"Ra, hari ini pulang ya? Istirahat aja di rumah. Masih ada yang sakit banget nggak?"
Dara yang sedang makan buah jeruk kemudian menggeleng. "Enggak. Ayo pulang," kata Dara lalu membuang sampah jeruknya ke tempat sampah dan kemudian mencoba untuk turun dari ranjang.
Demi Tuhan, perutnya masih nyeri setengah mati, tetapi ia menyetujui ajakan pulang Jev karena ia tau bahwa kakaknya itu sudah tercekik ekonomi dan akan menjadi semakin membebankan jika Dara memilih untuk terus dirawat.
"Beneran udah nggak ada yang sakit? Jangan bo'ong," kata Jev.
Dara menggeleng. "Enggak, ayo."
Dara kemudian berjalan lebih dulu sementara Jev membereskan tetek bengeknya dan menentengnya untuk dibawa pulang.
"Ra beneran udah nggak ada yang sakit? Coba ke dokternya dulu deh kalo nggak," kata Jev lagi.
"Enggak. Lagian emang dokter nggak ngomong apa-apa sama lo?"
"Ya... dia bilang lo udah boleh pulang sih."
"Nah yaudah, ayo balik."
Dara justru berjalan lebih dahulu, membiarkan Jev geming di tempat dan pada akhirnya memutuskan untuk angkat kaki juga dari bangsal tersebut. Sepanjang jalan menyusuri koridor yang sunyinya setengah mati, Jev dan Dara sama-sama bungkam, tak ada yang mau memulai pembicaraan, tak ada satupun yang sudi buka mulut.
Sampai tiba di pelataran rumah sakit untuk kemudian Jev memberhentikan sebuah angkot berwarna biru dan membiarkan Dara masuk duluan. Angkot saat itu sepi hanya ada dua ibu-ibu yang tak saling kenal dan duduk agak jauhan. Begitupun dengan Jev dan Dara, dua manusia nampak seperti asing satu sama lain.
Jalanan pada saat itu melompong tidak macet, ditambah jarak rumah sakit tidak begitu jauh, cukup dalam dua puluh menit untuk mereka bilang 'kiri' ke pada sang supir untuk kemudian turun dan berjalan beberapa menit lagi sampai akhirnya tiba di kawasan rumah mereka.
"Eh Jev, Dara udah sembuh? Sakit apa atuh neng?"
Seorang ibu berdaster kuning mentereng dengan corak kembang-kembang menyapa Jev dan Dara. Kelihatannya ibu itu habis belanja dari pasar, terlihat dari kantung plastik putih yang bisa nampak jelas bahwa isinya ikan segar.
"Gejala tipes bu," jawab Jev dengan senyuman super manisnya.
Ah lagi-lagi, orang lain yang malah mendapatkan senyuman itu.
"Oh alah. Jajan sembarangan nih kamu ya," ledek ibu tersebut, dibalas tawa cengengesan oleh Dara.
"Yaudah saya pulang ya, sehat-sehat ya Ra," kata ibu itu lagi lalu melangkah pergi.
Kemudian, keduanya kembali pada keheningan sembari berjalan menuju rumah mereka.
"Jep! Jepan!" Jev langsung menoleh ketika tetangga rumahnya memanggil dengan nada agak melengking. Itu istrinya mas Bagol, datang menghampiri keduanya dengan balita di gendongannya. "Nih kunci rumah kamu. Kemaren lupa kunci pintu ya, untung saya sadar pintu kamu masih ngejembreng," lantas Jev dengan agak canggung menerima kunci itu.
"Mas Bagol narik, mba?
"Iya dong. Kalo bojo saya nggak narik yo mau madang apa ini bocah," katanya sembari menunjuk anak balitanya dengan dagu.
Jev tertawa lagi. "Oh yaudah. Makasih banyak ya mba."
"Iya. Udah sembuh kamu, Ra?" tanyanya. Dara mengangguk.
"Sakit apa?"
"Eng...
"Gejala tipes mbak," dijawab Jevan.
"Masyaallah makanya makan yang bener sampeyan Ra."
Dara mengangguk canggung.
"Kasian loh ini kakakmu lari-lari kesana-kesini minta tolong."
Deg
Detik itu juga, tatapan mata Dara geming menatap Jev. Sementara Jev, justru terlihat tertegun, seakan-akan malu kelakuannya ketahuan.
"Dia lari-lari gendong kamu minta tolong ke tetangga-tetangga, sampe lupa tutup pintu rumah saking paniknya sama kamu tuh," katanya lagi.
Dara tertawa kecil. "Iya, mbak. Lain kali Dara jaga-jaga makan biar nggak tipes lagi."
"Yo harus. Sing sehat ya ndok. Saya pulang dulu ya mau goreng tahu."
"Iya mbak. Makasih ya," kata Jev kemudian lalu membiarkan ibu itu pergi.
Dan kembali pada mereka yang masih memenangkan keheningan satu sama lain hingga keduanya tiba di dalam. Suasana rumah tetap sama, tak ada yang berubah. Tetap dingin.
"Nggak ada yang tau kalo gue aborsi?" Dara yang langsung duduk di sofa bertanya demikian pada Jev.
Jev hela napas kasar. "Ya lo mau gue kasih tau yang sebenernya ke warga sekampung?"
Dara diam.
"Udah, kalo ada yang tanya bilang aja lo kena tipes," Jev ambil jeda. "Jaga-jaga pergaulan, jangan asal jalan sama cowok-cowok nggak jelas. Ujung-ujungnya lo juga yang kesakitan. Lo yang nanggung."
Lebih tepatnya, ujung-ujungnya lo yang repot. Batin Dara.
Jev kemudian pergi ke dapur dan minum segelas air. Tak ada makanan, meski pada kenyataannya ia lapar setengah mati. Dara yang masih duduk di sofa diam dalam waktu lama, melamun dan memikirkan banyak hal di kepalanya yang sudah riuh dengan ini-itu.
"Lo tidur sana, gue mau nyikatin kamar mandi dulu, darah lo kering," kata Jev sembari melewati Dara begitu saja.
"Gue aja sini," Dara bangkit dan hampir berjalan menuju kamar mandi.
"Enggak. Tidur!"
"Nyikatin kamar mandi doang gue bisa, udah sini. Lo aja sana kalo mau tidur."
"Gue bilang tidur ya tidur!"
"Gue nggak mau tidur."
"Yaudah ngapain kek sono. Nonton tv sana, main hp. Terserah lo dah."
Jev tak banyak ba-bi-bu, ia langsung masuk kamar mandi dan berjongkok untuk menyikati lantai yang sudah nampak seperti TKP pembunuhan.
Sementara Dara menuruti pada akhirnya, ia kembali duduk di sofa dan menyetel televisi yang agak buram layarnya. Dara tak mencoba gonta-ganti saluran, ia hanya menyetel dan kemudian diam melamun lagi. Memikirkan banyak hal dengan suara sikat yang beradu dengan lantai sebagai penghias sunyinya.
Dara melirik sesekali ke arah kamar mandi dan melihat bagaimana Jev berjongkok membelakanginya sembari terus menyikat. Jev bukan pribadi yang pandai beres-beres rumah, makanya ia terlihat sangat mengerahkan semua tenaganya untuk membuat lantai itu bersih dari noda darah. Dan percayalah, itu membuat hati Dara berdarah-darah.
"Jev."
Dara menghampiri pintu kamar mandi dan Jev berdiri dari posisinya, tanpa menjawab namun wajah tampan itu sudah menggambarkan ekspresi "kenapa".
"Gue mau ke Jevian."
Dan ucapan itu, berhasil membuat Jev bungkam sejadi-jadinya.
"Gue mau ke Jogja aja, gue mau tinggal sama dia," Dara kemudian menatap tajam sang kakak. "Harusnya emang dari awal gue nggak tinggal sama lo."
Untuk kedua kalinya, berhasil dibuat bungkam.
"Gue mau berangkat besok, gue mau beresin baju-baju gue dulu."
Dan dengan begitu saja, Dara balik badan untuk melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Gue anterin."
Dara berhenti melangkah hanya untuk mencerna jawaban itu, hingga detik berikutnya yang terdengar dalam kesunyian rumah itu lagi-lagi hanya suara sikat.
[ j e v a n d a r a ]
KAMU SEDANG MEMBACA
Jevandara
FanfictionAdara Aleandra, remaja pembuat onar yang menikmati kehidupan dalam ruang lingkup pergaulan bebas, bernafas setiap detik dengan satu tekanan batin yang selama tujuh belas tahun terakhir ia sebut Jevan.
