CHAPTER 24

105 16 1
                                        

Berhari-hari dilalui Seya bersama sosok seniornya membuat hatinya kini tak karuan. Banyak perhatian yang didapatkannya dari Iyon. Mungkin setelah ditolak Sean kini ia menemukan tambatan barunya.

Bagaimana Seya tidak baper jika diperlakukan sangat manis oleh Iyon? Sebut saja saat mereka akan makan. Sebagai panitia, jadwal makan mereka tidak menentu dan akan makan saat ada waktu saja. Sebagai PJ kelompok yang sama, tak heran jika Seya dan Iyon sering makan bersama. Seya akan menyiapkan makanan Iyon dan mereka akan duduk berduaan dengan berbagai obrolan randomnya. Sederhana namun mampu membuat pertahanan runtuh.

Tidak hanya itu, waktu sesi jurit malam dilaksanakan Seya dan Iyon menjaga post yang sama. Seya yang orangnya memanglah penakut sudah menolak untuk ikut menjaga post dan ingin berada di garis finish saja menunggu peserta yang selesai. Namun berkat bujukan Iyon ia pun luluh.

Selama menuju ke pos masing-masing, Iyon tidak pernah melepaskan genggamannya pada Seya. Ia terus memastikan bahwa gadis itu tak merasa ketakutan.

Setelah beberapa menit sampai di post, Seya melihat semat-semat bergerak dan hal itu berhasil membuat Seya ketakutan. Iyon yang melihat hal itu tentu saja langsung membawa Seya kedalam pelukannya dan terus mengusap punggung Seya guna memenangkan gadis tersebut.

Pernah juga saat Iyon dan Seya menyusuri area perkemahan hingga ke tepian sungai. Mungkin karena Iyon yang tidak berhati-hati atau memang dia yang sedang sial hingga tergelincir dan tidak sengaja kakinya tergores batu yang runcing.

Melihat itu tentu saja membuat Seya panik. Ia sempat memejamkan matanya akibat banyaknya darah yang dikeluarkan kaki Iyon. Melihat Seya yang panik membuat Iyon menarik tubuh Seya mendekat lalu menutup mata Seya dengan telapak tangannya.

Aksi Iyon ini dimana dia masih memperdulikan Seya padahal dirinya sedang terluka tentu saja membuat Seya merasakan hal yang aneh di dadanya. Namun pikiran itu ia hilangkan karena kondisi Iyon yang sedang tidak baik-baik saja.

Merasa dirinya sudah tidak panik lagi, Seya melepaskan tangan Iyon yang menutup matanya. Seya langsung mendudukkan Iyon dan memberi pertolongan pertama yang bisa dilakukannya.

Untung saja dia pernah ikut PMR ketika SMP walaupun baru pertama kali ini dia mempraktekkannya secara langsung. Berbeda sekali saat hanya mempelajari teori dengan melakukannya langsung. Ternyata langsung mempraktekkannya membuat Seya ngeri dengan darah yang keluar dari luka itu.

Walau merasa ngeri Seya tetap menguatkan dirinya dan membantu Iyon menuju ke tenda kesehatan. Di sana Iyon langsung ditangani dengan masih ditemani oleh Seya. Setelah ditangani Iyon beristirahat sebentar.

Seya pun pamit keluar sebentar, selang beberapa menit dia kembali dengan membawa makanan untuk Iyon. Ia dengan telaten menyuapi Iyon, padahal kaki Iyon yang sakit bukan tangannya, namun Iyon mau-mau saja menerima suapan Seya. Seya memang menyuapi Iyon, namun mulutnya juga ikut bekerja keras mengomeli Iyon akan kecerobohannya di sungai tadi.

Melihat tingkah Seya ini membuat Iyon gemes sendiri. Bibir Seya yang sudah manyung layaknya bebek membuat Iyon mencubit pipinya gemas.

"Kok lucu banget sih. Pengen gue karungin deh Sey"

"Sakit kak, lepasin! Gak pernah ngerasain ya?" ucap Seya seraya mengulurkan tangannya itu mengucel dan mencubit gemes pipi seniornya itu.

Iyon yang merasa sakit dan tidak suka diperlakukan seperti ini ingin melepaskan diri. Namun belum juga berhasil melepaskan diri jantungnya seperti ingin lepas.

Mungkin karena dia tidak dalam kondisi yang prima karena kakinya sedang sakit, sehingga ketika dia menarik tangan Seya untuk lepas justru hal itu mengakibatkan Seya terjatuh. Posisi jatuh Seya yang ke depan akibat tarikan Iyon membuatnya menindih tubuh kekar Iyon.

Sekedar RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang