Adara Aleandra, remaja pembuat onar yang menikmati kehidupan dalam ruang lingkup pergaulan bebas, bernafas setiap detik dengan satu tekanan batin yang selama tujuh belas tahun terakhir ia sebut Jevan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kadang kata 'gagal' nggak cukup buat mendefiniskan keadaan.
Keadaan gue.
- Jevan -
• •
06.30
Jev mengetuk pintu kamar Dara yang tertutup rapat, anak itu harus bangun untuk sekolah.
"Ra! Bangun! Sekolah!" ujar Jev lantang, namun tak kunjung ada jawaban dari si pemilik kamar.
Hingga kemudian Jev membuka pintu yang memang tidak dikunci itu. Dibangunkan secara halus tidak digubris, maka jawabannya adalah harus Jev bangunkan secara langsung.
"Bangun udah siang!" bentaknya sembari memukul tubuh Dara dengan bantal guling.
Dara berdehem dan kemudian matanya setengah terbuka untuk melirik Jev. "Gue nggak sekolah dulu hari ini, nggak enak badan," katanya.
Jev diam, memperhatikan sejenak adik perempuannya itu yang langsung kembali memejamkan matanya. Jev tak banyak omong setelahnya, sepertinya Dara mabuk-mabukan lagi, dan Jev sendiri pun tau bagaimana peningnya efek dari alkohol tersebut, jika ia ada di posisi Dara pun ia pasti akan bolos ngampus.
Jev hela napas, lalu ia beranjak pergi dan membiarkan Dara tidak sekolah hari ini.
"Gue udah beli bubur Mang Darto, ada di meja makan," kata Jev bermaksud menyuruh Dara sarapan.
Yang diajak bicara diam saja dan fokus terlelap masih dengan pakaian haram itu. Jev yang jengah pun menarik selimut dan menutup tubuh adiknya, lagi-lagi Dara hanya diam.
Clak.
Jev keluar rumah dan berjalan menyusuri lingkungan rumahnya yang biasa-biasa saja. Ada Kang Eko di depan rumah tetangga Jev yang hanya berjarak satu rumah dari rumah Jev, kang Eko ini tukang sayur keliling yang setiap pagi-pagi seperti ini pasti akan dikerubungi ibu-ibu yang datang untuk beli keperluan masak, dan jangan lupakan soal bergosip.
"Kang," sapa Jev pada kang Eko sembari menundukkan sedikit kepalanya.
"Weh, ngampus?" balas kang Eko dengan nada suaranya yang ceria.
"Iya nih, kang. Ada kelas pagi."
Kang Eko mengangguk sembari tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang sudah menguning karena kebanyakan minum kopi Liong, sementara Jev hendak melanjutkan langkah kakinya, tapi urung ketika suara dari salah satu ibu-ibu yang tengah berbelanja di gerobak kang Eko memanggilnya lebih dulu.
"Jep! Atuh maneh mah kalo punya adek cewe ya diurusin yang bener! Masa anak gadis kitu pulang subuh-subuh dianter cowo. Suara motor cowonya meuni berisik pisan," katanya sembari memilih-milih kangkung mana yang lebih segar.