Adara Aleandra, remaja pembuat onar yang menikmati kehidupan dalam ruang lingkup pergaulan bebas, bernafas setiap detik dengan satu tekanan batin yang selama tujuh belas tahun terakhir ia sebut Jevan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dara nggak boleh nakal, nanti gedenya nggak guna kayak abang.
- Jevan - • •
Sementara itu di sisi lain.
Jevan mengusap wajahnya dan menghela napas panjang, melihat kembali tampilan layar laptopnya di mana di sanalah tugas kampusnya tertera. Ia bingung dengan apa lagi yang harus ia ketik, ia sendiri bahkan tidak benar-benar paham dengan apa yang ia kerjakan.
Drrtt... Drrtt...
Jev langsung melirik ke arah ponselnya yang terletak tak jauh dari laptop, ia segera mengambil benda persegi tersebut dan melihat ada notif apa.
Ultah Dara 10 hari lagi
Ia hela napas lagi sesaat setelah selesai membaca notifikasi pengingat tersebut. Sebentar lagi adiknya berulang tahun yang ke delapan belas, dan Jev menyetel pengingat di ponselnya jauh-jauh hari sebelum hari H agar ia bisa mengumpulkan uang terlebih dulu untuk membeli kue ulang tahun. Jev berniat membelikannya kue sebagai perayaan kecil-kecilan. Dipikir-pikir, sudah bertahun-tahun lamanya Dara tidak pernah lagi merasakan suasana ulang tahun yang sebenarnya. Jangankan kue, ucapan saja boro-boro.
Jev hela napas dan mengusap wajahnya, ia lantas masa bodo soal tugas kampusnya yang ia sendiri pusing setengah mati mengerjakannya, ia lantas menutup laman tugas itu dan beralih pada menu dokumen di dalam laptopnya, lalu ia membuka sebuah file.
Photos.
Sekali klik, ribuan gambar langsung memanjakan mata Jev. Ada banyak sekali potret dari tanggal dan momen yang berbeda-beda di dalam sana. Ia lantas menggulir ke bagian paling bawah dan melihat-lihat foto di kala keluarganya masih utuh. Foto ayah dan bunda, foto dirinya dengan Dara, atau foto mereka bersama-sama. Jev kemudian meng-klik salah satu gambar di mana potret itu menunjukkan Dara dalam momen ulang tahunnya yang kelima belas. Gadis cantik nan manis itu duduk di atas sofa seorang diri dengan sebuah kue tart cokelat yang kedua tangannya pegang, dengan lilin angka lima belas yang menghiasi.
Jev diam-diam tersenyum sumir. Itu masih Dara yang ia kenal. Adik perempuan cantik yang sederhana, dengan sebuah kaos oblong cokelat yang warnanya sudah pudar karena kebanyakan dicuci dan celana hitam pendek dibawah lutut. Senyuman itu nampak begitu tulus, menyiratkan sebuah kebahagiaan dan rasa senang yang tidak ia ucapkan.
Sejenak, Jev membayang-bayangkan segala kejadian dalam keluarganya yang setahun belakangan ini terjadi. Momen di mana ketika bunda meninggal, ketika ayah menikah lagi, dan juga ketika Dara mulai liar. Ia terkadang menyayangkan dirinya sendiri yang dengan begitu bodoh membiarkan Dara sering keluar malam dan berujung pulang dalam keadaan mabuk. Ia begitu marah jika mendapati Dara dalam keadaan demikian, tapi ia juga tidak munafik, ia pun sama berengseknya. Bahkan mungkin lebih.
Hal yang umum jika laki-laki mabuk-mabukan, merokok, terjebak dunia malam atau lingkup kehidupan yang bebas tanpa batas. Ditambah lagi Jev ini seorang mahasiswa yang notabenenya kudu hatam sama hal begituan, dan jangan lupa kenyataan tentang keluarganya yang hancur lebur. Ah, hidupnya benar-benar lebih bebas daripada siapapun.