Adara Aleandra, remaja pembuat onar yang menikmati kehidupan dalam ruang lingkup pergaulan bebas, bernafas setiap detik dengan satu tekanan batin yang selama tujuh belas tahun terakhir ia sebut Jevan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalo ada kompetisi perihal ketulusan, Jevan pasti jadi pemenang.
- Dara - • •
Entah karena tidur yang tidak nyenyak sebab ini bukan di rumah, atau karena tidak nyenyak sebab dirinya gelisah, tidak tau pasti. Yang jelas Dara terbangun detik ini.
Ia mendelik sebentar lantas menguap, ia terlelap di atas hamparan sajadah masjid, lalu ia menggeliat sebentar dan kemudian melihat ke arah jam dinding di masjid tersebut. Pukul setengah dua belas malam.
Dara bangkit dari rebahnya, lalu kemudian melihat keluar ke arah pintu sekali lagi. Dan yang dicari-cari tidak ada di sana.
Dara lantas geming dan panik, Jevan kemana? Ia kemudian bangun dan keluar, membuka pintu kaca masjid tersebut dan menoleh kesana-kemari. Dan dia di sana.
Huhh.
Lega rasanya. Ternyata Jevan tidak hilang. Awalnya Dara sempat berpikir bahwa kakaknya itu pergi meninggalkannya sendirian di sini. Tapi di sisi lain Dara tau, bahwa Jevan tidak mungkin melakukan itu.
Jevan ada di sana, di sudut teras luar masjid, bersandar di sudut ruang dekat bedug masjid dan terlelap sambil memeluk dirinya sendiri. Kelihatannya di situ lebih hangat, karena hujan di luar masih turun meski tidak sederas tadi sore.
Dara diam sebentar dan malah fokus menatap ke arah Jevan yang sudah sangat terlihat begitu lelah. Dara lantas mendekat dengan langkah kaki yang super pelan, lalu pelan-pelan juga duduk di dekat Jevan, wajahnya pucat, bajunya juga masih basah dan sepertinya Jevan sudah masuk angin atau demam. Dara bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ia ingin minta tolong pada warga sekitar, tapi Dara terlalu takut untuk itu, kawasan ini terbilang sepi dan sepertinya juga ini masjid yang jarang digunakan, atau mungkin karena sedang hujan jadi para warga malas untuk ibadah di tempat ini dan lebih memilih sholat di rumah. Dara tidak tau pasti, yang jelas kawasan ini sepi karena sedari tadi sore Dara tak melihat ada orang berlalu lalang kecuali pengendara mobil atau motor.
Dara menoleh lagi dan memandang wajah Jevan. Ia sudah sejauh ini merepotkan dirinya, dan sekarang malah membuat laki-laki itu sakit. Ya Tuhan, sudah mau pergi saja masih membuat Jevan kesulitan setengah mati. Dara berpikir, jika nanti dirinya sudah tinggal bersama Jevian, lantas dengan siapa Jevan akan diurus? Meski Dara tidak begitu ahli, setidaknya dia tau cara membuat teh atau kopi yang enak, cara memasak nasi, cara menghangatkan makanan, ia juga tau cara menyapu dan mengepel, cara melipat pakaian, cara menyetrika. Setidaknya, ia bisa memastikan bahwa segalanya akan berjalan baik dengan apa yang dirinya lakukan, karena ia tau betul... Jevan tidak pintar merawat diri.
Melihatnya sakit begini, Dara jadi banyak pikiran, kalau nanti di Jakarta dia juga sakit lantas siapa yang akan merawat? Ia akan hidup sendirian, orang lain akan tau dia sakit saja tidak mungkin.