- duatujuh -

74 6 0
                                        

Abang nggak pernah sadar seberapa pentingnya mengeluh, sampai kamu berjalan pergi ketika abang butuh itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Abang nggak pernah sadar seberapa pentingnya mengeluh, sampai kamu berjalan pergi ketika abang butuh itu.

- Jevan -

"Ra... justru karena kamu abang kerja keras."

Detik itu juga bulir air mata Dara langsung turun perlahan-lahan, sementara tepat di hadapan matanya, wajah Jevan justru tersenyum hangat.

"Malah nangis, jangan cengeng. Udah gede," kata Jevan, lalu menghapus air mata adiknya.

Dara tarik napas panjang dan menghapus air matanya sendiri, ia kemudian menatap ke arah depan lagi, tak sanggup terus menerus melihat ke arah mata itu.

"Abang tau nggak?" kata Dara kembali memulai.

"Apa?"

"Dara sebenernya nggak ada niat buat jadi bandel. Bahkan kalo boleh jujur, Dara sebenernya takut bang sama pergaulan bebas kayak gitu. Dara nggak berani ada di kumpulan orang-orang begitu. Dara juga sebenernya takut keluar malem sama cowo, pake baju-baju pendek, mabok-mabokan, Dara takut tau bang."

Jevan mengernyit. "Terus kenapa selama ini dilakuin?" tanyanya. "Pasti dipaksa temen-temen kamu ya?"

Dara menggeleng, lalu kembali menatap Jevan. "Itu semua Dara lakuin biar abang berhenti ngelakuin. Waktu Dara masih nggak macem-macem, abang malah makin jadi, makanya Dara ikutin apa yang abang lakuin, biar abang tuh ngerti..." Dara ambil jeda, lalu tangisnya menderas. "Itu semua hal yang salah."

Jevan diam.

"Maaf kalo sikap Dara makin liar, omongan juga nggak dijaga, tapi itu semua sengaja Dara lakuin biar abang tau rasanya gimana ngadepin orang yang semakin keras."

Mata Jevan berkaca-kaca, jadi ini yang selama ini adiknya rasakan. Dirinya yang keras ini ternyata sudah menghancurkan Dara sejak lama.

"Dara paham abang capek, tapi bukan berarti pergaulan bebas jalan keluarnya bang. Dara juga paham kalo cowok emang bakalan ngerokok atau mabok-mabokan, tapi abang kelewatan."

"Ra..."

"Abang emang kasar ke Dara, tapi abang selalu mentingin Dara diatas apapun, sampe diri abang sendiri nggak dipikirin, malah makin diancurin. Abang nggak jahat sama Dara, tapi abang jahat sama diri sendiri."

Napas Dara mulai terisak. "Abang tolong berhenti macem-macem. Jaga diri baik-baik, makan yang bener, jalan-jalan atau foya-foya sesekali kalo perlu. Jangan kerja terus, uang yang disisihin buat diri sendiri jangan malah buat beli rokok sama miras doang," pinta Dara. "Abang penting buat Dara, kalo abang nggak sehat, Dara nggak seneng."

Jevan diam, ia mengalihkan pandangannya karena air matanya mulai turun. Dan ia tidak mau Dara melihatnya menangis.

"Abis ini abang cuma perlu pikirin diri sendiri. Kerja secukupnya aja bang, uangnya buat kebutuhan sendiri. Uang-uang yang abang tabung buat keperluan Dara bisa abang pake buat beli makanan enak atau baju baru. Apa aja boleh, asal jangan rokok sama miras bang."

Jevan masih diam. Ia tidak menyangka bahwa dalam ketusnya sang adik, ada perhatian yang ia simpan. Detik ini Jevan sadar bahwa dia tidak menyayangi sendirian. Dara juga ternyata menyayangi dirinya sebegitu besar. Dara mungkin tidak bekerja keras untuk Jevan, tapi mengorbankan diri terjun ke dalam pergaulan bebas demi menunjukkan pada Jevan bahwa itu adalah hal yang salah merupakan suatu nilai yang amat sangat besar bagi Jevan sendiri.

Ya Tuhan, ternyata adiknya berkorban sejauh ini.

Lo kerja serabutan capek capek sampe mau mampus ngga sebanding sama hidup adek lo yang udah ancur berantakan goblok. Jevan tolol.

Jevan merutuki dirinya sendiri dalam hati. Memaki-maki dirinya tanpa ada siapapun yang bisa dengar.

"Dara begitu biar seenggaknya abang jadi lebih perhatian sama pergaulan Dara. Berhenti keluyuran dan jagain Dara di rumah bang. Dara kesepian tiap kali abang pergi, sekalinya abang pulang Dara udah tidur. Dara sebenernya mau ngabisin waktu banyak sama abang, tapi abang selalu sibuk. Dan bodohnya, abang sibuk sampe setiap hari kecapean begitu karena Dara," Dara hela napas. "Padahal Dara nggak pa-pa kalo harus putus sekolah karena nggak bisa bayar, Dara mungkin bakalan cari kerja, bantu abang cari uang. Tapi apa yang abang lakuin? Abang maksain diri sendiri buat nanggung semuanya. Abang kasih yang terbaik buat Dara setiap hari, tapi apa yang abang kasih buat diri abang sendiri? Nggak ada bang. Cuma rasa sakit sama capek doang yang abang hadiahin ke diri sendiri tiap harinya."

"Raa, itu tugas abang. Kamu jangan salahin diri sendiri."

Dara hela napas. "Yaudah," katanya. "Yang jelas abis ini abang jangan kayak gitu lagi. Boleh kerja keras, tapi inget istirahat ya bang. Inget pulang. Inget makan."

Jevan tersenyum pahit, ternyata selama ini mereka satu sama lain sama-sama berkorban dalam diam.

Jevan tarik napas panjang. "Dara juga ya. Jevian kan orang sibuk, kalo dia lupa ingetin Dara makan, jangan lupa makan."

"Iya."

Hening selama beberapa saat. Keduanya sama-sama diam, yang jadi suara di sekitar hanya jangkrik dan rintikan hujan serta angin malam. Keduanya juga tak menatap satu sama lain, masing-masing tenggelam dalam pikiran larut mereka sendiri.

"Dara ngantuk," ucap Dara setelah sekian lama terdiam.

"Sana tidur lagi di dalem."

Dara menggeleng. "Nggak mau. Mau di sini aja sama abang."

"Di sini dingin Ra."

"Biarin."

Dan kemudian Dara malah merebahkan tubuhnya dengan kepala yang ia letakkan di paha Jevan. Jevan sendiri kemudian menerima itu, ia lantas mengelus-elus puncak kepala adiknya yang rambutnya sangat halus.

"Bang."

Dara kemudian memanggil tanpa alasan. "Hm?" jawab Jevan.

Ia kemudian diam lagi, lalu beberapa waktu setelahnya kembali berucap.

"Maafin Dara ya bang."

Tepat detik itu juga air mata Jevan turun tanpa permisi. Dara tidak lihat, ia merebahkan kepalanya di paha Jevan dan kini terlelap. Jevan buru-buru menghapus air matanya tapi bulir yang baru justru turun lagi.

Ia memandang adiknya yang kini terlelap, mengelus puncak kepala itu lebih halus, dan kemudian tersenyum kecil.

Bocah kecil yang lugu dan manja ini sekarang sudah besar dan banyak berkorban.

Jevan kemudian menyandarkan kepalanya ke dinding masjid lagi dan tarik napas panjang guna melepas segala bebannya. Berpikir segala sesuatu baik yang akan terjadi bagi adiknya. Semoga saja sama Jevian nanti dia jadi gadis baik-baik. Semoga sama Jevian nanti dia dirawat dengan baik. Semoga sama Jevian nanti dia selalu dikasih makanan enak dan fasilitas hidup yang nyaman.

Segala doa dan harapan yang Jevan sendiri tidak mampu memberikan.

Tolong jaga Dara baik-baik...

[ j e v a n d a r a ]

Jevandara Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang