- dua -

271 9 0
                                        

"Ck."

Dara menutup telinganya dengan bantal ketika mendengar alunan musik rock itu terdengar begitu keras hingga mampu menembus dinding kamarnya. Masih pagi, kisaran pukul tujuh atau setengah delapan mungkin, Dara belum puas tertidur akibat terlalu pusing karena kejadian semalam, ia kemungkinan akan bangun kira-kira pukul dua belas atau satu siang, ya jika saja kebisingan musik keras itu tak mengganggu tidurnya.

"Ck," Dara mendecak lagi, ia lalu memukul-mukul dinding di sebelahnya, di mana di sana terdapat kamar Jev. "Berisik goblok!" kata Dara lagi, lalu ia berusaha untuk lanjut tidur dengan telinga yang lagi-lagi ia tutup.

Dara pikir tegurannya akan membuat sang kakak mematikan musik itu, atau setidaknya mengecilkan sedikit volumenya, tapi tidak, musik itu tidak mengecil ataupun membesar, tetap sama saja, atau bahkan mungkin itu sudah volume terbesar sampai-sampai Dara tidak bisa lagi memejamkan mata di tengah kepeningannya saat ini.

Muak. Dara muak. Ia bergegas bangun dari tempat tidur dan melempar bantal yang tadi ia gunakan sebagai penutup telinga, ia membuka pintu kamarnya secara tidak santai, lalu menggedor-gedor pintu kamar Jev sembari terus berteriak tanpa sedikitpun sopan santun. "Buka! Buka atau gue ancurin pintu kamar lo!" katanya sembari menggedor. "Jev! Buka! Matiin lagu lo, berisik tolol, gue mau tidur!" namun musik itu masih terus menggema. "Jevan! Sialan! Matiin lagu lo! Gue pusing!"

Clak!

Pintu langsung terbuka dan Dara langsung terdiam, sementara Jev menatap adiknya itu dengan mimik wajah yang datar. "Pusing lo bilang? Hah?" katanya datar. "Siapa suruh lo semalem mabok-mabokan?" katanya skak mat. "Lo yang tolol, bukan gue," lanjutnya.

Jev sempat menatap sinis sang adik untuk selanjutnya berniat kembali menutup pintu, namun suara knop pintu terbuka yang bersumber dari pintu utama membuat Jev mengurungkan niatnya. "Siapa?" kata Jev lantang pada tamu tak diundang yang pagi-pagi begini sudah membuka pintu rumah tanpa permisi.

"Jevan? Adhara?" begitu suara dari pintu utama sana. "Dara? Dara sayang ini ayah."

Dara sempat menatap Jev sejenak, begitupun dengan Jev. Lantas mereka berdua langsung berjalan menghampiri pintu utama di mana sang ayah sudah lebih dulu masuk dengan beberapa kantung plastik di tangannya. Dan tak lupa, bersama seorang wanita.

"Dara baru bangun?" kata sang ayah, lalu mendekat pada Dara dan mengelus puncak kepalanya. "Jev," sapa ayah pada Jevan, "Masih pagi ini, itu musik kecilin dikit kan bisa," tegas ayahnya, menyindir soal musik yang sedari tadi Dara permasalahkan.

"Ayah ngapain ke sini?" ketus Dara. "Ya ayah mau ketemu sama anak-anak ayah masa nggak boleh?" katanya lembut, dibalas wajah muak oleh Dara. "Nih cewek siapa?" tanya Dara membahas wanita di sebelah sang ayah. "Ini kan bunda, sayang," kata ayah.

Dara mendecak. "Ngapain dibawa ke sini?"

"Dara, kamu sopan sedikit dong sama bunda," tegur ayah.

"Bunda udah mati, yah."

"Dara, ayah menikah sama tante Farah itu untuk kamu, untuk kakak kamu juga."

"Dara nggak butuh! Jev juga nggak butuh!" kata Dara, mulai membangkang.

"Dara, ayah nggak pernah ngajarin kamu nggak sopan begini!"

"Bodo amat, intinya Dara nggak mau ini cewek ada di sini. Ayah juga!"

Dara sempat memasang tatapan silet pada ayahnya, hingga kemudian ia melengos dan melangkah menuju kamarnya, lantas membanting pintu dan mungkin kembali tertidur. Sementara Jev yang bahkan belum berucap apapun juga ikut jejak sang adik, ia tak mempedulikan ayahnya ataupun istri barunya yang beliau bawa. Jev berjalan begitu saja meninggalkan mereka di ruang tamu yang berantakan, lantas mengunci pintu setibanya di kamar dan mengganti lagu yang ia putar dengan lagu yang jauh lebih keras.

Ayah menghela napas melihat sikap kedua anaknya, ia memandang Farah sejenak, menatap lembutnya tatapan mata istri barunya tersebut. "Nggak pa-pa, Jev sama Dara cuma belum terbiasa," kata Farah, lalu ia mulai membawa kantong plastik tadi ke dapur untuk selanjutnya ia tata bahan-bahan makanan itu di sana.

"Sayang, aku ke kantor dulu ya, masih ada yang harus diurus," kata ayah pelan pada tante Farah. "Iya, gih," begitu balasannya.

Lantas ayah pergi meninggalkan tante Farah di rumah itu. Awalnya ia kesini berniat untuk membawakan berbagai bahan makanan dan juga camilan untuk anak-anaknya, Farah mungkin akan memasak beberapa makanan untuk selanjutnya bisa mereka makan bersama. Ayah selalu berharap bahwa Dara dan Jev bisa menerima kematian bunda mereka dan menerima tante Farah sebagai bunda yang baru, tapi ayah salah, karena kedua kakak beradik itu sama sekali belum bisa lupa soal bunda mereka yang amat mereka sayangi.

Tante Farah sebenarnya orang baik, alasan mengapa ayah menikahi perempuan itu. Ayah tau jelas bahwa tante Farah bisa menjadi pengganti istrinya, bisa menjadi ibu yang baru untuk anak-anaknya, tante Farah juga orangnya sabar, ia selalu menyembunyikan amarahnya setiap kali Dara dan Jev mencoba memojokinya sebagai anggota baru keluarga mereka. Sebejat apapun sang ayah, ia sesungguhnya masih sangat peduli dengan anak-anaknya. Namun ia rasa, Dara dan Jev berpikir lain soal hal itu.

Tok! Tok! Tok!

"Abang Jev, sarapan dulu yuk?"

Tante Farah mengetuk pintu kamar Jev, ia sejujurnya tak yakin apakah Jev di dalam sana bisa mendengar suaranya di saat musik-musik rock itu menggema begitu keras.

Clak!

Senyuman tante Farah langsung mengembang ketika Jev membuka pintu kamarnya, ia menatap sinis wanita itu sejenak dan mematikan musiknya setelah itu, ia berjalan tanpa bicara melewati tante Farah begitu saja, lalu dengan amat sangat lancang langsung membuka pintu kamar Dara tanpa ia ketuk lebih dulu. "Makan!" kata Jev. "Nggak laper, lo aja," balas Dara yang tengah berbaring tengkurap di kasurnya.

"Ck," Jev berdecak kesal, ia lantas menghampiri Dara dan memaksanya bangun dari kasur. "Makan buruan! Lo abis mabok goblok!"

"Eh, abang ngomongnya jangan kasar gitu sama adeknya," timpal tante Farah, lalu melepas genggaman Jev pada Dara. "Ayok Dara sarapan yuk," pinta tante Farah berusaha menunda amarah Jev selanjutnya.

Dara berdecak sejenak dan menepis tangan tante Farah, lalu ia bangun dan berjalan ogah-ogahan menuju meja makan. Dara dan Jev diam sejenak ketika melihat menu sarapan mereka di atas meja, ada dua buah roti isi yang nampak begitu lezat.

"Ayah bilang kamu berdua suka banget sandwich kalo buat sarapan," kata tante Farah, lalu duduk di seberang Dara yang duduk bersebelahan dengan Jev.

"Bunda kalo bikin sandwich tuh pinggiran rotinya dipotong," kritik Dara.

Tante Farah diam sejenak. "Oh maaf ya, bunda nggak tau itu, sini dipotong dulu," katanya sembari menarik kedua piring dari hadapan Jev dan Dara. Namun piring Jev ditahan dirinya, "Punya Jev nggak usah," kata Jev, lalu dengan canggung tante Farah melepas piring Jev. "Dara alergi mayones," kata Jev selanjutnya.

Mata tante Farah agak terbelalak. "Loh, dari kapan alerginya?"

"Dari lahir," timpal Dara ketus, lalu ia hela napas panjang, menyindir tante Farah yang sama sekali tidak tau apa-apa soal dirinya.

"Kasih aja Dara roti telur," kata Jev lagi, lalu dibalas anggukan oleh tante Farah.

Tante Farah langsung bangun dari duduknya dan bersiap memasak telur mata sapi, sementara Jev sudah lebih dulu berhasil menikmati roti isi tersebut.

"Dara kan anak cewek, kok Dara biarin rumah berantakan gini sih?" tanya tante Farah lembut disela memasak. "Kok banyak banget piring kotor, barang-barang juga ditaro sembarangan dimana-mana," lanjutnya.

"Emang nggak guna!" kata Jev pelan namun ketus.

"Abang ngomongnya yang baik-baik dong sama adeknya," kata tante Farah.

"Udah gede dia! Udah nggak pantes di-alem!"

Jev lantas langsung bangkit dari duduknya setelah roti isi itu habis ia makan. Ia meninggalkan Dara dan tante Farah yang bahkan belum selesai membuat sarapan untuk adiknya, ia berjalan begitu saja menuju kamarnya, membanting pintu, lalu kembali memutar musik-musik keras seperti tadi.

[ j e v a n d a r a ]

Jevandara Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang