- dualapan -

79 6 0
                                        

"Udah?"

Dara mengangguk dan kemudian bangkit setelah selesai memakai sepatunya.

"Yaudah ayo."

Jevan bangun lebih dulu dan mengulurkan tangan guna digenggam oleh Dara, dan Dara menerima itu.

Hari sudah pagi, jam di dinding masjid sudah menunjukkan pukul setengah delapan, yang artinya mereka harus melanjutkan perjalanan.

"Kamu perutnya masih suka sakit nggak, Ra?" kata Jevan dalam perjalanan mereka menuju jalan raya.

"Enggak. Cuma sesekali doang."

"Nanti sama Jevian jaga diri baik-baik ya. Dia kan nggak tau soal itu, jangan dikasih tau juga, jadi kamu yang harus jaga diri kamu sendiri. Pantangan kamu masih banyak, jangan asal makan ya."

"Iya bang."

"Kamu laper nggak?"

"Enggak. Nanti aja makannya, paling di rumah bang Jevi juga banyak makanan. Irit irit lah bang, jangan beli mulu."

Jevan tersenyum kecil dan mengiyakan itu.

"Tuh angkot kuning!" Dara memekik ketika mereka baru sampai di pinggiran jalan raya dan dari jauh sudah nampak angkutan yang dari kemarin mereka cari-cari.

Jevan langsung menjulurkan tangan agar sopir angkot itu paham bahwa mereka ingin naik. Angkot tersebut kemudian menepi pada mereka, di dalam masih terlihat sepi hanya ada satu ibu-ibu dengan tas isi sayur-sayurannya, dan seorang wanita berkerudung.

"Mas, ini angkotnya lewatin Graha Lawang kan?" tanya Jevan sebelum naik.

"Oh iya toh, le. Arep neng kana? (Oh iya dong, nak. Mau ke sana?)," jawab si supir.

"Iya mas."

Jevan dan Dara kemudian naik ke dalam angkot tersebut dan duduk manis di dalam sana. Angkot kemudian mulai kembali berjalan, semetara Jevan memandangi Dara yang asik menatap keluar jendela. Rambutnya beterbangan kena angin pagi, wajahnya cerah kena sinar mentari. Dara tidak melihat balik, dan Jevan tersenyum pahit untuk dirinya sendiri.

Sebentar lagi dia akan sangat jauh dari kamu.

Ada suatu suara yang terus memekik seperti itu di pikiran Jevan. Ini sudah amat sangat jauh dari rumah dan Dara sama sekali tidak berubah pikiran untuk kembali pulang.

Jevan lantas tarik napas dan masih terus menatap Dara, karena ini adalah detik-detik terakhir ia bisa terus melihat adiknya dari dekat.

Memang sudah tidak bisa berubah. Dara memilih pergi dan Jevan harus menerima itu. Ia tidak mau lagi pulang dan tinggal dengan Jevan di Jakarta, Jevan juga harus menerima itu. Ia akan tinggal sebatang kara dengan segala kenangan dan kehidupan kelam, Jevan pun harus menerima itu.

Sejujurnya Jevan tidak sanggup. Sangat.

Membayangkan dirinya sendiri kembali dalam perjalanan menuju Jakarta, namun sendirian. Membayangi dirinya yang berjalan menapaki kawasan rumahnya, juga sendirian. Membayangkan bagaimana nanti perasaannya akan remuk ketika membuka pintu rumah, melihat seisi rumah yang masih sama, namun sepi dan sunyi. Membayangkan bagaimana nanti ketika dia bangun pagi, maka tak ada siapapun lagi yang harus ia bangunkan atau setidaknya berdebat hanya untuk sarapan. Membayangkan ketika nanti ia harus mengurus segalanya sendirian. Memabayangkan bagaimana nanti ia pulang dari lelahnya kuliah dan kerja serabutan tanpa melihat Dara terlelap di kamarnya.

Baru dibayangkan saja, sudah terasa begitu lelah.

Jevan akui hidupnya susah, ia terkadang kewalahan dengan segala kegiatannya sendiri. Kuliah, kerja, kuliah, dan kerja lagi. Tapi setidaknya ia tidak pernah merasa sebegini gelisahnya, karena sebelum ini ia sadar, sekalipun ia pulang ke rumah dalam keadaan berdarah-darah, maka ada Dara yang tetap menemaninya. Setidaknya ia tidak sendirian. Meskipun bersama Dara kerjaannya hanya ribut, tetapi ia jadi punya alasan untuk pulang setiap harinya.

Jevandara Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang