Dihari Pesta

728 27 0
                                        

Flash Back....

Hari saat pesta perayaan kelas berlangsung.

Aku mengejar Gavin yang berlari menuju ke tempat sepi, jauh dari hiru pikuk teman-teman lainnya yang sedang menikmati  masa SMA mereka. Gavin terlihat pucat, setelah melihat layar handphone beberapa saat lalu.

Aku mengamatinya dari jauh, saat dia terduduk disebuah bangku menghadap tembok berlumut, dia tertunduk lesu. Aku memberanikan diri untuk berjalan mendekat.

"Vin" ucapku saat berada di depannya, dia menengok keatas lalu dengan cepat menghapus sisa air mata.

"Le, kenapa" ucapnya seolah tak terjadi apapun, aku duduk disampingnya.

"Lo, yang kenapa Vin, kenapa pucat banget" kataku. Aku tidak bermaksud apapun terhadap Gavin, dia sahabat cowok yang paling dekat denganku dan Sean. Bahkan aku sudah menganggap Gavin seperti kakak sendiri, perhatian dia begitu berbeda bagiku. Meskipun Gavin memiliki pergaulan yang cukup bebas, tetapi di mataku dia tetaplah orang baik. Gavin juga sahabat Sean sejak SD, dia lucu, selalu saja memiliki humor receh, sudah sering kami berlibur bersama, masa SMA ku cukup indah bila mengingat keberadaan mereka berdua sejak duduk dibangku pertama.

"Enggak papa" kata Gavin.

"Jangan bohong Vin, gue tau banget lo siapa" aku menjaga jarak dengannya, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

"Nggak..nggak" dia menggeleng-gelengkan kepala, bersikeras tak terjadi apapun.

"Vin, lo percaya sama gue" dengan berani kupegang bahunya, menenangkan lelaki itu.

"Le, kenapa hidup gue begini, masa depan gue hancur!!!" dia marah, di matanya nampak dunia dia telah hancur.

"Kenapa, cerita Vin ke gue" aku cukup panik melihat tingkahnya yang berbeda dari biasa.

"Lea" dia menyodorkan handphone, yang berisi hasil laboratorium di sebuah rumah sakit, "Gue harus gimana Le?".

Untuk sesaat kami terdiam membisu, hanya terdengar suara pesta yang semakin meriah. Namun, antara aku dan Gavin sama-sama tak berkutik. Aku juga bingung harus bagaimana, pikiran ku begitu kalut membaca keterangan hasil uji lab yang ada pada layar Gavin.

"Lea, lo harus percaya sama gue" ucap Gavin sambil menarik tanganku.

"Vin.."

"Le, gue bener-bener nyesel, gue nggak pernah lakuin hubungan sex sama siapapun" ucap Gavin begitu pilu, nafasnya memburu ketakutan. Aku hanya terdiam, takut ucapanku akan menyakitinya.

"Gue harus gimana Le...". Gavin melepaskan genggamannya, dia tertunduk lesu mengacak-acak rambutnya.

"Vin" aku meraih bahunya.

"Okey, gue percaya sama lo, tapi lo harus jujur atas semuanya" kataku, Gavin menatap mataku begitu dalam hingga aku sendiripun tak sanggup untuk menatap matanya seolah dia sudah berakhir.

"Sekarang, lo cerita sama gue apa aja hal yang lo lakuin sampe kaya gini"

"Le, gue takut lo kecewa" ucap Gavin.

"No, I won't" aku kembali meyakinkannya dengan meraih tangannya.

"Gue juga nggak tau gimana awalnya, gue cuma ngrasa sering sakit kepala, lelah, tenggorokan gue sakit banget banget, gue coba cek dan hasilnya kayak gini, gue juga gatau kenapa Le...." Gavin begitu putus asa, diumur yang masih begitu muda dia harus menghadapi kenyataan bahwa dia terkena HIV.

"Kalau gue fikir lagi, apa ini" Gavin melepaskan genggaman ku membuka sedikit baju yang menutupi bahunya, disana nampak sebuah tato bergambar carnation dengan huruf A didaunnya, bagi Gavin A disana adalah Allea.

Dalam buku yang pernah kubaca, salah satu penyebab tertular HIV selain berhubungan sex dan makai narkoba adalah jarum suntik yang mungkin digunakan Gavin buat menggambar tubuhnya.

"Vin, sejak kapan?" aku mengamati gambar itu, mataku tertuju pada makna tato itu yang berati pure love.

"Sejak gue sadar" ucapnya tak yakin, aku menatap matanya yang menatapku begitu dalam.

"Gue sayang sama lo" refleks mendengar ucapan Gavin aku mundur sedikit menjauh darinya, terlihat Gavin begitu menyesal mengucapkan kalimat itu. Aku tau dia sedang tak lagi bercanda, kita bukan dalam situasi seperti itu.

"Vin, kita cari cara ya, gue tau masih belum ada obatnya, tapi kita bisa cari cara untuk lo tetap berjuang, lo masih punya gue" aku berusaha menguatkan Gavin sekaligus mengalihkan pembicaraan kami.

"Lea, percuma, sekarang lo bener-bener gak bisa gue milikin"

"Gavin, dengerin gue, lo masih punya gue dan Sean yang bakal temenin sampe lo sembuh" ucapku berusaha untuk menguatkan Gavin.

"Gue jauh lebih lama suka lo duluan daripada Sean, kenapa lo gak pernah sadar" Gavin menyadari atas kalimatku yang selalu mengalihkan dirinya, sehingga dia terus mengatakan hal yang seharusnya tidak kudengar.

"Gue mohon, gak tau berapa lama lagi gue bakalan bertahan Le, tapi setidaknya lo tau kalau perasaan gue dalem banget ke lo" Gavin meraih tangan ku kembali, mendekatkan tubuhnya.

"Gavin, gue gak mau nyakitin siapapun, lo gak harus milikin gue untuk tetap ada disamping gue Vin" kata ku semakin tak nyaman dengan perlakuan Gavin yang sudah diluar kendali.

" Lea maafin gue, gue emang brengsek suka sama pacar sahabat gue sendiri, tapi gue gak mau semakin nyesel sebelum gue mati, maaf" setelah kalimat itu berakhir, dengan cepat Gavin mendaratkan ciumannya di bibirku.

Sontak saja, aku berusaha mendorong tubuhnya untuk menjauh, tetapi genggaman Gavin jauh lebih kuat, tanpa kusadari air mataku terjatuh membasahi pipiku yang juga tersentuh oleh Gavin. Sehingga, dia melepaskanku dari pelukannya.

"Vin gue gak kecewa sama kejadian yang nimpa lo, tapi gue kecewa dengan ini, lo nyakitin perasaaan gue Vin" aku berlalu meninggalkan Gavin yang terdiam terpaku, dengan mata basahyang menunjukan dia begitu menyesal menyakitiku dengan menciumku paksa.

Tanpa kita sadari seorang wanita berdiri dibalik dinding, merekam adegan tanpa tahu yang sesungguhnya. Namun, disudut lain ada seorang lelaki yang dengan nafas memburu berusaha menahan amarahnya, lelaki itu Sean. 

EKSPETASITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang