bayi. Seperti saat mengambil minyak telon, tapi yang diambil malah baby oil si kembar.

"Ehehe." Alta hanya menunjukkan cengiran khasnya. Ia lantas duduk anteng di samping Alena, memperhatikan semua pergerakan istrinya saat mengganti popok bayi untuk Albara.

Setelah selesai, Alta kemudian mengangkat tubuh Albara ke atas pangkuannya kemudian mendaratkan satu kecupan pada pipi gembul bayi laki-laki itu.

"Itu yang satu, anteng banget tidurnya." Alena tersenyum, ia membenarkan posisi selimut yang menutupi tubuh Algara.

Memang Algara dan Albara memiliki sifat yang berbeda walaupun mereka masih kecil. Albara yang lebih cerewet dibanding dengan adiknya yang lebih pendiam dan suka tertidur.

"Kamu nggak pergi kerja?" Alena menatap Alta yang masih sibuk bermain dengan Albara mengingat hari sudah semakin siang.

"Males ahh. Besok aja," jawab Alta kembali menoel pipi Albara membuat bayi itu tertawa.

"Tapi, 'kan----"

"Siapa yang berani marahin bos?" Alta menoleh menatap Alena yang menatapnya datar.

"Aku laporin Ayah sama Bunda kalo gitu, biar kamu dimarahin!" ancam Alena seraya mengambil alih Albara dari pangkuan suaminya.

Galaksi Altair [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang