CHAPTER 4

205 34 11
                                        

Para murid memasuki kelas masing masing untuk memulai pelajaran mereka. Hal serupa juga terjadi di kelas yang dihuni oleh Seya, Joy, Erin, dan Leo untuk satu tahun kedepan.

Di dalam kelas, para murid terlihat fokus akan pelajaran mereka. Mereka tampak sedang menganalisa lukisan, tentu saja lukisan karena mata pelajaran mereka sekarang yaitu Seni Budaya.

"Apakah di kelas ini ada yang berbakat dalam seni?" tanya sang guru.

"Seya jago banget tuh pak" teriak Joy.

"Apaan sih Joy? ngaco lo!" balas Seya kesal, namun tetap melanjutkan kalimatnya "Saya gak terlalu bisa pak, masih tahap belajar pak".

"Tidak apa-apa. Kita akan belajar bersama, tapi kalau kamu sudah bisa malah lebih bagus lagi" jelas sang guru dengan senyum hangat bak ayah ke anaknya.

Seya pun hanya mengangguk, dia tak tega untuk membantah perkataan sang guru. Bukannya Seya tidak bisa, akan tetapi dia selalu merasa kurang percaya diri akan bakatnya tersebut. Padahal teman-temannya yang lain tau kalau Seya mampu.

"Kalian lihat lukisan yang di dinding itu?" tanya sang guru sambil menunjuk salah satu lukisan yang tergantung apik di dinding kelas.

"Lihat pak" ucap anak kelas serentak dengan atensi mereka semua tertuju ke lukisan tersebut.

"Lukisan itu merupakan karya dari kakak kelas kalian, namanya Arion" jelas wali kelas mereka.

Lukisan yang sangat indah dengan ketulusan yang terasa di dalam setiap goresannya, membawa semua murid pada decak kagum yang luar biasa.

Seya yang sedari tadi melamun sambil memandang takjub lukisan tersebut akhirnya tersadar berkat sebuah suara yang membuyarkan lamunannya.

"Sey, lo juga sering lukis kan? lukisan lo gak kalah jauh kok dengan lukisan itu. Sebelas dua belas lah ya? Kayak tupai dan bunga teratai" sahut Joy.

"Kok perumpamaan lo gitu? Jauh banget kayak gue sama dia, gue disini dia jauh di pelukan orang lain" Bantah Seya yang berujung ngebaper.

"Ye baper nih bocah! Emang udah paling bener dah tupai sama bunga teratai. Kalau lo gak setuju, lo mau apa?"

"Tapi bukannya lebih nyambung kalau katak sama bunga teratai ya?"

"Dih bego, lo mau disamain sama katak? Katak yang lompat-lompat itu? Mending tupai lah kemana-mana, kan sama-sama lompat juga"

"Tapi tupai tuh bakal jatuh juga Joy, kayak pepatah yang berkata sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga. Lo mau gua tiba-tiba jatuh? Kan sakit, lecet dong gue, ntar gak ada yang suka lagi" jelas Seya dengan nada cemberut dimana bibirnya sedikit dimanyungkan.

"Kalau gue cuma taunya tupai gimana dong Sey? Lo kenal gue kan? Tau gue peringkat berapa kan?"

"Tau tapi yang oke dikit gitu kek? Misal kupu-kupu dengan bunga gitu?

"bunga dan Kumbang, selai dan roti" Terobos Erin tiba tiba.

"Romeo dan juliet" Sambung Joy,

"beberapa hal dalam hidup, memang ditakdirkan untuk selalu bersama" Lanjut Seya.

"sama halnya dengan dengerin lagu secara offline tanpa iklan dan tanpa batas di spoti–"

"Udah udah! ini kok malah ngiklan sih? Emang kalian di endorse?" Ucap Seya memotong perkataan Joy

"Yah namanya juga usaha, barangkali tiba-tiba ada yang nge-dm buat minta endorse gitu kan? hehehe" Jelas Joy.

"Lanjut tadi aja, tadi bahas apa ya? Lo ingat Joy? Tanya Seya yang mendapat gelengan dari Joy.

Sekedar RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang