Hi, balik lagi.
Happy Reading.
.
.
Satria berdiri di teras rumah sembari berkacak pinggang, tatapannya tidak pernah lepas dari Alena yang baru saja keluar dari dalam mobil diikuti Davin.
"Bang--"
"Masuk!" sela Satria cepat sebelum Alena menyelesaikan ucapannya. Pandangannya kini tertuju pada Davin yang berdiri di belakang gadis itu.
Alena menghembuskan napasnya pelan, ia menoleh ke arah Davin yang tersenyum dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Alena melangkah meninggalkan kedua cowok itu yang kini saling melempar tatapan.
Sepeninggal Alena, Satria masih pada posisi semula. "Lo apain adik gue?" tanyanya sewot.
"Gue cuma nganter dia pulang, nggak lebih," jawab Davin apa adanya.
Satria menatap Davin yang berdiri di hadapannya dengan tatapan datar.
"Gue tadi nggak sengaja ketemu sama Lena. Dia habis belanja dan mau pulang, tapi nggak bisa pesan ojek karena hp nya mati," tutur Davin apa adanya.
"Ya udah, lo boleh pergi!" ucap Satria, kali ini ia tidak ingin berbuat keributan.
"Makasih udah nganterin, Lena pulang."
Ucapan Satria barusan berhasil membuat Davin tersenyum dan mengangguk. Davin berbalik dan melangkah menuju mobilnya. Sementara Satria langsung masuk ke dalam rumah.
Satria melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Alena. Ia membuka pintu kamar milik gadis itu dan menemukan Alena yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Bang," panggil Alena. "Bang Satria, marah ya?" tanya Alena pelan, takut jika Satria memarahinya karena pulang bersama Davin mengingat Satria dan Davin adalah musuh bebuyutan.
"Gue nggak marah kalo lo masih baik-baik aja." Satria mendekat, ia langsung mengacak rambut Alena membuat gadis itu menatapnya polos.
"Gue khawatir pulang dari rumah temen, Mama bilang lo belum pulang. Gue telpon, tapi hp lo nggak aktif," ucap Satria membuat Alena seketika menunduk.
"Gue udah berniat mau nyari lo, tapi keburu lo pulang sama si Davin."
"Maaf, hp Lena mati."
"Ya udah nggak papa. Mending sekarang lo tidur, ini udah malem."
Alena hanya mengangguk.
"Eh iya. Besok tolong ambilin gue buku di Alta!" ucap Satria sebelum akhirnya keluar dari kamar Alena.
***
Bel masuk pertama berbunyi nyaring hampir di seluruh penjuru sekolah. Para pelajar langsung berhamburan masuk ke kelas masing-masing untuk selanjutnya mengikuti rutinitas belajar seperti biasa.
Alta langsung menghempaskan bokongnya di kursi miliknya. Ia menelungkup kan kepalanya di atas meja.
"Sehat lo?" Ardan yang duduk di samping Alta langsung menyenggol lengan cowok itu.
"Hmm." Alta hanya bergumam tak jelas, ia kemudian menegakkan tubuhnya menatap papan tulis di depan kelas.
"Gimana caranya biar Alena mau ngomong ke gue?" Alta sekilas menoleh ke arah Ardan sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke depan kelas.
"Tuh cewek kalo udah ngambek, susah banget dibujuknya!" keluh Alta menghela napas panjang.
"Bukannya semua cewek itu sama ya? Kalo udah ngambek, susah dibujuk. Ujung-ujungnya ngungkit kesalahan yang udah lama." Ardan berbicara dengan ekspresi wajah datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Galaksi Altair [END]
Teen FictionToxic area.⚠️ Komedi Romance Sequel Azila. Cerita bisa dibaca terpisah. "Gue nggak suka cewek." "Berarti, Kak Altair, gay?" Galaksi Altair M. Remaja yang bosan mengenal cinta bahkan sampai sebagian beranggapan kalau dirinya adalah penyuka sesama. N...
![Galaksi Altair [END]](https://img.wattpad.com/cover/263396813-64-k151987.jpg)