Alta menatap tanpa minat layar laptop yang menunjukkan jejeran soal ujian kelulusan. Hari ini adalah hari terakhir ujian setelah tiga hari kemarin berjuang demi sebuah nilai yang memuaskan.
Wajah Alta terlihat pucat, dan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah kantung matanya. Namun, walaupun begitu Alta tetap mencoba untuk menjawab soal.
Waktu terus berjalan hingga tidak terasa bel berbunyi yang menandakan waktu ujian telah usai. Terdengar helaan napas dari para pelajar yang sudah selesai mengerjakan soal.
"Dengan selesainya mata ujian kali ini ... Perjuangan kalian untuk masa sekolah sudah berakhir. Semoga mendapat nilai yang memuaskan, dan selamat menikmati waktu beristirahat karena setelah ini kalian akan masuk ke perguruan tinggi!" Pengawas pria itu tersenyum hangat kemudian mempersilahkan para peserta ujian untuk keluar ruangan.
Alta berjalan dengan langkah lesu dengan menundukkan kepalanya. Hingga sebuah tangan merangkul pundaknya membuat Alta menoleh dan menemukan kedua sahabatnya, Ardan dan juga Yoga. Alta kira setelah kejadian di rumahnya waktu itu. Ardan dan Yoga akan menjauhinya, tapi ternyata dugaan Alta salah karena kedua sahabatnya tetap memberi support padanya.
"Sebelum pulang, kita ke kantin dulu, yuk!" ajak Yoga menampilkan senyum lebarnya.
"Lo nggak pulang sama Keiza?" tanya Ardan.
Yoga menggeleng, cowok itu merangkul pundak Ardan menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya merangkul pundak Alta. Ketiga cowok tersebut berjalan di koridor.
"Gue traktir!" ucap Yoga membuat Alta dan Ardan seketika menyunggingkan senyum.
Mereka lantas melangkah menuju kantin yang tidak terlalu ramai karena hanya diisi pelajar kelas dua belas.
Ketiga cowok itu duduk di kursi yang berada di dekat pintu. Sementara Yoga langsung ngacir menuju stan makanan.
"Alta ...," panggil Ardan membuat si empunya nama menoleh.
"Lo baik-baik aja?" tanya Ardan karena sedari tadi ia memperhatikan cowok itu, wajah Alta terlihat pucat.
"Gue nggak papa." Alta tersenyum dan mengangguk singkat seolah memberi isyarat pada Ardan bahwa dirinya baik-baik saja.
Tidak berselang lama, Yoga datang membawa nampan berisi tiga mangkuk bakso dan tiga kaleng minuman dingin.
"Makasih."
"Sama-sama. Selamat makan!" seru Yoga menarik salah satu kursi untuk ia duduki.
Keadaan hening untuk beberapa saat, Ardan dan Yoga sudah sibuk menikmati makanannya. Sementara Alta malah menatap kedua sahabatnya dengan senyuman yang terpancar dari wajahnya.
"Gue mau nikah." Alta tiba-tiba bersuara membuat aktifitas makan Ardan dan Yoga terhenti. Kedua cowok itu menatap Alta dengan tatapan terkejut, dan guratan kesedihan.
"Vioni ...?" tanya Ardan yang dijawab anggukan oleh Alta.
"Kapan?" tanya Yoga.
"Seminggu lagi," jawab Alta sembari memasukkan bakso kecil ke dalam mulutnya.
Ardan dan Yoga bangkit dari duduknya, kedua cowok itu berpindah duduk di samping Alta. Merangkul pundak sahabatnya sembari memberi kekuatan karena mereka tahu posisi Alta saat ini.
"Kalian nggak benci sama gue?" Alta menatap kedua sahabatnya secara bergantian kemudian menundukkan kepalanya memainkan sendok di tangannya.
"Dengan alasan apa, kita berdua harus benci sama lo?"
"Karena kelakuan gue. Gue bajingan, gue ngehamilin anak orang," jawab Alta pelan.
Yoga tersenyum lantas menepuk punggung Alta beberapa saat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Galaksi Altair [END]
Teen FictionToxic area.⚠️ Komedi Romance Sequel Azila. Cerita bisa dibaca terpisah. "Gue nggak suka cewek." "Berarti, Kak Altair, gay?" Galaksi Altair M. Remaja yang bosan mengenal cinta bahkan sampai sebagian beranggapan kalau dirinya adalah penyuka sesama. N...
![Galaksi Altair [END]](https://img.wattpad.com/cover/263396813-64-k151987.jpg)