Selamat malam, hai balik lagi.
Happy Reading
.
.
.
.
Alena turun dari mobil Alta setelah cowok itu memarkirkan kendaraannya tepat di depan gerbang rumah.
"Nggak mampir dulu, Kak?" tanya Alena.
Alta menggeleng, ia sekilas melirik arloji di tangan kirinya dan tersenyum. "Lain kali aja, aku harus nganter Bunda sekarang," ucap Alta.
"Ya udah, deh. Hati-hati di jalan, jangan kebut-kebutan!" peringat Alena yang langsung mendapat anggukan dari Alta.
"Kalo gitu, aku pergi dulu." Alta sekilas melambaikan tangannya sebelum akhirnya ia kembali melajukan mobilnya meninggalkan Alena yang masih berdiri di depan gebang.
Setelah bayangan mobil Alta menghilang dari pandangannya, Alena lantas berbalik melewati gerbang rumah yang menjulang tinggi. Ia seketika memicingkan matanya saat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah.
"Ada tamunya Om Bima kali, ya?" gumam Alena pelan, ia melanjutkan langkahnya sembari bersenandung kecil.
"Assalamu'alaikum!" Alena membuka pintu rumah yang tidak dikunci. Dan seketika tubuhnya mematung saat melihat seseorang yang tengah duduk di sofa sembari melempar senyum padanya.
"Papa?"
"Alena." Pria bernama Dio itu tersenyum hangat saat melihat kedatangan Alena.
Alena melangkah secara perlahan, hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapan Dio yang kini menatapnya dengan senyuman bahagia.
"Papa ...?" Alena masih belum percaya, hingga beberapa detik setelahnya gadis itu tersentak saat tubuh kekar Dio memeluknya erat.
"Apa kabar kesayangannya, Papa?" Dio mengelus kepala Alena penuh sayang.
Sementara Dian dan Bima hanya tersenyum. Mereka memang mengetahui rencana kedatangan Dio beberapa hari yang lalu. Namun, mereka berdua sengaja menyembunyikan ini dari Alena karena ingin memberi kejutan pada gadis itu.
"Alena, duduk dulu sini!" perintah Dian sembari menepuk sofa di sebelahnya.
Alena mengangguk, setelah Dio melepas pelukannya ia kemudian mendudukkan bokongnya di samping Dian. Sementara Dio duduk di singel sofa.
"Papa, tumben ke sini. Ada apa?" Alena membuka suara. Tentu saja ia terkejut dengan kedatangan Dio secara tiba-tiba tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Apa lagi mengingat beberapa bulan terakhir, Alena tidak pernah mendengar kabar dari sang papa.
Dio hanya tersenyum, pria itu malah mengarahkan pandangannya pada Dian dan memberi isyarat pada kakak iparnya untuk berbicara.
"Begini, Alena ...." Dian menyentuh punggung tangan Alena yang terasa dingin membuat gadis itu langsung menoleh dengan sebelah alis terangkat.
"Apa?" tanya Alena pelan.
"Papa kamu datang ke sini. Dia mau bawa kamu untuk tinggal di Singapura bersama keluarganya di sana," tutur Dian.
Alena masih diam mencoba untuk mencerna ucapan Dian barusan. Ia kembali mengarahkan pandangannya pada Dio meminta penjelasan pada pria itu.
"Papa akan bawa kamu untuk tinggal bersama Papa di Singapura. Kamu akan melanjutkan sekolah di sana," jelas Dio.
Alena masih diam, ia mengarahkan pandangannya pada Dian yang duduk di sebelahnya.
"Ini impian kamu dari lama, 'kan?" Sebelah tangan Dian terulur mengelus kepala Alena, dan melempar senyum pada gadis itu.
"Semua ada keputusan di tangan kamu. Kalo kamu mau pergi, Om persilahkan. Tapi, kalo kamu mau tetap di sini juga nggak papa." Bima yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Galaksi Altair [END]
Roman pour AdolescentsToxic area.⚠️ Komedi Romance Sequel Azila. Cerita bisa dibaca terpisah. "Gue nggak suka cewek." "Berarti, Kak Altair, gay?" Galaksi Altair M. Remaja yang bosan mengenal cinta bahkan sampai sebagian beranggapan kalau dirinya adalah penyuka sesama. N...
![Galaksi Altair [END]](https://img.wattpad.com/cover/263396813-64-k151987.jpg)